Diposting pada

Pada Mulanya…

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Demikianlah penulis Kitab Kejadian membuka tulisannya.

Photo by Artem Bali from Pexels

Kalimat pembuka merupakan hal penting bagi penulis. Tentu harus menarik. Namun yang lebih penting, kalimat pembuka merupakan dasar bagi seluruh karangan. Tak heran, jika setiap penulis bergumul keras dengan kalimat pembuka karangannya.

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Inilah dasar bangunan—sekaligus rangkuman iman—Kitab Kejadian. Agaknya penulis hendak mementahkan anggapan banyak orang semasanya bahwa setiap benda langit adalah dewa.

Orang Jepang percaya dewa Matahari, Batara Surya kata orang India, Dewi Bulan pun dipercaya oleh banyak suku bangsa. Dan di dalam pemahaman keilahian poleteis ini, orang Yahudi mempunyai satu pengakuan radikal. Semua benda itu—betapa pun hebatnya sehingga disembah orang—ciptaan belaka.

”Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Kalimatnya sederhana. Ada keterangan waktu: pada mulanya; subjek: Allah; predikat: menciptakan; dan objeknya: langit dan bumi. Kelihatannya, sejak awal penulis hendak memperlihatkan Allah sebagai Pribadi yang tidak tinggal diam. Allah adalah Pribadi yang bekerja.

Vaughan Roberts, dalam bukunya Desain Besar dari Allah, menulis: ”Alkitab dimulai dengan mendeskripsikan bukan waktu luang Allah, melainkan aktivitas-Nya. Ia sibuk dengan kerja besar penciptaan. Setelah menciptakan, Ia tidak bersantai atau tidak melakukan apa-apa. Allah masih terus bekerja menegakkan dan mempertahankan dunia yang sudah Ia buat.”

Dan Allah tidak mengerjakan semuanya itu sendirian. Allah mengangkat kita, Anda dan saya, menjadi mitra kerja-Nya untuk menjadikan dunia ini layak ditempati. Orang Jawa punya istilah memayu ayuning buwana ’menghiasi dunia’. Caranya: tentu dengan kerja kita!

Roberts—masih dalam buku tadi—mengutip Luther: ”Allah memberikan wol, tetapi bukan tanpa kerja kita. Jika wol itu tetap ada di domba, maka wol itu tidak akan pernah dikenakan manusia.”

Allah memberi kita makan melalui petani, peternak, nelayan, pedagang besar, tukang sayur, juga juru masak di dapur. Masih bisa ditambah dengan para pekerja industri rumah tangga seperti halnya alat masak, juga piring dan sendok. Ya, apa artinya makanan enak, tanpa piring dan sendok!

Dan karena itu, tulis Roberts dalam bukunya: ”Kita harus bersikap tegas untuk tidak merendahkan kerja dengan menilainya sebagai sesuatu yang jahat atau ‘tidak rohani’”.

Ya, kerja itu perkara rohani!

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *