Posted on Tinggalkan komentar

Rahmat Allah dan Keinginan Luhur Manusia

Berkenaan dengan HUT ke-73 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mari kita menyimak alinea ketiga Pembukaan UUD 1945: ”Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

Para pendiri bangsa percaya bahwa Indonesia berdiri di atas dasar: rahmat Allah dan keinginan luhur.

Memang itulah kenyataannya. Situasi global masa itu—yang menyebabkan kekosongan pemerintahan akibat kekalahan Jepang—memberikan peluang bagi para pendiri bangsa untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Situasi global itu dipahami sebagai rahmat Allah. Bagaimanapun, sebelum kekalahan Jepang, merdeka seperti jauh panggang dari api.

Namun, rahmat Allah tak akan ada artinya tanpa keinginan luhur manusia. Keinginan luhur itulah yang menyebabkan Bung Karno dan Bung Hatta mau berkompromi dengan para pemuda yang sempat menculik mereka ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi.

Keinginan luhur itu pulalah yang menyebabkan Dwitunggal Proklamator itu bersedia mengambil risiko menandatangani naskah proklamasi. Mereka berdua memiliki keinginan luhur yang jauh melampaui keinginan SARA.

Keinginan luhur semacam itu—kalau kita mau jujur mengaku—sejatinya merupakan anugerah Allah sendiri. Dan tentu saja keinginan macam beginilah yang akan dirahmati Allah.

Jika keadaan negeri kita kini tampaknya enggan berubah, mungkin dikarenakan masih banyak orang berpikir untuk kepentingannya atau golongannya sendiri.

Dan perubahan akan terjadi jika semakin banyak orang berupaya mengubah fokus dari diri sendiri kepada orang lain. Tak hanya di republik tercinta, tetapi juga di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tola: Si Cacing Tanah

”Sesudah Abimelekh, bangkitlah Tola bin Pua bin Dodo, seorang Isakhar, untuk menyelamatkan orang Israel. Ia diam di Samir, di pegunungan Efraim dan ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh tiga tahun lamanya; kemudian matilah ia, lalu dikuburkan di Samir” (Hak. 10:1-2).

Photo by rawpixel on Unsplash

Mengenai Tola, tak banyak yang diceritakan penulis Kitab Hakim-hakim. Begitu singkat: hanya dua ayat. Namun, tugasnya tak bisa dibilang mudah. Dia berada dalam situasi krisis dari peralihan kekuasaan.

Abimelekh, anak Gideon, dari seorang gundik, telah mengangkat diri sendiri menjadi raja di Sikhem. Dia mengumpulkan para kriminalis dan membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, 70 orang, di atas batu di Ofra (Hak. 9:4-5). Dengan tangan besi dia memerintah selama tiga tahun dan banyak membunuh rakyatnya sendiri. Akhirnya rakyat Sikhem memberontak dan Abimelekh tewas. Allah kemudian menunjuk Tola sebagai hakim yang memerintah Israel selama 23 tahun.

Keterangan singkat tentang Tola sepertinya menyiratkan gaya kepemimpinannya. Dalam bahasa Ibrani, Tola berarti cacing. Cacing dianggap hina karena bentuknya. Akan tetapi, dalam dunia pertanian, cacing berguna dalam meningkatkan kesuburan tanah. Dan kerjanya pun diam-diam, yakni di dalam tanah.

Tola tidak sepongah, seambisius, dan semiliteristik Abimelekh, tetapi dia mengemban tugas kepemimpinan dengan baik. Tak banyak yang dicatat tentang Tola—bisa jadi tak banyak hal heroik dalam kiprahnya sebagai pemimpin. Atau bisa jadi dia juga tak mau mengiklankan dirinya. Namun demikian, Alkitab mencatat bahwa dia setia menjalankan tugasnya hingga purna—sampai mati.

Kesetiaan terhadap panggilan bukan perkara mudah. Ada rupa-rupa godaan yang bisa membuat manusia pindah haluan, atau tetap dalam panggilan, tetapi dalam kadar yang berbeda. Pada titik ini kita agaknya perlu belajar dari Tola.

Selamat Bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Gembalakanlah Domba-domba-Ku

”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh. 21:15). Demikianlah sapaan Yesus yang bangkit kepada murid yang pernah menyangkal-Nya.

Photo by Biegun Wschodni on Unsplash

Pertanyaan itu menukik tajam, tepat sasaran, tanpa basa-basi. Yesus mempersoalkan makna terdalam sebuah hubungan: kasih. Jawaban Sang Murid sungguh radikal: ”Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:15).

Petrus merasa tak cukup hanya menjawab: ”Benar Tuhan.” Tidak. Dia mendasarkan jawabannya pada kemahatahuan Yesus. Dasar jawabannya tidak terletak pada ke-aku-an, tetapi pada diri Yesus sendiri. Dasar jawaban Petrus tidak terletak pada kemauan, bukan pula pada kemampuan diri, melainkan pada ketuhanan Yesus.

Bahkan ketika Sang Guru merasa perlu tiga kali mempertanyakan kasihnya, Petrus tetap pada jawabannya, sekali lagi berdasarkan kemahatahuan Yesus: ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:17).

Menurut Henri J. M. Nouwen, dalam bukunya Dalam Nama Yesus, Permenungan Tentang Kepemimpinan Kristiani, ”Pemimpin Gereja tak cukup hanya bermoral tinggi, terlatih, siap membantu sesama dan mampu menanggapi masalah-masalah hangat pada zamannya secara kreatif. Di atas semuanya itu, pemimpin kristiani adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah.”

Dengan kata lain, lanjut Nouwen, ”Pemimpin kristiani adalah orang yang benar-benar mau tinggal di hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya. Sehingga, visi Allahlah, dan bukan visinya pribadi, yang menjadi dasar dan arah kepemimpinannya.”

Atas semua jawaban itu, Yesus memberi mandat: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Cuma dua kata, tetapi melegakan hati. Mandat itu berarti kepercayaan. Yesus tetap memercayainya. Dan bagi Petrus mandat itu berarti karya yang harus dilakukan tanpa syarat.

Pemimpin—juga pemimpin di tempat kerja—adalah gembala bagi orang-orang yang dibawahkan kepadanya. Dan itu hanya mungkin terjadi kala dia sungguh mengasihi Sang Gembala Sejati.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Musim Berganti

Kitab Keluaran dimulai dengan kisah pahit. Israel yang semula merupakan kesayangan penguasa Mesir, bahkan diberi tempat khusus di delta sungai Nil, telah menjadi bangsa yang menakutkan penguasa baru. Bagi dia kisah Yusuf, yang menyelamatkan Mesir dari bencana kelaparan, tinggal sejarah.

Photo by Chris Lawton on Unsplash

Sang Penguasa kemudian menetapkan tindakan ”bijaksana”, yang merupakan petaka bagi Israel. Dari bangsa kesayangan, Israel menjadi bangsa budak. Mereka menjalani kerja paksa mendirikan kota-kota perbekalan bagi Firaun, yakni Pitom dan Raamses. Israel hanya bisa menerima. Musim berganti. Namun, penulis mencatat, ”tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu” (Kel. 1:12).

Makin ketakutanlah penguasa baru itu. Ketakutan akan balas dendam membuatnya mengubah ”kebijaksanaan” dengan cara membunuh semua bayi laki-laki Israel yang baru lahir. Dampak musim bertambah parah. Akan tetapi, kebijakan kedua ini pun gagal. Sifra dan Pua, kedua bidan itu, ternyata lebih takut kepada Allah ketimbang penguasa Mesir. Ketakutan penguasa Mesir makin menjadi. ”Kebijaksanaannya” makin berkembang: melemparkan semua bayi laki-laki Ibrani ke sungai Nil.

Awalan Kitab Keluaran, yang berakhir dengan pembebasan Israel dari Mesir, membuktikan karya pemeliharaan Allah. Situasi dan kondisi dapat berubah dalam sekejap, tetapi kasih setia Tuhan tiada berubah. Dengan cara-Nya sendiri, Allah menyertai umat-Nya. Penyertaan Allah ini terekam juga dalam Kidung Populer Rohani Tempo Dulu: ”Tak pernah Dia janji slalu ’kan panas. Tak pernah Dia janji hanya ada hujan. Tapi Dia janjikan memberi kekuatan bila badai topan melandamu”.

Musim boleh berganti. Bisa jadi berimbas pada pekerjaan kita. Namun, penyertaan Allah tetap. Allah tidak menjanjikan kondisi kerja yang serbabaik, tapi Dia menjanjikan kekuatan. Sebab kita milik-Nya!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pegawai Bermental Karyawan

Berkait soal kerja, kisah penyembuhan Naaman menarik disimak. Pegawai-pegawai Naaman layak dijadikan teladan. Meski berstatus pegawai, mereka bermental karyawan. Sebagai karyawan mereka ingin menghasilkan sesuatu: karya!

Photo by Tim Marshall on Unsplash

Ketika Naaman kesal dengan perlakuan Elisa, yang memintanya untuk membenamkan diri ke sungai Yordan sebanyak tujuh kali, para pegawainya berupaya agar Naaman tetap fokus pada tujuan utamanya—kesembuhan dari kusta. Berbahagialah Naaman karena memiliki bawahan-bawahan yang berani menyatakan pendapat! Mereka tidak bermental ABS (Asal Bapak Senang). Mereka berani berbeda pendapat, membujuk Naaman, demi tercapainya visi bersama. Bujukannya tak ditujukan pada batin, tetapi lebih terarah pada nalar Sang Panglima.

Mari kita simak nasihat mereka: ”Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah Bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: ’Mandilah dan engkau akan menjadi tahir’” (2Raj. 5:13). Kalimat yang logis. Meski bertujuan menyentuh pikiran, kalimat itu pastilah menyentuh hati Naaman. Pegawai-pegawai itu mengingatkan kembali akan kehebatan Sang Panglima.

Siapa yang tak kenal Naaman? Dia suka sekali—dan sungguh-sungguh terbukti—melakukan hal-hal luar biasa. Naaman sudah terbiasa melakukan perkara-perkara sukar. Mungkin bagi orang lain mustahil, tapi tidak bagi Naaman. Dengan kata lain, ”Kalau perbuatan yang sukar saja Bapak suka dan mampu melakukannya, masak hal yang mudah begini Bapak malah enggan melakukannya?” Itu berarti, apa yang diminta Elisa bukanlah sesuatu yang sulit. Lalu, apa salahnya dicoba!

Entah, apa yang ada di benak Naaman saat dia membenamkan dirinya di sungai Yordan. Mungkin dia ragu, tapi itulah jalan terlogis. Ya, apa salahnya dicoba? Bukankah dia telah sampai ke Israel. Kalau pulang lagi ke Damsyik, dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Alhasil: penyakit kusta itu hilang dari tubuhnya.

Kita tidak pernah tahu identitas pegawai-pegawai Naaman itu. Namun, yang kita tahu mereka mengerjakan tugasnya dengan baik. Mereka berani mengemukakan pendapat yang berbeda untuk kepentingan tuannya. Mereka ingin Sang Panglima mewujudkan visinya. Mereka telah menjadikan visi tuannya—kesembuhan dari kusta—sebagai visi mereka juga. Sebagai karyawan, mereka sungguh berkualitas.

Kualitas itu pulalah yang ditekankan Paulus dalam sebuah suratnya: ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Gal. 6:4).

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Piala Dunia 2018

Piala Dunia 2018 usai sudah. Prancislah jawaranya. Banyak hal yang bisa dipetik dari perhelatan dunia ini.

Photo by Fauzan Saari on Unsplash

Pertama, sepakbola adalah permainan tim, yang terdiri atas sebelas orang, bahkan kadang menjadi dua belas—para suporter. Tentu sebuah tim terdiri atas individu-individu. Akan tetapi, setiap individu tersebut haruslah meyakini bahwa dia merupakan bagian dari sebuah tim. Terkait ini, ada adagium yang menarik dalam bahasa Inggris: There is no ”I” in Team (tak ada saya dalam sebuah tim).

Kedua, karena itulah setiap individu mesti bekerja sebagai sebuah tim. Ketika ada seorang yang mencetak gol, itu bukanlah gol dirinya, tetapi gol kesebelasannya, dan akhirnya menjadi gol para pendukungnya juga. Akan tetapi, ketika seseorang melakukan kesalahan, tak perlulah menyalahkan dirinya karena semua itu dilakukannya untuk membela timnya.

Itulah yang terjadi ketika sundulan Mario Mandzukic tidak menyelamatkan, tetapi malah membobol gawang sendiri. Para pemain Kroasia tak terlihat menyalahkannya. Lagi pula, buat apa menyalahkan karena Mandzukic sendiri pasti sudah amat menyesal. Begitu pula ketika Hugo Lloris, kiper Prancis, melakukan blunder yang dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Mandzukic, para pemain Prancis tetap fokus pada pertandingan dan tidak menyalahkannya.

Persoalan terbesar dalam sebuah tim adalah ketika seseorang merasa lebih hebat, lebih berjasa, ketimbang yang lainnya. Itu hanya akan membuat suasana dalam tim menjadi panas, dan tak lagi fokus dalam mencapai tujuan bersama.

Ketiga, setiap kesebelasan yang tertinggal, juga Kroasia dalam final, selalu antusias menyerang. Mereka tidak mau berhenti menyerang sebelum peluit berakhir. Mereka bersemangat menyerang karena masih memiliki harapan! Semua kemungkinan bisa terjadi. Kenyataannya, itulah yang sering terjadi dalam piala dunia tahun ini. Sehingga menit-menit tambahan waktu pertandingan menjadi saat yang menarik untuk disimak.

Ngomong-ngomong soal ”antusias”, kata ini berasal dari bahasa Yunani en dan theos, yang bermakna ”dalam Tuhan”. Dan memang di dalam Tuhan, segala sesuatu mungkin terjadi. Syaratnya adalah lakukan yang terbaik, dan libatkanlah Tuhan dalam pekerjaan kita!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Nabi Allah

”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, dan sebelum engkau lahir, Aku sudah memilih dan mengangkat engkau untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Yeremia 1:5.

Photo by Jeremy Bishop on Unsplash

Panggilan Yeremia sebagai nabi memperlihatkan beberapa hal mendasar. Pertama, Allahlah yang memanggil Yeremia. Yeremia tidak memanggil diri sendiri. Dia tidak mengajukan diri; juga tidak melamar pekerjaan. Allahlah yang berprakarsa. Allahlah yang melamarnya.

Kedua, panggilan Yeremia tanpa ”kualifikasi”. Kata kualifikasi perlu diberi tanda kutip karena kalaupun ada, Allahlah yang melengkapinya. Sekali lagi, bukan persyaratan yang diajukan Allah, melainkan pernyataan: Allah telah menetapkan Yeremia sebagai nabi jauh sebelum dia lahir. Kalau sebuah perusahaan biasanya mencari orang sesuai persyaratan yang telah ditetapkan, Allah membentuk manusia sesuai dengan karya yang telah ditetapkan Allah baginya.

Sehingga, sanggahan Yeremia—”Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer. 1:6)—menjadi sangat tidak relevan. Kelemahan Yeremia itu tak lagi menjadi soal karena Allah telah melengkapinya.

Panggilan Allah tidak berarti bahwa Allah sendirilah yang harus berbicara kepada kita. Allah bisa memanggil melalui orang lain—gereja atau lembaga lain. Dan panggilan Allah itu tak hanya sebatas kegiatan rohani!

Pekerjaan sekuler pun harus kita pandang sebagai panggilan khusus Allah. Ini tak hanya berlaku bagi orang yang bekerja formal atau kantoran. Ibu rumah tangga, juga pensiunan, merupakan panggilan Tuhan!

Photo by Caroline Attwood on Unsplash

Kalau kita meyakini bahwa pekerjaan kita pun merupakan jawaban atas panggilan Allah, tak perlulah kita bercemas hati atau mengeluh saat pekerjaan itu terasa berat. Sebab Tuhan telah memperlengkapi kita untuk menanggung semua beban tersebut. Jika demikian halnya, bertindak profesional menjadi hal lumrah.

Umat kepunyaan Allah dipanggil untuk melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan dalam pekerjaannya. Itu berarti kita juga dipanggil menerangi dan menggarami tempat kerja! Jika demikian halnya, setiap umat Allah dipanggil menjadi nabi Allah dalam pekerjaannya.

Dalam bukunya Desain Besar dari Allah, Vaughan Roberts menyatakan: ”Allah menciptakan kita untuk menjadi pekerja, dan ketika bekerja, kita membantu Dia merealisasikan maksud-maksud-Nya bagi dunia ini… Ia memilih untuk mengerjakan maksud-Nya bagi dunia ini melalui kita.”

Ya, kita semua adalah nabi-nabi Allah.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pada Mulanya…

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Demikianlah penulis Kitab Kejadian membuka tulisannya.

Photo by Artem Bali from Pexels

Kalimat pembuka merupakan hal penting bagi penulis. Tentu harus menarik. Namun yang lebih penting, kalimat pembuka merupakan dasar bagi seluruh karangan. Tak heran, jika setiap penulis bergumul keras dengan kalimat pembuka karangannya.

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Inilah dasar bangunan—sekaligus rangkuman iman—Kitab Kejadian. Agaknya penulis hendak mementahkan anggapan banyak orang semasanya bahwa setiap benda langit adalah dewa.

Orang Jepang percaya dewa Matahari, Batara Surya kata orang India, Dewi Bulan pun dipercaya oleh banyak suku bangsa. Dan di dalam pemahaman keilahian poleteis ini, orang Yahudi mempunyai satu pengakuan radikal. Semua benda itu—betapa pun hebatnya sehingga disembah orang—ciptaan belaka.

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Kalimatnya sederhana. Ada keterangan waktu: pada mulanya; subjek: Allah; predikat: menciptakan; dan objeknya: langit dan bumi. Kelihatannya, sejak awal penulis hendak memperlihatkan Allah sebagai Pribadi yang tidak tinggal diam. Allah adalah Pribadi yang bekerja.

Vaughan Roberts, dalam bukunya Desain Besar dari Allah, menulis: ”Alkitab dimulai dengan mendeskripsikan bukan waktu luang Allah, melainkan aktivitas-Nya. Ia sibuk dengan kerja besar penciptaan. Setelah menciptakan, Ia tidak bersantai atau tidak melakukan apa-apa. Allah masih terus bekerja menegakkan dan mempertahankan dunia yang sudah Ia buat.”

Dan Allah tidak mengerjakan semuanya itu sendirian. Allah mengangkat kita, Anda dan saya, menjadi mitra kerja-Nya untuk menjadikan dunia ini layak ditempati. Orang Jawa punya istilah memayu ayuning buwana ’menghiasi dunia’. Caranya: tentu dengan kerja kita!

Roberts—masih dalam buku tadi—mengutip Luther: ”Allah memberikan wol, tetapi bukan tanpa kerja kita. Jika wol itu tetap ada di domba, maka wol itu tidak akan pernah dikenakan manusia.”

Allah memberi kita makan melalui petani, peternak, nelayan, pedagang besar, tukang sayur, juga juru masak di dapur. Masih bisa ditambah dengan para pekerja industri rumah tangga seperti halnya alat masak, juga piring dan sendok. Ya, apa artinya makanan enak, tanpa piring dan sendok!

Dan karena itu, tulis Roberts dalam bukunya: ”Kita harus bersikap tegas untuk tidak merendahkan kerja dengan menilainya sebagai sesuatu yang jahat atau ‘tidak rohani’”.

Ya, kerja itu perkara rohani!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Setia dalam Perkara Kecil

Bendahara itu perkara besar atau kecil? Anda mungkin balik bertanya,
”Bendahara apa dulu!” Kalau bendahara keluarga, biasanya dipegang ibu, tentu bukan perkara besar. Namun, bendahara gereja pastilah bukan perkara kecil.

www.pexels.com

Tetapi, apakah bendahara keluarga memang sungguh perkara kecil? Terlebih di tengah harga kebutuhan pokok yang kian membubung, yang ditambah keperluan anak sekolah pada awal tahun ajaran.

Baik bendahara keluarga maupun bendahara gereja, Sang Guru dari Nazaret menuntut sikap dan tanggung jawab yang sama. Dalam Perumpamaan Talenta Sang Guru menegaskan beberapa hal mendasar.

Pertama, baik bendahara keluarga maupun bendahara gereja, keduanya merupakan orang kepercayaan. Yang satu dipercaya suami, yang lainnya dipercaya umat.

Kepercayaan merupakan hal penting dalam hidup. Mana yang hendak kita pilih: menjadi direktur utama sebuah bank yang tidak dipercaya nasabahnya atau menjadi montir di bengkel sepeda motor yang dipercaya pelanggannya?

Bank itu, seberapa pun besarnya, tanpa kepercayaan nasabahnya, cepat atau lambat pasti akan bangkrut! Sebaliknya, bengkel sepeda motor itu cepat atau lambat pasti akan menjadi besar. Mengapa? Ya karena dipercaya!

Kedua, ada pertanggungjawaban dalam setiap pekerjaan. Sang Pemilik akan menuntut tanggung jawab dari setiap pekerjanya. Tak seorang pun bisa lepas dari tanggung jawab. Itu berarti kita tidak boleh main-main dengan pekerjaan kita.

Evaluasi sebetulnya nama lain dari sebuah pertanggungan jawab. Yang namanya panitia di akhir tugasnya pasti akan membuat laporan pertanggungjawaban. Tak ada panitia Natal seumur hidup!

Ketiga, orang yang menangani baik perkara besar maupun kecil dituntut untuk setia. Setia berarti menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Setia berarti tidak berhenti di tengah jalan. Tidak mutung. Setia berarti melaksanakan tugas hingga selesai.

Kesetiaan memang berkait dengan stamina. Jangan hanya semangat di awal, biarlah semangat itu tetap menyala hingga akhir. Stamina berkait erat dengan ketahanujian atau ketahanbantingan seseorang. Lagipula, bukankah gaji kita juga tidak pernah berkurang?

Keempat, setia berarti menjalani setiap pekerjaan dengan benar. Benar berarti tidak salah. Benar berarti tidak main-main. Benar berarti serius. Benar berarti fokus.

Bertindak benar merupakan masalah kualitas. Dan bicara soal kualitas kita bisa belajar dari penerbit buku lagu. Penerbit tersebut harus memastikan bahwa baik syair maupun lagunya benar. Salah notasi, akan salah pulalah orang yang menyanyikannya. Di sinilah pentingnya editor. Tugas editor bukanlah mencari kesalahan, tetapi memastikan kebenaran.

Dan itu jugalah panggilan Sang Guru: ”Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengerjakan Pekerjaan Tuhan

Ketika menyaksikan orang yang buta sejak lahir, para murid tak dapat menahan hatinya untuk bertanya: ”Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga dia dilahirkan buta?” (Yoh. 9:2).

Photo by Buenosia Carol from Pexels

Begitulah kenyataan hidup di bumi manusia. Banyak orang merasa perlu berkomentar, bertanya, dan mempersoalkan ketika melihat ada yang tidak normal. Sewaktu yang buruk terjadi, sebagaimana syair Ebiet G. Ade, orang bertanya, ”Dosa siapa? Ini dosa siapa?”

Hal macam begini memang telah ada dalam diri manusia berdosa, yang gemar mencari kambing hitam. Artinya, ada keinginan dalam hati manusia untuk mencari biang keladi dari setiap persoalan. Sekali lagi, siapa yang salah?

Jangan Hanya Bicara
Menanggapi pertanyaan itu, Yesus tegas menjawab, ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya” (Yoh. 9:3). Yesus tidak membiarkan percakapan itu berkembang luas. Dia tidak membiarkan para muridnya melanjutkan omongan itu.

Menjadikan kelemahan orang lain sebagai pokok pembicaraan memang enak. Sebab, kita mungkin akan merasa lebih tinggi, lebih baik, atau lebih saleh ketimbang orang itu. Sekali lagi, inilah alasan mengapa banyak orang suka membicarakan kelemahan orang lain.

Yesus tidak mau terjebak dalam percakapan macam begini. Dia tidak mau bercakap-cakap mengenai orang itu. Kalau peduli, ya jangan hanya bicara. Pertanyaan yang layak diajukan: ”Apakah yang akan kita lakukan untuk orang itu?”

Abdullah
Tak heran, Yesus melanjutkan ucapannya dengan kalimat yang kelihatannya memang kurang nyambung dengan pertanyaan para murid. Sang Guru menegaskan: ”Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus aku” (Yoh. 9:4).

Yesus menegaskan bahwa tugas, bahkan keharusan seorang hamba Allah, abdi Allah—orang Arab punya istilah bagus: abdullah—ialah mengerjakan pekerjaan Allah.

Melakukan pekerjaan Allah berarti melakukan apa yang Allah lakukan. Dan semuanya berawal dari cara pandang kita terhadap orang lain. Kita perlu melihat sesama kita dengan mata Allah.

Itulah panggilan kepada kita selaku abdullah. Kita diutus bukan untuk mempercakapkan penderitaan orang lain, kesengsaraan orang lain, keburukan orang lain, bahkan kejelekan orang lain, tetapi untuk melakukan apa yang Allah lakukan!

Panggilan kita memang bukan untuk ngomong, tetapi sungguh-sungguh mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan. Allah adalah Allah yang bekerja. Hingga saat ini Dia tetap bekerja. Dan kita, para abdullah, dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah itu.

Dan Yesus tidak hanya bicara. Dia meludah ke tanah, mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, kemudian mengoleskannya pada mata orang itu, dan menyuruhnya membasuh muka di kolam Siloam.

Orang yang buta sejak lahirnya itu pun akhirnya dapat melihat.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional