Posted on Tinggalkan komentar

Ketika Tuhan Membisu

Bagaimana keadaan Anda saat ini? Bisa jadi Anda letih, juga jenuh, menantikan akhir pandemi Covid-19 ini. Rasa cemas pun mulai menghantui karena akibat pandemi sudah terasa hingga dapur. Terus sampai kapan?

Dalam Mazmur 28, Daud mengawali syairnya dengan: ”Kepada-Mu, ya TUHAN, gunung batuku, aku berseru, janganlah berdiam diri terhadap aku, sebab, jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur.”

Daud berharap Allah bertindak. Dia sadar jika Allah diam saja, maka hidupnya akan makin berantakan. Kata ”membisu” yang dipilih Daud memperlihatkan betapa dia merasa seperti solilokui (bicara kepada diri sendiri). Padahal sejatinya doa itu dialog, bukan monolog. Kata ”membisu” juga memperlihatkan bahwa Allah sepertinya tak lagi memedulikan Daud. Allah tak mau lagi campur tangan. Allah cuek. Dan ketika Allah cuek, Daud merasa seperti kehilangan nyawa.

Itu jugalah yang saya rasakan tiga minggu belakangan ini. Status ODP (Orang Dalam Pemantauan)—yang membuat diri harus isolasi mandiri—membuat waktu terasa begitu lambat. Terlebih sewaktu menunggu hasil swab. Meski mencoba tenang pun, benak disesaki dengan banyak pertanyaan, yang membuat diri malah makin capek.

Namun demikian, pada bagian kedua mazmur ini, dalam ayat 6 Daud berseru, ”Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.” Daud menyatakan bahwa meski Allah membisu, toh Dia masih mendengarkan suaranya. Membisu memang tidak berarti menutup telinga. Dan pada waktu-Nya—waktu Allah sendiri—Dia bertindak. Bagian manusia hanyalah percaya bahwa kasih Allah lebih besar dari apa pun, juga lebih besar pandemi ini.

Itu jugalah pengalaman saya selama 21 hari ini. Dan saya percaya, Anda pun akan mengalaminya. Ya, Allah lebih besar dari apa pun juga.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:

Tinggalkan Balasan