Posted on Tinggalkan komentar

Pujian kepada Allah Israel

”Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN!” Demikianlah Daud memulai Mazmur 33. Dia mengajak Israel untuk bersorak-sorai di dalam Allah. Dan ada beberapa alasan Daud dalam Mazmur ini.

Pertama, ”Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur” (Mzm. 33:1). Orang jujur patut memuji Allah. Dengan lain perkataan, pujian itu juga memperlihatkan kejujuran seseorang. Mengapa? Karena semua yang terjadi dalam diri kita sesungguhnya adalah anugerah Allah semata. Dan pujian menyatakan hal itu.

Kedua, ”Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan” (Mzm. 33:4). Alasan memuji Allah adalah karena segala perkataan-Nya itu dapat dipercaya. Itu berarti memuji Allah karena Dia memang tidak pernah ingkar janji. Kesetiaan Allah sesungguhnya juga modal utama kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Ketiga, ”Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada” (Mzm. 33:9). Kita memuji Allah karena dialah Pencipta segala sesuatu. Tak ada yang terjadi di luar sepengetahuan dan izin Allah. Itu berarti, pandemi Covid-19 ini pun tidak diluar izin dan kendali Allah.

Keempat, ”Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (Mzm. 33:18-19). Allah tidak pernah meninggalkan kita. Mata-Allah tertuju kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap kepada-Nya. Dengan kata lain, dalam keadaan apa pun kita adalah fokus anugerah Allah.

Kelima, Anda bisa menambahkan sendiri mengapa Anda mau memuliakan Allah. Terutama di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro 
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Diampuni Pelanggarannya

”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Demikianlah Daud memulai Nyanyian Pengajaran yang terekam dalam Mazmur 32.

Daud memang pernah mengalami apa artinya diampuni. Bayangkan jika Tuhan membuang Daud! Gelar Anak Daud untuk Yesus Orang Nazaret mungkin tak pernah ada. Namun, inilah Injil itu: Allah tidak membuang Daud.

Dosa Daud tidak kecil. Perzinaan dengan Betsyeba, membuat dia mengingini milik sesamanya, berdusta, membunuh, dan mencuri istri orang lain. Daud semestinya mati. Akan tetapi—inilah anugerah itu—dia hidup.

Sejatinya kehidupan Daud inilah yang memungkinkan kita berani mengakui dosa kita di hadapan Allah. Mengapa? Karena kita punya contohnya: Daud, leluhur Tuhan kita Yesus Kristus.

Akan tetapi, pengampunan dosa tidaklah terjadi secara otomatis. Pengampunan hanya dialamatkan kepada orang yang menyatakan kesalahannya kepada Allah. Daud mengakui: ”Selama aku tidak mengakui dosaku, aku merana karena mengaduh sepanjang hari” (Mzm. 32:3, BIMK).

Selama menyembunyikan dosanya—meski semuanya tampak baik-baik saja—toh Daud senantiasa gelisah. Ia takut ketahuan. Dan karena itu, ia berusaha menutupi kesalahannya. Caranya: dengan berbuat dosa lagi, dan lagi, dan lagi. Dosa pun makin beranak pinak.

Untuk menghentikan semuanya itu, Daud menetapkan hati: ”Lalu aku mengakui dosaku kepada-Mu, kesalahanku tak ada yang kusembunyikan. Aku memutuskan untuk mengakuinya kepada-Mu, dan Engkau mengampuni semua dosaku” (Mzm. 32:5, BIMK). Itulah yang dilakukan Daud. Ia tidak menyangkal ketika Nabi Natan menyatakan kesalahannya.

