Posted on Tinggalkan komentar

Berhiaskan Kekudusan

”Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!” Demikianlah Daud memulai Mazmur 29. Daud mengajak semua makhluk surgawi untuk hanya memuji dan memuliakan TUHAN. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Pujilah TUHAN, hai makhluk-makhluk surgawi, pujilah keagungan dan kuasa-Nya.”

Pujian mensyaratkan pengakuan bahwa Allah adalah pencipta dan yang lain adalah ciptaan-Nya. Pengakuan ini menjadi penting karena—mengutip Lord Acton—”kekuasaan cenderung menyimpang, dan kuasa mutlak pasti korup”. Makhluk surgawi pun tak steril dari kecenderungan ini. Karena itu, Daud mengajak mereka semua untuk memuji keagungan dan kuasa Allah.

Menarik disimak, keagungan dan kuasa Allah, dalam ayat-ayat berikutnya, diuraikan bak refrein—suara TUHAN penuh kekuatan, penuh semarak, mematahkan pohon, menyemburkan nyala api, membuat padang gurun gemetar. Dan karena itu—ini ajakan Daud kepada semua makhluk—”Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!” (Mzm. 29:2).

Berhiaskan kekudusan merupakan panggilan umat percaya. Mengapa? Karena kita milik Allah. Allah itu kudus, masak kita kagak? Lagipula, bukankah kita senang disebut anak Allah. Kalau Bapa kita kudus, dan kita tidak hidup kudus, lalu kita anak siapa?

Berkait kekudusan, mungkin lebih gampang dilakukan ketika kita bertemu banyak orang. Dan ketika tidak ada orang yang melihat, kadang kita merasa aman bertindak semaunya. Toh tidak ada orang yang melihat.

Nah, masa pandemi Covid-19—yang membuat kita di rumah saja—bisa menjadi ajang latihan yang baik untuk tetap mengupayakan kekudusan hidup—baik dalam kata, juga karya. Bagaimanapun, anggota keluarga kita semestinya menjadi orang-orang pertama yang merasakan status kita sebagai anak-anak Allah.

Sekali lagi, mari kita menghidupi panggilan kita, yaitu berhiaskan kekudusan!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:

Tinggalkan Balasan