Posted on Tinggalkan komentar

Sang Empunya Bumi

Dalam Mazmur 24, Daud mengawali mazmurnya dengan pengakuan: ”TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Dalam pemahaman Daud segala yang di luar Allah adalah milik Allah. Sebab, Dialah yang menciptakannya.

Namun demikian, inilah Kisah Jumat Agung yang jatuh pada hari ini: ”Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16, TB-2). Kematian Yesus Orang Nazaret di atas kayu salib terjadi karena Allah tak ingin dunia binasa. Dia begitu mengasihi dunia.

Kasih adalah satu-satunya alasan Yesus Orang Nazaret itu mati. Dia mati agar kita hidup. Dia menanggung sengsara agar kita bebas dari sengsara kekal. Kematian-Nya menghidupkan Saudara dan saya. Oleh karena itu, hidup kita seharusnya memang bukan hidup yang biasa-biasa saja. Kita mesti hidup sebagai orang yang telah dihidupkan dalam kematian-Nya.

Dalam Mazmur 24:3-4, Daud bertanya, ”Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”; yang langsung dijawabnya: ”Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.” Ya, bersih tangan dan murni hati.

Agaknya hidup macam beginilah yang perlu kita kembangkan dalam keluarga di tengah pandemi Covid-19 ini. Meski tak ada anggota keluarga yang positif Covid-19, namun karena selama dua minggu bertemu 1×24 jam, bisa jadi timbul gesekan antaranggota keluarga—Suami-istri, orang tua-anak, adik-kakak. Pada titik ini bersih tangan dan murni hati bisa menjadi kunci jawabannya. Selamat Merayakan Jumat Agung!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:

Tinggalkan Balasan