Namun demikian, pengampunan dosa tidak membuat kita steril dari kecenderungan berbuat dosa. Dan ketika ada godaan menerpa—juga dalam pandemi ini—kita bisa berkata dalam diri, ”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi.” Keinginan untuk tetap bahagia mungkin akan menolong kita untuk tidak menjatuhkan diri dalam pencobaan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kuatkanlah dan Teguhkanlah Hatimu

Daud mengakhiri Mazmur 31 dengan sebuah ajakan: ”Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!” Agaknya Daud paham bahwa dalam berharap pun orang-orang pilihan Allah bisa lemah dan goyah. Apalagi jika terlalu lama menantinya.

Itu jugalah pengalaman Daud. Dia mengakui pada ayat 23: ”Aku menyangka dalam kebingunganku: ’Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.’ Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong.”

Memang inilah pengalaman nyata manusia. Mungkin kita pun pernah merasakannya. Ketika menanti terlalu lama, kadang kita merasa Allah membiarkan kita tinggal merana, bahkan membuang. Padahal, sebagaimana pengakuan Daud, Allah mendengarkan seruan umat-Nya.

Di tengah pandemi Covid-19 mungkin ada di antara kita yang berada dalam fase—sekali lagi karena kebingungan—mempertanyakan kasih Allah. Yang sakit enggak sembuh-sembuh, yang sedang menanti hasil swab, yang kehilangan mata pencarian akibat pandemi ini.

Pada titik ini marilah kita berseru seperti Daud, ”Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia!” (Mzm. 31:6). Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ke dalam tangan-Mu kuserahkan diriku”.

Sejatinya diri kita seutuhnya memang milik Allah. Jika Allah memberikan hidup kepada kita hingga hari ini, Dia pasti memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Orang Jawa bilang, ana dina ana upa ’ada hari ada nasi’. Dalam perspektif kristiani: ada hari ada berkat Allah. Percayalah.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Mazmur bagi Tuhan

”Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!” (Mzm. 30:4). Demikianlah ajakan Daud kepada orang-orang yang merasa dikasihi Allah.

Harus diakui, kasih memang berkait dengan perasaan. Bukan seberapa banyak kita menerima kasih, tetapi apakah kita merasa dikasihi? Jika kita merasa dikasihi Allah, maka menyanyikan mazmur bagi-Nya merupakan tindakan wajar. Yang tak wajar, merasa dikasihi, namun enggan meresponsnya dalam syukur. Itu namanya enggak tahu diri.

Menarik pula diperhatikan, Daud mengajak umat menjadikan syukur sebagai persembahan. Di sini Allah memang tidak bicara soal harta. Persembahan tidak melulu soal uang. Kata dasar ”persembahan” adalah ”sembah”. Apalah artinya persembahan tanpa sikap hati menyembah? Karena itu, ucapan syukur pun sejatinya mesti tulus, tanpa basa-basi.

Daud punya alasan untuk itu. Dalam Mazmur 30:5 Daud menyatakan: ”Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.” Daud agaknya sengaja membandingkan antara kata ”sesaat” dan frasa ”seumur hidup”. Itu berarti jika dibandingkan dengan kemurahhatian Allah, maka kesengsaraan kita boleh dibilang tak berarti, hanya sebentar.

Dan semua penderitaan pasti akan berakhir. Meski sepanjang malam ada tangisan, waktu tetap bergulir dan akhirnya malam pun berganti pagi. Dengan kata lain, meminjam judul lagu Eros Jarot, badai pasti berlalu.

Karena itu, di tengah pandemi Covid-19, marilah kita bersyukur! Bersyukur bahwa kita masih diberi nafas hidup. Kehidupan, apa pun keadaannya, berarti masih ada kesempatan bagi kita untuk melakukan sesuatu.

Mungkin baik, sebagai ucapan syukur, kita berikhtiar dengan menyanyikan lagu ini: ”Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan b’ri. Hidup ini harus jadi berkat.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Berhiaskan Kekudusan

”Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!” Demikianlah Daud memulai Mazmur 29. Daud mengajak semua makhluk surgawi untuk hanya memuji dan memuliakan TUHAN. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Pujilah TUHAN, hai makhluk-makhluk surgawi, pujilah keagungan dan kuasa-Nya.”

Pujian mensyaratkan pengakuan bahwa Allah adalah pencipta dan yang lain adalah ciptaan-Nya. Pengakuan ini menjadi penting karena—mengutip Lord Acton—”kekuasaan cenderung menyimpang, dan kuasa mutlak pasti korup”. Makhluk surgawi pun tak steril dari kecenderungan ini. Karena itu, Daud mengajak mereka semua untuk memuji keagungan dan kuasa Allah.

Menarik disimak, keagungan dan kuasa Allah, dalam ayat-ayat berikutnya, diuraikan bak refrein—suara TUHAN penuh kekuatan, penuh semarak, mematahkan pohon, menyemburkan nyala api, membuat padang gurun gemetar. Dan karena itu—ini ajakan Daud kepada semua makhluk—”Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!” (Mzm. 29:2).

Berhiaskan kekudusan merupakan panggilan umat percaya. Mengapa? Karena kita milik Allah. Allah itu kudus, masak kita kagak? Lagipula, bukankah kita senang disebut anak Allah. Kalau Bapa kita kudus, dan kita tidak hidup kudus, lalu kita anak siapa?

Berkait kekudusan, mungkin lebih gampang dilakukan ketika kita bertemu banyak orang. Dan ketika tidak ada orang yang melihat, kadang kita merasa aman bertindak semaunya. Toh tidak ada orang yang melihat.

Nah, masa pandemi Covid-19—yang membuat kita di rumah saja—bisa menjadi ajang latihan yang baik untuk tetap mengupayakan kekudusan hidup—baik dalam kata, juga karya. Bagaimanapun, anggota keluarga kita semestinya menjadi orang-orang pertama yang merasakan status kita sebagai anak-anak Allah.

Sekali lagi, mari kita menghidupi panggilan kita, yaitu berhiaskan kekudusan!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ketika Tuhan Membisu

Bagaimana keadaan Anda saat ini? Bisa jadi Anda letih, juga jenuh, menantikan akhir pandemi Covid-19 ini. Rasa cemas pun mulai menghantui karena akibat pandemi sudah terasa hingga dapur. Terus sampai kapan?

Dalam Mazmur 28, Daud mengawali syairnya dengan: ”Kepada-Mu, ya TUHAN, gunung batuku, aku berseru, janganlah berdiam diri terhadap aku, sebab, jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur.”

Daud berharap Allah bertindak. Dia sadar jika Allah diam saja, maka hidupnya akan makin berantakan. Kata ”membisu” yang dipilih Daud memperlihatkan betapa dia merasa seperti solilokui (bicara kepada diri sendiri). Padahal sejatinya doa itu dialog, bukan monolog. Kata ”membisu” juga memperlihatkan bahwa Allah sepertinya tak lagi memedulikan Daud. Allah tak mau lagi campur tangan. Allah cuek. Dan ketika Allah cuek, Daud merasa seperti kehilangan nyawa.

Itu jugalah yang saya rasakan tiga minggu belakangan ini. Status ODP (Orang Dalam Pemantauan)—yang membuat diri harus isolasi mandiri—membuat waktu terasa begitu lambat. Terlebih sewaktu menunggu hasil swab. Meski mencoba tenang pun, benak disesaki dengan banyak pertanyaan, yang membuat diri malah makin capek.

Namun demikian, pada bagian kedua mazmur ini, dalam ayat 6 Daud berseru, ”Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.” Daud menyatakan bahwa meski Allah membisu, toh Dia masih mendengarkan suaranya. Membisu memang tidak berarti menutup telinga. Dan pada waktu-Nya—waktu Allah sendiri—Dia bertindak. Bagian manusia hanyalah percaya bahwa kasih Allah lebih besar dari apa pun, juga lebih besar pandemi ini.

Itu jugalah pengalaman saya selama 21 hari ini. Dan saya percaya, Anda pun akan mengalaminya. Ya, Allah lebih besar dari apa pun juga.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Terangku dan Keselamatanku

”TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” Demikianlah Daud memulai Mazmur 27. Nadanya retorik—pertanyaan yang tak butuh jawaban. Ya, siapa lagi yang harus ditakutkan jika Allah yang menjadi terang dan keselamatan kita? Dengan jitu Daud memandang Allah sebagai terang dan keselamatan.

Terang merupakan kebutuhan utama manusia. Manusia normal butuh terang untuk melihat. Dalam kegelapan, manusia serbagamang—dia tidak dapat melangkah dengan pasti. Tak hanya terang secara fisik, manusia pun butuh jiwa, hati, dan pikiran terang. Hanya dalam terang budilah kita mampu mengambil keputusan-keputusan penting. Mungkin inilah alasan Allah menciptakan terang sebagai awal dari semua ciptaan.

Menarik pula disimak, Yesus, Sang Anak Domba Paskah, pernah berkata, ”Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan” (Yoh. 8:12).

Tak hanya itu, manusia juga butuh keselamatan. Manusia rela antre di rumah sakit agar selamat. Ngomong-ngomong soal antre, berkait tes mandiri Covid-19 yang saya jalani sekitar dua minggu lalu, karena diberitahu seorang teman bahwa banyak yang mengantre, saya sengaja ke RS Persahabatan pukul 5.25.

Ternyata saya bukan orang pertama, sudah ada Abdul Muis. Selidik punya selidik, dia menginap di rumah sakit agar bisa mendapatkan nomor antrean pemeriksaan. Namun, akhirnya dia kecewa karena berdasarkan rontgen thorax dan darah dia dianggap baik-baik saja dan hanya diberi obat. ”Sebenarnya saya ingin diswab agar lebih pasti,” keluhnya kepada saya.

Sesungguhnya Abdul Muis hanya ingin mendapatkan kepastian akan kesehatan tubuhnya. Sebab dia telah ditolak dua rumah sakit. Kepastian itulah yang akan membuatnya merasa tenang. Memang ada kaitan antara keselamatan jasmani dan keselamatan rohani.

Nah, Daud memandang Allah sebagai terang dan keselamatan pribadinya. Di dalam Allah dia merasa memiliki terang dan keselamatan. Dan itulah yang membuat jiwanya merasa tenang. Bagaimana pula dengan kita di tengah pandemi Covid-19 ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Ujilah Aku

”Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.” Demikianlah percakapan pribadi antara Daud dan Allah, yang terekam dalam Mazmur 26. Awalnya saya tak begitu paham, mengapa Daud begitu percaya diri—terkesan sombong—meminta Allah untuk menguji, bahkan mencobai dirinya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Selidikilah aku, ya TUHAN, dan ujilah aku, periksalah keinginan dan pikiranku.”

Namun, jika kita mencoba memperhatikan alasan Daud, sesungguhnya apa yang dinyatakan Daud sungguh masuk akal. Perhatikan Mazmur 26:3: ”Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.” Itu berarti Daud telah terlebih dahulu hidup dalam kebenaran Allah.

Dan karena manusia itu lemah, Daud merasa perlu meminta Allah untuk memeriksa keinginan dan pikirannya. Daud tidak berpretensi bahwa pikiran dan keinginannya pasti selalu baik. Karena itulah, dia memohon kepada Allah untuk mengujinya. Pada titik ini sebenarnya Daud sedang mengembangkan budaya—yang bisa kita tiru juga dalam pandemi Covid-19—transparansi. Daud bersedia diaudit oleh Allah sendiri.

Hari ini kita merayakan Paskah. Jika Jumat Agung memperlihatkan kepada kita bahwa hidup kita sungguh berharga—begitu berharganya hingga Allah mau mati untuk kita; maka Paskah memperlihatkan bahwa kematian Allah itu sungguh ada faedahnya.

Kepada warga jemaat di Korintus, Paulus menulis: ”Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1Kor. 15:17). Kebangkitan Kristus semestinya membuat kita hidup dalam hidup yang baru.

Dengan kata lain, kita perlu terus memperbarui diri kita—menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Dan sebagai standarnya, kita pun berani memohon kepada Allah, ”Ujilah aku, ya Allah!” Selamat Paskah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Engkau Kunanti-nantikan

”Ya Allah, bebaskanlah orang Israel dari segala kesesakannya!” Demikianlah Daud mengakhiri Mazmur 25. Daud berharap Allah membebaskan Israel dari segala persoalan yang membelitnya. Hidup memang tak lepas dari persoalan—dari yang skalanya kecil hingga besar; mudah hingga sulit.

Menarik disimak bahwa Daud tidak memilah dan memilih persoalan, dia menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Alasannya adalah karena Israel milik Allah, yang telah diselamatkan Allah sendiri.

Berkait dengan pandemi Covid-19, layaklah kita berdoa seperti halnya Daud berdoa, ”Ya Allah, bebaskanlah dunia ini dari segala kesesakannya!” Mengapa dunia? Sebab kita percaya bahwa Allah begitu mengasihi dunia—yang telah Dia ciptakan sungguh amat baik ini.

Pandemi ini memang telah meluluhlantakkan dunia. Ini sungguh menyesakkan. Menyaksikan berita-berita yang beredar di media sosial mungkin malah membuat kita kecut sendiri. Dan akhirnya tak berani berharap.

Kalau sudah begini perlulah kita berikhtiar sebagaimana Daud dalam ayat 5: ”Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.”

Daud meminta Allah untuk membawanya dalam kebenaran Allah sendiri. Dan kebenaran itu: Allah adalah Penyelamat. Misi-Nya adalah menyelamatkan. Oleh karena itu, menanti-nantikan Dia adalah hal yang logis dan wajar.

Marilah di Sabtu Sunyi ini kita berdoa dan menanti-nantikan karya Allah. Boleh juga bersenandung bersama Vocal Group Yerikho, ”Nantikan Tuhan berkarya indah pada waktu-Nya.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Sang Empunya Bumi

Dalam Mazmur 24, Daud mengawali mazmurnya dengan pengakuan: ”TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Dalam pemahaman Daud segala yang di luar Allah adalah milik Allah. Sebab, Dialah yang menciptakannya.

Namun demikian, inilah Kisah Jumat Agung yang jatuh pada hari ini: ”Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16, TB-2). Kematian Yesus Orang Nazaret di atas kayu salib terjadi karena Allah tak ingin dunia binasa. Dia begitu mengasihi dunia.

Kasih adalah satu-satunya alasan Yesus Orang Nazaret itu mati. Dia mati agar kita hidup. Dia menanggung sengsara agar kita bebas dari sengsara kekal. Kematian-Nya menghidupkan Saudara dan saya. Oleh karena itu, hidup kita seharusnya memang bukan hidup yang biasa-biasa saja. Kita mesti hidup sebagai orang yang telah dihidupkan dalam kematian-Nya.

Dalam Mazmur 24:3-4, Daud bertanya, ”Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”; yang langsung dijawabnya: ”Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.” Ya, bersih tangan dan murni hati.

Agaknya hidup macam beginilah yang perlu kita kembangkan dalam keluarga di tengah pandemi Covid-19 ini. Meski tak ada anggota keluarga yang positif Covid-19, namun karena selama dua minggu bertemu 1×24 jam, bisa jadi timbul gesekan antaranggota keluarga—Suami-istri, orang tua-anak, adik-kakak. Pada titik ini bersih tangan dan murni hati bisa menjadi kunci jawabannya. Selamat Merayakan Jumat Agung!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan: