Posted on Tinggalkan komentar

Pengunjung, Simpatisan, atau Murid?

(Luk. 14:25-27)

Mari kita perhatikan konteks pembicaraan Yesus dengan para muridnya perihal kemuridan. Lukas dengan baik menampilkan sebuah kenyataan: ”Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.”

Inilah kenyataannya: banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus. Lukas tidak menyatakan dengan jelas berapa banyak orang yang berduyun-duyun itu. Namun, kita bisa menduga bahwa jumlahnya pasti tidak sedikit. Dan kita memang tidak pernah tahu apa motivasi mereka mengikuti Yesus.

Berkaitan dengan perjalanan, maka yang dimaksudkan Lukas adalah perjalanan ke Yerusalem, tempat di mana Yesus menuntaskan misi hidup-Nya: mati dan bangkit. Nah, persoalan besarnya ialah apakah orang yang berduyun-duyun ini akan setia mengikuti Yesus hingga Yerusalem. Apakah mereka akan tetap menjadi murid saat mengetahui visi dan misi Sang Guru?

Berkenaan orang banyak yang berduyun-duyun itu, Yesus berkata, ”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Sang Guru tampaknya membedakan antara orang yang datang dan orang yang menjadi murid. Yang datang belum tentu menjadi murid. Memang banyak yang datang. Itu patut dihargai. Namun, apakah mereka layak disebut murid? Ini memang perkara berbeda.

Murid memang bukan sekadar datang. Pengunjung dapat datang dan pergi kapan saja. Kalau ada waktu datang, kalau enggak punya waktu, ya nanti saja! semuanya tergantung mood, perasaan hati, dan tentu saja sangat situasional sifatnya. Menjadi murid tidak menunggu mood, tidak tergantung perasaan hati, dan sifatnya tentulah kekal.

Murid juga beda dengan simpatisan. Simpatisan tentu saja hubungannya lebih dekat ketimbang pengunjung. Akan tetapi, semuanya itu berdasarkan simpati seseorang. Simpati, menurut KBBI, berarti rasa kasih, rasa setuju, rasa suka, keikutsertaan merasakan perasaan orang lain. Ujung-ujungnya perasaan lagi. Dan kita sulit mengharapkan komitmen dari para simpatisan. Sekali lagi, perasaan seseorang cenderung berubah, bahkan senantiasa berubah.

Dan Yesus memanggil orang untuk tidak hanya menjadi pengunjung, simpatisan, tetapi menjadi murid.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Rumah-Ku Harus Penuh

(Luk. 14:15-22)

Kisah Perumpamaan Orang-orang yang Berdalih tak hanya bicara soal kemurkaan sang pengundang kepada para undangan, yang sudah dipilih jauh-jauh hari, tetapi juga kesempatan kepada orang-orang yang tak layak diundang sama sekali.

Demikianlah perintah sang pengundang kepada para hambanya dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Cepatlah pergi ke jalan-jalan dan gang-gang di kota. Bawalah ke mari orang miskin, orang cacat, orang buta dan orang lumpuh.”

Perhatikan, yang diundang adalah orang-orang yang awalnya tak masuk hitungan—orang miskin, orang cacat, orang buta, dan orang lumpuh. Semua itu adalah orang-orang yang sering kali tak dianggap dalam budaya Yahudi. Apalagi dengan para difabel. Mereka adalah orang-orang yang tersingkir karena banyak orang menganggap kecacatan yang disandangnya karena dosa mereka. Namun, sang pengundang sengaja mengundang mereka.

Hanya, meski para hamba itu sudah mengundang orang yang tak layak diundang, ternyata masih ada tempat. Menanggapi hal itu, sang pengundang pun berkata, ”Pergilah ke jalan-jalan raya dan lorong-lorong di luar kota, dan desaklah orang-orang datang, supaya rumah saya penuh.” Sekarang ini diperluas, siapa saja boleh masuk. Bahkan, kalau perlu didesak untuk turut serta dalam perjamuan itu.

Apa maknanya bagi kita? Jelaslah kasih Allah tak terbatas. Bahkan Allah ingin, terkesan memaksa, semua orang merasakan keselamatan-Nya. Tak ada syaratnya sama sekali. Karena itu, menjadi bagian kita untuk mensyukuri kasih Allah itu dan tidak menjadi penghalang bagi orang lain untuk merasakan Kerajaan Allah itu.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengundang Orang

(Luk. 14:12-14)

”Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

Demikianlah nasihat Yesus perihal undang-mengundang. Jika dalam merespons undangan, Yesus mengajak para murid-Nya untuk bersikap _low profile_; saat mengundang para murid dilarang membeda-bedakan kursi. Semua tempat adalah tempat kehormatan. Bahkan Yesus mengajak mereka untuk mengundang orang yang tak layak diundang. Intinya: jangan mengharapkan imbalan.

Yesus mengajak para murid-Nya untuk mendahulukan orang lain. Mengapa? Karena mendahulukan orang lain merupakan wujud nyata dari keinginan kita untuk mengutamakan Allah. Artinya, bukan diri sendiri yang dimuliakan, tetapi kemuliaan Allahlah yang utama. Bukan diri kita yang disenangkan, tetapi Allah sendiri.

Mengapa kita perlu menyenangkan Allah? Jika itu pertanyaannya, perlu ditambah pertanyaan selanjutnya: Mengapa tidak menyenangkan Allah? Apa yang bisa dilakukan manusia tanpa Allah? Bukankah tanpa Allah kita memang bukan apa-apa? Dari manakah datangnya napas hidup itu? Bukankah kehidupan pun berasal dari Allah? Lalu, mengapa kita tidak menyenangkan-Nya?

Bahkan manusia tanpa Allah, cenderung menjadi serigala terhadap sesamanya _(homo homini lupus est)_. Sejarah mencatat, manusia tanpa Allah akan cenderung menjadi tuan dan menganggap manusia lain sebagai budak. Manusia tanpa Allah cenderung mengingkari kemanusiaan dalam diri orang lain. Manusia tanpa Allah hanya akan membuahkan malapetaka.

Sebaliknya, manusia yang memuliakan Allah akan berusaha mendahulukan orang lain. Dia berusaha menjadi berkat bagi manusia lainnya. Bukankah ini inti dari Hukum Kasih?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Gila Hormat

(Luk. 14:7-11)

”Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan….” Bagaimanakah kita memahami perumpamaan ini? Untuk itu kita perlu melihat konteksnya. Pada waktu itu Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan.

Manusia memang makhluk pemilih. Dia diberi kemampuan untuk memilih. Dan manusia cenderung memilih apa yang paling baik, enak, dan menguntungkan baginya. Itulah yang disaksikan Yesus. Nah, pertanyaannya: apakah salah memilih tempat kehormatan?

Memang tak salah. Namun, ini alasan Yesus, ketimbang malu karena ada undangan yang lebih terhormat, mending tak perlu duduk di situ. Yesus menganjurkan para muridnya mengambil tempat di belakang. Hanya dengan cara itu, mereka tidak akan dipermalukan. Jika tempat kehormatan disediakan bagi mereka, mereka akan mendapatkannya kelak. Pada titik ini Yesus mengajarkan bahwa setiap murid-Nya seharusnya bersikap _low profile_. Mereka harus tahu diri.

Tahu diri berarti tidak menilai diri lebih tinggi atau lebih rendah. Dan tahu diri berkait dengan kepercayaan diri. Orang yang mengetahui siapa dirinya—tidak berpikir lebih tinggi atau lebih rendah mengenai dirinya—akan mampu bersikap wajar dalam masyarakat. Dia bersikap apa adanya. Dia tidak jatuh ke dalam ekstrem tinggi hati (sombong), juga tidak jatuh dalam ekstrem rendah diri (minder), tetapi dia tetap berada di tengah—rendah hati. Tahu diri akan membuat kita menjadi rendah hati.

Tahu diri akan membuat kita meyakini bahwa di atas langit masih ada langit, sehingga kita tak perlu mengambil sikap sombong. Tahu diri juga akan membuat kita meyakini bahwa kita mempunyai kemampuan, yang akhirnya memang tak perlu membuat kita minder. Dan orang yang memiliki kepercayaan diri memang tidak merasa perlu mencari-cari kehormatan. Dia tidak gila hormat.

Yesus menasihati para murid-Nya agar tidak mencari-cari kehormatan. Dalam pemahaman Yesus, kedudukan terhormat dalam masyarakat bukanlah sebab, melainkan akibat. Para murid tak perlu ngoyo agar orang lain menghormati mereka. Namun, jika ada orang yang menghormati mereka, sejatinya itu merupakan buah dari perbuatan mereka terhadap orang lain.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perumpamaan Orang-orang yang Berdalih

(Luk. 14:15-22)

Perumpamaan mengenai orang yang berdalih tidak muncul dalam ruang hampa. Sang Guru sengaja membuatnya untuk memperingatkan kepada para pendengarnya. Sejatinya perumpamaan itu merupakan tanggapan ucapan seorang tamu: ”Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.”

Ucapan itu sendiri sungguh benar. Ya, apa yang lebih indah ketimbang undangan masuk ke dalam Kerajaan Allah. itu berarti Allah menganggap orang itu layak masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Masuk ke dalam Kerajaan Allah berarti orang itu sama kudusnya dengan Allah. Tentu kita masih ingat, dasar pengusiran Adam dan Hawa dari Taman Eden: Adam dan Hawa dianggap tak lagi sekudus Allah. Kekudusan Allah meniscayakan bahwa semua yang cemar sirna dari hadapan-Nya.

Dalam perumpamaan-Nya, Yesus memperlihatkan kepada pendengar-Nya kenyataan bahwa tak semua orang menyambut undangan Allah itu. Pada masa itu, undangan biasa diberikan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan pesta. Tujuannya adalah agar yang diundang bersiap diri terlebih dahulu. Ketika sudah waktunya pesta ada hamba yang diutus untuk memberitahukan bahwa semuanya sudah siap.

Masalahnya, ketika diumumkan, ternyata banyak yang berdalih. Ada yang baru saja membeli tanah, ada yang membeli lima pasang lembu, bahkan ada yang baru menikah. Yang jelas mereka semua tak lagi memprioritaskan undangan tersebut. Dan itu sama halnya dengan menganggap sepi sang pengundang. Sebenarnya, sang pengundang telah memprioritaskan mereka untuk diundang, tetapi orang-orang itu tak lagi memprioritaskan sang pengundang. Dan karena itu sang pengundang murka.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Lagi Penyembuhan pada Hari Sabat

(Luk. 14:1-6)

”Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.” Demikianlah Lukas memulai kisahnya. Menarik disimak, Yesus sengaja datang ke rumah salah seorang pemimpin Farisi. Mungkin karena diundang. Jelaslah Sang Guru tidak sungkan untuk menginjakkan kakinya ke rumah orang-orang yang membenci Dia.

Memang itulah yang terjadi. Semua yang hadir mengamat-amati dia. Mereka memperhatikan dengan teliti gerak-gerik Yesus. Dan pada waktu itu datanglah seorang yang sakit busung air. Penyakit busung air adalah bengkak pada perut yang berisi air.

Kita tidak tahu apakah orang itu datang dengan inisiatif sendiri atau memang sengaja dihadirkan untuk menjebak Yesus. Tampaknya, Yesus tidak mempersoalkannya. Jika orang itu datang karena keinginannya sendiri, Dia sungguh prihatin. Namun, jika dia sengaja dihadirkan, Dia lebih prihatin. Karena ada orang yang menjadikan sengsara orang lain sebagai alat untuk menjebak Yesus.

Mungkin karena itulah, Yesus langsung bertanya, ”Apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Tindakan yang jitu. Biasanya Yesus langsung bertindak tanpa bertanya. Itulah yang membuat orang menghakimi tindakan-Nya. Namun sekarang, Yesus mengajak orang banyak itu untuk terlibat.

Dan atas pertanyaan itu semua yang hadir diam. Mereka enggak siap menjawabnya. Mereka enggak siap terlibat. Kalau bilang boleh, berarti mereka melanggar aturan Sabat. Jika bilang tidak boleh, mungkin dalam hati mereka berpikir bagaimana jika mereka yang menderita penyakit itu. Tak ada orang yang ingin tetap sakit bukan?

Ketiadaan jawab menjadi alasan kuat bagi Yesus untuk menyembuhkan orang tersebut. Agaknya Yesus hendak menyatakan bahwa kasih kepada sesama, yang berdasarkan kasih kepada Allah, merupakan hukum tertinggi. Dan memang tidak ada seorang normal pun yang sanggup membantah-Nya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Yesus Mengeluh

(Luk. 13:31-35)

Yesus mengeluh. Keluhan itu bukan tanpa sebab. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru (PB) nama Yerusalem dialihaksarakan menjadi Hierousalem. Bagian pertama langsung mengingatkan orang pada kata Yunani hieros, artinya ’kudus’. Yerusalem berarti Salem yang kudus. Dengan demikian, Yerusalem bisa disebut Kota Damai yang kudus. Sayangnya, itulah yang tidak dilakukan Yerusalem

Itu tampak jelas ketika beberapa orang Farisi berkata kepada Yesus, ”Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Kita tidak pernah tahu maksud di balik nasihat itu. Apakah mereka, yang biasanya berseberangan dengan Yesus, merasa kasihan kalau Yesus mati di tangan Herodes. Atau, mereka sendiri ingin menakut-nakuti Yesus.

Apa pun itu, Yesus menjawab, “Pergilah dan katakanlah kepada si rubah itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.”

Yesus menyebut Herodes rubah. Sepintas lalu, dari kejauhan, rubah memang tampak seperti domba karena warnanya tak begitu berbeda. Namun, rubah merupakan pemangsa domba. Pada masa itu, ungkapan ”seperti rubah” menggambarkan orang jahat yang licik dan berbahaya.

Di mata Yesus, Herodes memang gambaran manusia yang terlihat baik, namun berbahaya. Namun, dengan mengatakan bahwa Herodes seperti rubah, Yesus juga hendak menyatakan bahwa di mata-Nya Herodes bukanlah sosok yang perlu ditakuti.

Bayangkan: Israel dipimpin seorang yang berwatak seperti rubah! Kalau rajanya saja seperti rubah, bagaimana pula dengan rakyatnya? Itulah gambaran Yerusalem secara umum. Dan karena itulah Yesus mengeluh.

Keluh di sini bukan tanda kelemahan, lebih tepat tanda kepedulian. Yesus peduli terhadap Yerusalem. Kota damai itu ternyata tak mau berubah. Beberapa nabi ditolak dan banyak utusan Allah dilempari dengan batu.

Mengeluh di sini, sekali lagi, bukanlah tanda kelemahan, lebih tepat tanda kasih. Yesus mengasihi Yerusalem. Perhatikan nada keluhan-Nya: ”Sudah berapa kali Aku ingin merangkul semua pendudukmu seperti induk ayam melindungi anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kau tidak mau” (Luk. 13:34, BIMK).

Persoalannya: tidak ada kemauan dalam diri penduduk kota itu, mungkin karena meneladan sang raja, untuk berubah. Itulah yang membuat Yesus mengeluh. Dan ketika keluhan itu tak bersambut, Yesus pun menangisi Yerusalem.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Siapakah yang Diselamatkan

(Luk. 13:22-30)

”Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.” Demikianlah catatan Lukas. Sang Guru ditampilkan, dan memang itulah kenyataannya, sebagai pribadi yang tak pernah diam. Dia berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa.

Menarik disimak, Lukas menyatakan bahwa Yesus berkeliling sembari mengajar. Tentu saja ada praktik penyembuhan di sana sini. Namun, di mata Lukas, praktik penyembuhan itu tidak di luar konteks pengajaran-Nya. Dia mengajar melalui praktik penyembuhan.

Berkait ajaran, standar Yesus memang tinggi. Dia mengkritik para ahli Taurat dan orang Farisi yang mencoba melaksanakan perintah Taurat secara ketat. Yesus menekankan pentingnya memahami alasan mendasar di balik perintah Taurat. Jadi tidak sekadar melaksanakan Taurat.

Bisa dimaklumi ketika seorang berkomentar, ”Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Ada nada pesimis berkait dengan orang yang diselamatkan? Bagaimanapun pengajaran Yesus sangat radikal, standar-Nya ketat, sehingga hanya sedikit yang akan bertahan.

Menariknya, Sang Guru tidak mengiyakan kepesimisan itu. Dia menekankan: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ’Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ’Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’”

Berjuang. Demikianlah pesan Yesus. Berjuang menjadi kata kunci karena banyak orang berusaha masuk, namun tidak dapat! Dan jangan sampai terlambat! Karena ada masanya pintu akan ditutup! Jika pintu sudah ditutup, jumlah bukan hal penting lagi, melainkan siapa yang diselamatkan.

Persoalannya, ada banyak orang yang yakin bahwa mereka layak masuk karena telah makan dan minum dengan tuan rumah. Makan dan minum merupakan tanda persahabatan. Namun demikian, di mata tuan rumah, makan dan minum tidak berarti bahwa mereka hidup sepola dengan tuan rumah.

Itulah yang penting dalam Kerajaan Allah. Bukan seberapa dekat kita dengan Allah, tetapi apakah kita hidup sepola dengan kehidupan Allah. Apakah pola Kerajaan Allah yang kita kembangkan dalam hidup?

Meskipun pintunya sempit dan sesak, tetap saja ada orang yang selamat. Dan itu bukan hanya usaha sendiri, tetapi sungguh anugerah Allah! Karena itu, jangan fokus pada sempitnya pintu, mari kita berjuang untuk tetap hidup dalam pola Kerajaan Allah! Hidup sebagaimana Yesus hidup lebih penting dari karunia mukjizat apa pun!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perumpamaan Ragi

(Luk. 13:20-21)

”Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? 13:21 Kerajaan itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Dari segi ukuran perumpamaan ragi mirip dengan perumpamaan biji sesawi. Bayangkan sejumput ragi bisa mengembangkan 40 liter adonan tepung terigu.

Namun demikian, agaknya dengan perumpamaan ragi ini, Sang Guru sedang berbicara soal pengaruh. Sejumput ragi ternyata bisa memengaruhi 40 liter tepung terigu. Bisa diduga, Sang Guru hendak mengingatkan para murid-Nya untuk tidak minder. Selama berkualitas, mereka akan mampu mewarnai masyarakat di mana mereka tinggal.

Tentu ada syaratnya. Ragi itu harus memercayakan dirinya kepada wanita itu. Dia mesti pasrah bongkokan, percaya bahwa dia tidak akan dibuang, tetapi digunakan untuk mengembangkan adonan. Itu berarti bahwa para murid mesti bersedia diutus ke dalam masyarakat.

Yang kedua, ragi itu pun harus mau membagikan diri di tengah adonan tepung itu. Ragi itu harus mau bercampur dengan adonan tersebut. Demikian juga para murid harus mau berbaur dengan masyarakatnya. Itu hanya mungkin terjadi ketika mereka menanggalkan sikap eksklusif dan mengenakan sikap insklusif. Pada titik ini, sesungguhnya para murid hanya mengikuti jejak Sang Guru, yang hadir bagi masyarakat-Nya pada zaman-Nya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perumpamaan Biji Sesawi

(Luk. 13:18-19)

Mulanya kecil saja. Biji sesawi hanya satu milimeter saja panjangnya. Tetapi, ketika ditaburkan, dia akan menjadi pohon sesawi yang tingginya bisa mencapai 3 meter. Itu baru yang di atas tanah. Tajuk merupakan proyeksi akar. Jadi, dari 1 milimeter menjadi 6.000 mm. Perubahannya mencapai 6.000 kali lipat.

Biji sesawi itu kecil. Namun, dari sesuatu yang kecil itu bisa berubah menjadi tumbuhan besar. Yang dimaksudkan Yesus dengan biji sesawi bukanlah sawi, atau sayuran yang kita kenal di Indonesia. Tumbuhan sesawi merupakan tumbuhan keras yang besar.

Biji sesawi itu tak hanya menjadi besar, tetapi cabang-cabangnya sedemikian rindang sehingga menjadi rumah bagi burung-burung di udara. Pohon sesawi itu malah menjadi ekosistem tersendiri, di mana burung-burung beranak pinak di situ. Tak hanya menjadi besar, tetapi, lebih dari itu, menjadi berkat.

Karena itu, jangan anggap remeh yang kecil itu. Jika kita melihat hal-hal kecil, baiklah kita memandangnya menurut cara pandang Allah. Dan itulah nilai utama dalam Kerajaan Allah.

Dengan kata lain, seseorang yang hidup di dalam Kerajaan Allah perlu menghargai hal-hal kecil. Persoalannya, manusia kadang hanya memperhatikan hal-hal besar. Dan sering lupa bahwa hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil, hal-hal sepele.

Akan tetapi, jangan kita lupa, biji bisa menjadi pohon karena rela ditaburkan. Jika tidak, ya tinggal biji yang kecil itu. Ketika mau ditabur, mau menjadi rusak, pada titik itulah biji itu akan menjadi besar.

Mau ditabur berarti tidak lagi menjadi penentu. Penabur itulah yang menentukan. Mau ditabur berarti menyerahkan diri kepada Allah saja. Mau ditabur berarti merelakan diri kepada Sang Penabur. Itu berarti menyerahkan masa depan hanya kepada diri Sang Penabur. Itu berarti juga hidup berbuah. Sehingga orang lain merasakan juga berkat Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional