Posted on Tinggalkan komentar

Memperhatikan Perkataan

(Ams. 4:20-22)

”Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.”

Memperhatikan perkataan orang merupakan hal yang baik. Dengan begitu kita akan mendapatkan masukan dari perspektif yang lain. Masukan dari orang lain itu juga akan menolong kita menguji pendapat diri kita sendiri.

Jika masukannya memang senada, kita akan makin diteguhkan. Jika bertolak belakang, kita akan bisa menimbang kembali pendapat kita sendiri. Apa pun itu, baik yang senada maupun yang bertolak belakang, hanya kita tahu setelah kita mau menyendengkan telinga kita kepada ucapan orang tersebut. Kita tidak akan pernah sungguh-sungguh tahu pendapat orang lain sebelum kita mendengarkannya.

Mungkin persolannya memang di sini: kita kadang sudah apriori. Apalagi jika kita pernah punya pengalaman buruk dengan orang tersebut. Padahal setiap orang bisa berubah. Dan Allah, Sang Pencipta, memang ingin manusia selalu berubah ke arah yang lebih baik.

Jika memang demikian, maka memperhatikan perkataan orang lain memang sungguh menghidupkan, bahkan bisa menyembuhkan diri kita. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Paul Garaizar

Posted on Tinggalkan komentar

Jalan Orang Fasik dan Jalan Orang Benar

(Ams. 4:14-19)

Dalam ayat 14-15, penulis Kitab Amsal menegaskan: ”Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus.”

Hidup memang pilihan. Berkait dengan semua jalan, pilihan yang diberikan kepada kita hanya dua: jalani atau lupakan. Dan penulis mewanti-wanti pembacanya untuk tidak menaruh perhatian sedikit pun pada jalan orang fasik. Lupakan saja! Dan jalan terus.

Mengapa? Alasannya sungguh logis. Pada ayat 18-19 penulis menyatakan dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Jalan orang jahat gelap seperti kelamnya malam. Mereka tersandung dan jatuh tanpa mengetahuinya. Sebaliknya, jalan yang dilalui orang baik adalah seperti terbitnya matahari; makin lama makin terang, sampai akhirnya menjadi terang benderang.”

Dengan kata lain, ngapain capek-capek melalui jalan yang gelap. Dalam gelap manusia tidak dapat melihat apa-apa. Semua serbagelap. Manusia pun harus meraba-raba ketika melalui jalan itu. Dan risiko tersandung akan selalu ada. Sekali lagi karena semua serbatak pasti.

Namun, jalan orang benar itu seperti terbitnya matahari: makin lama makin terang. Semua serbapasti karena serbabenderang. Melalui jalan semacam ini energi kita tidak akan terkuras dan rasa was-was pun lenyap. Yang ada hanyalah damai sejahtera. Dan sejatinya jalan semacam ini memang menyehatkan batin. Ya, pilihlah jalan orang benar.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Bruno Nascimento

Posted on Tinggalkan komentar

Jalan Hikmat

(Ams. 4:10-13)

Dalam ayat 10-11, penulis Kitab Amsal mewanti-wanti: ”Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak. Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus.”

Menarik disimak bahwa pemazmur bicara soal umur panjang. Itu menjadi logis jika dikaitkan dengan ayat berikutnya: ”Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung.” Persoalan-persoalan hidup sering membuat orang merasa tertekan. Dan tekanan hidup yang tidak dikelola baik akan menyebabkan psikosomatis. Itulah sebabnya, banyak dokter menasihati pasiennya untuk tetap tenang dan jangan terlalu banyak pikiran.

Jalan hikmat akan membuat orang merasa tenang. Dia tidak merasa perlu menyembunyikan kesalahannya. Dan memang tidak ada yang perlu disembunyikan. Jika jalan hikmat itu terlihat sulit karena dosa membuat orang enggan menapakinya. Namun demikian, itulah jalan kehidupan.

Pada ayat 13, penulis menasihati: ”Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ingatlah selalu akan ajaran yang sudah kauterima daripadaku. Jagalah itu baik-baik, sebab dengan ajaran itu hidupmu akan berhasil.”

Berkait dengan keberhasilan, kadang manusia berpikir pendek: sehari, sebulan, setahun, atau sewindu; juga melihat keberhasilan dari kacamata manusia pada umumnya. Oleh karena itu, perlulah bagi kita untuk melihat keberhasilan itu dari perspektif kekekalan Allah—akhir dari semua hal. Yang hanya didapat ketika orang menapaki jalan hikmat.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Martino P.

Posted on Tinggalkan komentar

Belajar Kepemimpinan dalam Keluarga

(Ams. 4:1-9)

Dalam ayat 1, penulis Kitab Amsal menekankan: ”Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku.”

Penulis menegaskan bahwa mendengarkan seorang ayah merupakan sikap yang arif. Mengapa? Sebab ayah adalah pemimpin keluarga. Kepemimpinan itu didapatkannya dari Allah sendiri. Jadi, mendengarkan seorang ayah berarti mendengarkan seorang pemimpin. Ketika seorang anak mendengarkan didikan ayahnya, pada titik itu juga dia sedang belajar kepemimpinan.

Dalam kepemimpinan mendengarkan adalah kata kunci. Arahan sang pemimpin akan sungguh-sungguh dipahami dengan jelas selama para pengikutnya menyediakan dirinya untuk mendengarkan. Akan menjadi masalah tatkala para pengikut malah lebih suka mendengarkan suaranya sendiri.

Sekali lagi, seorang anak dapat belajar kepemimpinan mulai dari rumah. Ketika anak mampu mendengarkan didikan ayahnya, maka suatu saat kelak dia akan mampu mendengarkan suara dari pemimpinnya. Karena terlatih mendengarkan, ketika menjadi pemimpin pun dia masih mau mendengarkan orang-orang yang dipimpinnya. Dia menjadi pemimpin yang mendengarkan. Dia ditaati para pengikutnya karena telah terlebih dahulu mendengarkan mereka.

Mari kita mendengarkan ayah kita! Bisa jadi dia tak lagi bersama kita di dunia. Namun, kita tetap bisa mendengarkannya dengan cara memelihara semua nasihat yang pernah diberikannya.

Uniknya, Allah sendiri telah menyatakan diri-Nya sebagai Bapa kita. Karena itu, marilah kita juga mendengarkan Dia—Sang Pemimpin hidup kita!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jon Tyson

Posted on Tinggalkan komentar

Janganlah Iri Hati

(Ams. 3:31-35)

Dalam ayat 31-32, penulis Kitab Amsal memberikan nasihat: ”Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satu pun dari jalannya, karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.”

Sikap iri itu merusak hati. Dan ketika berbuah dalam tindakan menjadi sungguh berbahaya. Karena iri, seperempat penduduk ”dunia” Alkitab mati. Itulah yang dicatat dalam Kitab Kejadian ketika Kain membunuh Habel. Ya, rasa iri itu—dan Kain tidak berani berdebat dengan Allah berkait penerimaan persembahan—membuat Kain panas hati dan akhirnya menyudahi hidup adiknya.

Iri hati terhadap orang yang berbuat jahat pun sama berbahayanya. Setidaknya ada dua kemungkinan yang terjadi, tentu berpangkal dari rasa iri tadi. Pertama, kita menjadi marah kepada orang tersebut dan mengutuknya habis-habisan. Kita enggak rela melihat orang yang berbuat jahat terlihat bahagia, sedangkan kita ternyata enggak sebahagia dia. Rasa marah hanya akan menyakiti hati sendiri, bahkan mungkin kita menyalahkan Tuhan. Ini jelas merugikan.

Kedua, kita tergoda untuk melakukan kejahatan yang sama. Dan menganggapnya sebagai panggilan zaman. Toh, tidak akan terjadi apa-apa. Dan penulis Kitab Amsal buru-buru menyatakan bahwa tindakan itu hanya akan membuat kita menjauh dari Tuhan. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Sebab, TUHAN membenci orang yang berbuat jahat, tetapi Ia akrab dengan orang yang lurus hidupnya.”

Oleh karena itu, jangan iri!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jorge F.

Posted on Tinggalkan komentar

Kejahatan Berencana dan Tak Berencana

(Ams. 3:29-30)

”Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau.” Dalam ayat 29, penulis Kitab Amsal melarang pembacanya untuk membuat kejahatan berencana.

Menarik disimak, untuk kejahatan berencana, penulis menggunakan ungkapan ”sesamamu”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”sesama” berarti ”sama-sama (satu golongan)”. Itu berarti ”sesamamu” dapat diartikan sebagai ”sama-sama atau satu golongan dengan kita”. Karena sama dengan kita, aneh rasanya jika kita menjahati mereka.

Alasan lainnya adalah, karena mereka—dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera—”tinggal di dekatmu dan mempercayaimu. Kepercayaan menjadi alasan kuat bagi kita untuk tidak berbuat jahat. Hanya anehnya, kejahatan berencana biasanya dilakukan oleh orang-orang kepercayaan. Mereka menyalahgunakan kepercayaan. Pada titik ini tindakan korupsi juga merupakan kejahatan berencana karena menyalahgunakan kepercayaan orang lain.

Tak hanya kejahatan berencana, dalam ayat 30, penulis Kitab Amsal mewanti-wanti: ”Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Jangan bertengkar tanpa sebab dengan seseorang yang tak pernah berbuat jahat kepadamu.” Ini bisa dikategorikan kejahatan tak berencana.

Mengapa ada orang marah tanpa sebab? Kemungkinan besar karena orang itu tak mampu menguasai dirinya sendiri. Bisa saja dia kesal karena rencananya tak kesampaian. Dan dia—tentu karena tak mampu mengendalikan diri—akhirnya menumpahkan kekesalan kepada orang-orang yang ada di dekatnya. Jika orang yang berada di dekatnya tak siap hati, perang tanding pun tak terelakkan.

Pada titik ini nasihat Petrus kepada orang-orang Yahudi di perantauan layak diperhatikan: ”Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1Ptr. 4:7).

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Isai Ramos

Posted on Tinggalkan komentar

Menunda

(Ams. 3:28)

”Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: ’Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,’ sedangkan yang diminta ada padamu.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Janganlah menyuruh sesamamu menunggu sampai besok, kalau pada saat ini juga engkau dapat menolongnya.”

Penulis Kitab Amsal, sebagaimana ayat 27, menasihatkan pembacanya untuk tidak menunda untuk melakukan kebaikan. Mengapa? Pertama, Bisa jadi orang tersebut memang membutuhkannya saat itu juga. Ada unsur kemendesakkan di sini. Esok mungkin sudah terlambat.

Kedua, apakah memang itu merugikan kita? Jika tidak, mengapa kita harus menundanya? Bisa jadi kita berpikir untuk mengujinya. Jika memang demikian, pertanyaannya adalah mengapa pula kita harus mengujinya. Bagaimana perasaan orang tersebut jika tahu bahwa kita memang sedang mengujinya.

Ini memang bukan perkara gampang. Akan tetapi, semasa hidup, Sang Guru dari Nazaret, pernah berkata, ”Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu” (Yoh. 12:8). Karena itu, ketika ada orang datang meminta pertolongan—dan kebenaran kita memang mampu menolong—berikanlah itu. Jangan pernah menundanya!

Lagi pula, ketika seseorang meminta pertolongan kita, sejatinya dia percaya bahwa kita akan mau—dan mungkin mampu—menolongnya. Dengan kata lain, dia memercayai kita. Kalau memang enggak mampu, baiklah kita terus terang mengatakannya. Namun, jika kita mampu, lakukanlah itu dengan tulus!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Danial Ricaros

Posted on Tinggalkan komentar

Menahan Kebaikan

(Ams. 3:27)

”Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” Demikianlah nasihat penulis Kitab Amsal kepada pembacanya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Jika kau mempunyai kemampuan untuk berbuat baik kepada orang yang memerlukan kebaikanmu, janganlah menolak untuk melakukan hal itu.”

Dalam nasihat ini jelas, penulis bicara soal kemampuan dan kemauan. Dia menekankan pentingnya kemauan bagi yang mampu melakukan. Kemampuan itu sendiri merupakan berkat. Tak semua orang mampu melakukan. Nah, ketika kita memang mampu, mengapa pula tidak melakukannya?

Persoalannya sering memang di sini. Kadang kita berkhayal bahwa kita akan melakukan kebaikan seandainya mampu. Hanya masalahnya, saat mampu kita malah lupa melakukannya. Padahal, sekali lagi, kemampuan itu adalah berkat dari Allah sendiri. Sehingga ketika tidak melakukannya, kita mungkin perlu bertanya lagi mengapa Allah mengizinkan kita mempunyai kemampuan itu.

Sekali lagi, persoalannya sering memang di sini. Ketika kita mampu, kemauan itu mendadak sirna. Mungkin ini juga alasannya, penulis Kitab Amsal mencantumkan perintah ini: ”janganlah menahan kebaikan!”

Kelihatannya kebaikan memang sesuatu yang otomatis mengalir, seperi air yang selalu mencari tempat rendah, dan mustahil ditahan. Dan kebaikan itu sesungguhnya memang dari Allah asalnya. Sehingga, aneh rasanya jika kita malah menahannya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: I Hassan

Posted on Tinggalkan komentar

Ketenangan

(Ams. 3:24-26)

Dalam ayat 24, penulis Kitab Amsal mengingatkan salah satu kegunaan hikmat: ”Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak.” Menurut penulis, salah satu tanda orang berhikmat adalah dia tidak gelisah. Tidurnya pun nyenyak.

Tidur nyenyak sejatinya memang anugerah. Namun, ketika beranjak tidur dalam keadaan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, pikiran dan hati enggan diajak istirahat. Yang mengakibatkan diri sering terbangun. Bahkan, suara perlahan saja bisa menyebabkan kita bangun dari tidur.

Lalu, bagaimana hikmat bisa membuat kita tidur nyenyak? Pertama, dengan hikmat, baiklah kita mengatur waktu kerja kita begitu rupa sehingga tak ada lagi utang kerja. Tentu kita juga harus memperhitungkan kapasitas diri—waktu, tenaga, pikiran, juga hati. Ini pun juga butuh hikmat. Lebih dari kapasitas diri akan membuat kita tambah stres.

Kedua, dalam ayat 25-26 penulis Kitab Amsal menasihati: ”Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang. Karena TUHANlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.”

Penulis menyatakan bahwa Allah bersedia menjadi sandaran. Itu berarti, ketenangan bukan karena mengandalkan diri sendiri, tetapi kita tahu ada Allah yang bersedia menjadi penopang.

Rasa takut biasa muncul ketika menyadari betapa rapuhnya kemanusiaan kita. Namun, perlahan rasa itu memudar, digantikan ketenangan, kala menyadari bahwa Allah yang Mahakuasa bersedia menjadi sandaran kita. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Alisa Anton

Posted on Tinggalkan komentar

Memelihara Hikmat

(Ams. 3:21-23)

”Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk.”

Penulis menasihati pembacanya untuk mau memelihara hikmat. Sebagaimana pisau harus diasah, hikmat perlu dipelihara… perlu dihidupi. Sebab itulah yang menghidupkan manusia. Bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah belajar. Belajar dari siapa, bahkan dari apa saja. Belajar akan menolong hikmat manusia bertumbuh.

Hikmat yang matang akan memampukan manusia untuk memilah, dan akhirnya, memilih. Pilihan itu tentu saja bukan tanpa risiko. Akan tetapi, hikmat yang matang menolong manusia memahami risiko-risikonya, dan akhirnya memperlengkapi diri untuk meminimalkan, atau mengantisipasi risiko jika memang muncul. Itu jugalah yang akan menjaga manusia agar tidak tersandung.

Memelihara hikmat juga merupakan panggilan kita, orang percaya pada abad XXI ini. Terlebih saat belajar menyesuaikan diri kala hidup dalam kenormalan baru.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Nicolas J