Posted on Tinggalkan komentar

Segenap Hati

Daud mengawali Mazmur 128 dengan sebuah pernyataan: ”Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.” Mengapa Daud menggunakan frasa ”dengan segenap hati”? Mungkinkah memuji Allah tidak dengan segenap hati? Kelihatannya itu memang mungkin, bahkan sering terjadi.

Satu contoh yang diambil dalam hubungan antarmanusia. Ketika memuji orang lain, kadang kita perlu merasa memeriksa motivasi diri kita sendiri bukan? Apakah pujian itu tulus—sepi ing pamrih? Bukankah, kadang yang terjadi, dan kita mengakui dalam hati, kita memuji agar kita pada gilirannya mendapatkan pujian dari orang tersebut.

Lalu, bagaimana dengan pujian kepada Allah? Tentu saja, tak elok rasanya mengharapkan pujian dari Allah. Namun, kadang kita merasa, layaklah sekiranya Allah memberikan berkat-Nya kepada kita. Pada titik ini pujian kepada Allah tak lagi murni. Tak lagi segenap hati karena kita memang mengharapkan imbalan. Belum lagi, jika kita berharap adanya pujian manusia ketika mereka menyaksikan kita memuji Dia.

Tentu saja, tidak berarti kita tak perlu memuji Allah. Namun, kita perlu waspada. Caranya? Baiklah kita selalu ingat untuk memuji Allah dengan segenap hati. Jika kita merasa motivasi kita tak tulus-tulus amat, marilah kita meminta Allah untuk memurnikan hati kita!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pertumbuhan Iman

”Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: ’Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!’ Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing?”

Demikianlah penyair mengawali Mazmur 137. Memelihara iman memang bukan pekerjaan mudah. Dan memelihara iman sungguh teruji ketika seseorang dalam keadaan ekstrem. Itulah yang terjadi dalam diri orang-orang buangan. Di Babel mereka diminta untuk mengumandangkan nyanyian-nyanyian Sion.

Tak mudah memang. Akan tetapi, sejarah membuktikan bahwa umat Israel di Babel ternyata mampu mempertahankan imannya. Tak sedikit yang akhirnya pulang dan membangun Yerusalem kembali. Di negeri asing itu, sekali lagi, tak mudah memelihara iman. Bisa bertahan saja sungguh sesuatu yang patut disyukuri. Dan itulah yang dilakukan umat Israel dalam pembuangan.

Tentu, mereka berharap mukjizat Allah. Namun, mukjizat sebenarnya ialah kala mereka tetap bertahan dalam iman mereka. Pertumbuhan iman dalam situasi dan kondisi ekstrem merupakan mukjizat sebenarnya.

Pertanyaannya sekarang: Masih bertumbuhkah iman kita di tengah pandemi ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Andrew Seaman

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kasih-Nya Kekal Abadi

Pemazmur memulai Mazmur 136 dengan ajakan: ”Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Tiga ayat ini menarik disimak! Dengan sengaja, pemazmur mengajak umat untuk bersyukur kepada Yahwe, Allah, dan Tuhan. Yahwe adalah nama diri Allah Israel, yang telah menyelamatkan Israel dari perbudakan di Mesir. Dalam Alkitab nama diri itu dituliskan dengan TUHAN (huruf besar semua), sama dengan dalam Alkitab berbahasa Inggris LORD (huruf besar semua). Itu pun mengikuti cara orang Yahudi membaca dengan menyebut Adonay (Tuhan) ketika mereka sampai pada kata Yahwe saat mendaraskan Kitab Suci.

Pujian atau syukur kepada Yahwe dilanjutkan dengan Allah segala allah dan Tuhan segala Tuhan. Allah berkait dengan pengakuan bahwa Dia adalah Pencipta, dan semua di luar Dia adalah ciptaan. Penyebutan Allah di sini mengingatkan umat untuk mengingat Yahwe sebagai Pencipta. Sedangkan istilah Tuhan (huruf besar hanya T) memperlihatkan bahwa Yahwe adalah Tuan atas semua hamba-Nya. Dalam hal ini Israel adalah hamba Allah.

Mengakui Yahwe sebagai Allah dan Tuhan akan mengingatkan umat Israel bahwa mereka adalah ciptaan sekaligus hamba Yahwe. Dan karena itulah, pujian atau ucapan syukur merupakan keniscayaan.

Selanjutnya pujian atau nyanyian syukur itu ditujukan kepada Pribadi yang sama, dengan tambahan penjelasan apa yang telah Dia perbuat bagi Israel. Dan di setiap ajakan pujian itu, umat menyambut dengan kalimat yang sama bak refrein: ”Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Kasih-Nya kekal abadi.”

Sejatinya, itulah alasan mengapa umat Israel dipanggil untuk memuji Yahwe, yang merupakan Allah dan Tuhan bagi mereka. Kasih-Nya kekal abadi. Kasih-Nya tidak tergantung situasi dan kondisi zaman. Sekali lagi, kasih Yahwe itu kekal abadi. Itu jugakah yang kita imani hari ini di tengah pandemi?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Melinda Pack

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Kebaikan TUHAN

Dalam awal Mazmur 135, pemazmur berseru: ”Haleluya! Pujilah nama TUHAN, pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, hai orang-orang yang datang melayani di rumah TUHAN, di pelataran rumah Allah kita!” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Pujilah TUHAN! Pujilah nama TUHAN, hai kamu hamba-hamba-Nya yang berbakti di Rumah TUHAN di kediaman Allah kita.” Penyair mengajak umat yang berbakti di rumah TUHAN untuk memuji TUHAN.

Selanjutnya, pemazmur mengemukakan alasannya:”Pujilah TUHAN, sebab TUHAN itu baik, bermazmurlah bagi nama-Nya, sebab nama itu indah!” Kebaikan TUHAN—itulah alasan pemazmur memuji TUHAN.

Kebaikan TUHAN tampak—ini dijelaskan pemazmur pada ayat empat—ketika Dia memilih Israel menjadi milik kesayangan-Nya. Pemazmur memahami bahwa pemilihan itu berdasarkan anugerah Allah semata. Itulah kebaikan dalam kadar tertinggi. Bukan baik karena Israel layak dipilih, namun sebaliknya karena Israel tak layak dipilih. Satu-satunya alasan pemilihan itu adalah pada diri Allah sendiri.

Kebaikan TUHAN yang lainnya dijelaskan pemazmur pada ayat 14: ”TUHAN akan memberi keadilan kepada umat-Nya, dan akan sayang kepada hamba-hamba-Nya.” Memberikan keadilan adalah tindakan yang keluar dari sifat Allah yang adil. Dan memberikan keadilan merupakan bentuk konkret kasih-Nya kepada para hamba-Nya.

Pertanyannya sekarang: Apakah kita masih mengakui kebaikan TUHAN itu, juga di tengah pandemi ini?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Dino Reichmuth

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Doa Malam

Dalam Mazmur 134, penyair berseru: ”Mari, pujilah TUHAN, hai semua hamba TUHAN, yang datang melayani di rumah TUHAN pada waktu malam. Angkatlah tanganmu ke tempat kudus dan pujilah TUHAN! Kiranya TUHAN yang menjadikan langit dan bumi, memberkati engkau dari Sion.”

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Mari, pujilah TUHAN, hai semua hamba TUHAN, semua yang berbakti di Rumah-Nya pada waktu malam.” Dalam nyanyian ziarah ini jelaslah bahwa rumah Allah tak pernah sepi dari orang yang berbakti kepada Allah. Dan dalam dunia kuno orang biasanya mengangkat tangan sewaktu berdoa kepada dewa yang di atas. Ibadah atau doa malam menjadi kegiatan yang tepat sekaligus indah untuk menutup hari.

Dalam bukunya Hidup Bersama, Dietrich Bonhoeffer, mengingatkan pembacanya: ”Kapan kita dapat lebih merasakan kuasa dan karya Allah ketimbang pada jam di mana tangan kita tidak bekerja dan kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan? Kapan kita lebih siap untuk berdoa minta berkat, ketenteraman, dan pemeliharaan daripada waktu kegiatan kita sendiri berhenti? Ketika kita menjadi letih lesu, Allah melakukan pekerjaan.”

Masih menurut Bonhoeffer, doa malam menjadi sarana yang indah untuk secara khusus memohonkan pengampunan atas setiap kesalahan yang dilakukan kepada Allah dan sesama, juga kesediaan untuk memaafkan kesalahan yang dilalukan orang kepada kita. Pada titik ini menggemalah nasihat Paulus dalam Efesus 4:26: ”Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu.” Hanya dengan cara beginilah kita dapat pergi tidur dengan tenang.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Alangkah Baik dan Indahnya

”Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.” Demikianlah Daud memulai nyanyian ziarahnya, yang terekam dalam Mazmur 133. Tak hanya Daud, kita pun mengamini mazmur ini.

Ya, apa yang lebih baik dan enak dilihat ketimbang kenyataan bahwa manusia-manusia diam bersama dengan rukun. Kunci dari kalimat ini—apa yang disebut baik dan indah itu—terletak pada kata rukun.

Prinsip kerukunan, menurut Romo Magnis Suseno, bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis. Rukun berarti ”berada dalam keadaan selaras”, ”tenang dan tentram”, dan ”tanpa perselisihan dan pertentangan”. Agar rukun individu bersedia menomorduakan, bahkan kalau perlu, melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi demi kesepakatan bersama.

Kerukunan mengandaikan bahwa manusia memang berbeda. Karena berbeda, harmonisasi menjadi kebutuhan mutlak. Salah satu contoh klasik dalam budaya Jawa adalah gamelan. Meski masing-masing alat musik berbeda—rebab, bonang, kendang, seruling, gambang, gender, gong, saron, siter, ketuk, kenong, kempul—mereka menyatu dan memadu guna menghasilkan tembang yang selaras. Apakah yang lebih baik dan indah ketimbang kenyataan ini?

Alkitab bahasa Inggris NIV memakai istilah _unity_. _Unity_ tak sama dengan _uniform_. Kesatuan memang bukan keseragaman. Dan mustahil memang menyeragamkan manusia selaku individu-individu bebas. Kita pun punya peribahasa: rambut sama hitam hati masing-masing. Persoalannya: kadang orang berpikir, jika seseorang berbeda pendapat dengannya, maka orang tersebut pasti tidak menyukai dirinya.

Kesatuan yang dimaksud di sini memang bukan keseragaman pendapat. Orang bisa berbeda pandangan, tetapi tetap menghargai setiap pribadi. Bagaimanapun, menghargai pribadi sebagai pribadi yang unik merupakan penghargaan terhadap Sang Pencipta, yang telah menciptakan keunikan itu. Lagi pula, ada pepatah Latin: selera tak bisa diperdebatkan.

Kerukunan merupakan hal yang baik dan indah. Dan karenanya Daud membandingkannya dengan minyak yang dipakai saat penahbisan Harun sebagai imam besar. Sesuatu yang sangat berharga karena memang hanya satu-satunya! Bagaimanapun, tak pernah ada dua Harun bukan?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Becca Tapert

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Bersyafaat dalam Persekutuan

Di awal nyanyian ziarahnya, Mazmur 131, penyair menulis: ”Ingatlah, ya TUHAN, kepada Daud dan segala penderitaannya, bagaimana ia telah bersumpah kepada TUHAN, telah bernazar kepada Yang Mahakuat dari Yakub: ’Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku, sesungguhnya aku tidak akan membiarkan mataku tidur atau membiarkan kelopak mataku terlelap, sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub.’”

Pada titik ini penyair mengajak umat untuk bersyafaat bagi Daud dalam persekutuan. Bersyafaat merupakan panggilan umat Allah. Bersyafaat berarti menjadi jembatan antara Allah dan orang yang kita doakan. Itu jugalah hakikat persekutuan Kristen. Dengan kata lain, meski Daud merupakan pribadi dengan kualitas baik, dia tetap membutuhkan dukungan dari umat Allah.

Menurut Dietrich Bonhoeffer, dalam bukunya Hidup Bersama, seorang pendoa syafaat dalam persekutuan dipanggil untuk mengetahui kecemasan, kebutuhan, sukacita, dan ucapan syukur, permohonan, dan harapan dari yang didoakan. Dia harus peduli dengan pekerjaan dan tanggungan mereka. Dia berdoa sebagai saudara bagi saudaranya yang lain.

Sekali lagi, bersyafaat merupakan panggilan Kristen. Marilah kita melakukannya di tengah pandemi ini!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Andrei Stratu

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Setenang Bayi

Dalam nyanyian ziarahnya, Mazmur 131, Daud menulis: ”TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!”

Nyanyian ziarah ini cukup pendek. Cuma tiga ayat. Namun, Daud memperlihatkan hal yang penting dari iman. Pertama, iman itu—menggunakan frasa Paulus—”tidak memegahkan diri”. Bagaimana mungkin kita memegahkan diri di hadapan Allah kalau semua memang hanya anugerah? Bangga boleh, namun tidak perlu sombong.

Dan karena itulah, kedua, iman itu sederhana. Daud tidak mencoba untuk mengejar hal-hal yang terlalu besar atau yang terlalu sulit. Kadang memang di sini persoalannya, hal beriman sering dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa adikodrati. Semakin hebat mengalami sebuah peristiwa, dianggap makin beriman.

Daud mencoba menjelaskannya dengan kehidupan seorang bayi. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Sesungguhnya, hatiku tenang dan tentram; seperti bayi yang habis menyusu, berbaring tenang di pangkuan ibunya, setenang itulah hatiku.” Bayi begitu tenang karena dia percaya bahwa ibunya akan mencukupi kebutuhannya.

Ketenangan macam beginilah yang diperlukan setiap Kristen. Dan ketenangan macam begini jugalah yang membuat kita mampu berseru seperti Daud, ”Berharaplah kepada Allah dari sekarang sampai selama-lamanya.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Insung Yoon

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Pada-Mu Ada Pengampunan

Pemazmur memulai Mazmur 130, nyanyian ziarahnya, dengan seruan: ”Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.”

Pemazmur menyadari posisinya. Dia sedang berada di dalam jurang yang dalam. Dan keberadaan itu dipahaminya sedikit banyak karena kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Sehingga dia pun mengakui pada ayat 3-4: ”Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.”

Sesungguhnya manusia memang senantiasa bergumul dengan dosanya. Itu jugalah pengakuan Paulus dalam suratnya: ”Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Rm. 7:18-19).

Jelaslah, jika Allah mengingat dosa-dosa kita, siapakah manusia yang dapat tahan? Namun demikian, inilah penghiburan bagi semua manusia: di dalam Allah ada pengampunan. Dan pegampunanlah yang membuat manusia percaya diri untuk mengakui segala kesalahannya.

Kenyataannya memang demikian, lebih mudah bagi kita untuk meminta maaf kepada rekan kita kalau kita tahu dia mengasihi dan siap memaafkan kita. Allah jelas lebih mengasihi kita ketimbang manusia. Dan karena itu, bersama pemazmur kita—sebagaimana ayat 5-6 dalam Bahasa Indonesia Masa Kini—kita berseru, ”Aku menantikan bantuan TUHAN, janji-Nya kuharapkan. Aku merindukan TUHAN, lebih dari seorang peronda merindukan fajar.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Weston MacKinnon

Bagikan:
Posted on Tinggalkan komentar

Umat Pilihan

Mazmur 129 dimulai dengan keluhan: ”Mereka telah cukup menyesakkan aku sejak masa mudaku—biarlah Israel berkata demikian—mereka telah cukup menyesakkan aku sejak masa mudaku, tetapi mereka tidak dapat mengalahkan aku.”

Tampaknya nyanyian ziarah ini memperlihatkan bahwa ada bangsa yang memang tidak suka akan keberadaan Israel sebagai sebuah bangsa. Tentu bangsa pertama yang tidak menyukai Israel sebagai sebuah bangsa adalah Mesir. Karena takut bahwa suatu saat keturunan Israel itu akan memberontak, Firaun mengeluarkan maklumat untuk menjadikan bangsa yang diundang sebagai tamu itu sebagai budak.

Ketika Allah akhirnya melepaskan Israel dari belenggu penjajahan Mesir, maka keberadaan bangsa baru itu pun akhirnya menjadi ancaman bagi bangsa-bangsa lain. Namun demikian, sebagaimana nyanyian ziarah ini, Israel tetap teguh. Dan semuanya itu terjadi karena Allahlah yang terus menyelamatkan mereka. Mengapa? Karena mereka adalah umat pilihan Allah.

Hakikat sebagai umat pilihan Allah semestinya memang tidak membuat Israel tinggi hati. Sebab mereka pasti tahu bahwa hanya karena anugerahlah Allah memilih mereka. Dalam diri mereka sendiri tidak ada alasan yang cukup bagi Allah untuk mengistimewakan. Dan sayangnya itulah yang tidak dilakukan bangsa Israel. Israel dengan sengaja menganggap sepi anugerah Allah itu.

Nah, bagaimanakah dengan kita—Israel baru pada abad XXI ini? Penyelamatan yang telah kita terima dalam Yesus Kristus sejatinya hanya anugerah Allah. Karena itu, marilah kita terima penyelamatan itu penuh dengan syukur dengan cara hidup kudus sebagai umat Allah. Ini jugalah panggilan umat Allah di Indonesia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Lorenzo Maimone

Bagikan: