Diposting pada

Mengerjakan Pekerjaan Tuhan

Ketika menyaksikan orang yang buta sejak lahir, para murid tak dapat menahan hatinya untuk bertanya: ”Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga dia dilahirkan buta?” (Yoh. 9:2).

Photo by Buenosia Carol from Pexels

Begitulah kenyataan hidup di bumi manusia. Banyak orang merasa perlu berkomentar, bertanya, dan mempersoalkan ketika melihat ada yang tidak normal. Sewaktu yang buruk terjadi, sebagaimana syair Ebiet G. Ade, orang bertanya, ”Dosa siapa? Ini dosa siapa?”

Hal macam begini memang telah ada dalam diri manusia berdosa, yang gemar mencari kambing hitam. Artinya, ada keinginan dalam hati manusia untuk mencari biang keladi dari setiap persoalan. Sekali lagi, siapa yang salah?

Jangan Hanya Bicara
Menanggapi pertanyaan itu, Yesus tegas menjawab, ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya” (Yoh. 9:3). Yesus tidak membiarkan percakapan itu berkembang luas. Dia tidak membiarkan para muridnya melanjutkan omongan itu.

Menjadikan kelemahan orang lain sebagai pokok pembicaraan memang enak. Sebab, kita mungkin akan merasa lebih tinggi, lebih baik, atau lebih saleh ketimbang orang itu. Sekali lagi, inilah alasan mengapa banyak orang suka membicarakan kelemahan orang lain.

Yesus tidak mau terjebak dalam percakapan macam begini. Dia tidak mau bercakap-cakap mengenai orang itu. Kalau peduli, ya jangan hanya bicara. Pertanyaan yang layak diajukan: ”Apakah yang akan kita lakukan untuk orang itu?”

Abdullah
Tak heran, Yesus melanjutkan ucapannya dengan kalimat yang kelihatannya memang kurang nyambung dengan pertanyaan para murid. Sang Guru menegaskan: ”Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus aku” (Yoh. 9:4).

Yesus menegaskan bahwa tugas, bahkan keharusan seorang hamba Allah, abdi Allah—orang Arab punya istilah bagus: abdullah—ialah mengerjakan pekerjaan Allah.

Melakukan pekerjaan Allah berarti melakukan apa yang Allah lakukan. Dan semuanya berawal dari cara pandang kita terhadap orang lain. Kita perlu melihat sesama kita dengan mata Allah.

Itulah panggilan kepada kita selaku abdullah. Kita diutus bukan untuk mempercakapkan penderitaan orang lain, kesengsaraan orang lain, keburukan orang lain, bahkan kejelekan orang lain, tetapi untuk melakukan apa yang Allah lakukan!

Panggilan kita memang bukan untuk ngomong, tetapi sungguh-sungguh mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan. Allah adalah Allah yang bekerja. Hingga saat ini Dia tetap bekerja. Dan kita, para abdullah, dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah itu.

Dan Yesus tidak hanya bicara. Dia meludah ke tanah, mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, kemudian mengoleskannya pada mata orang itu, dan menyuruhnya membasuh muka di kolam Siloam.

Orang yang buta sejak lahirnya itu pun akhirnya dapat melihat.

Selamat Bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *