Posted on Tinggalkan komentar

Jangan Tinggalkan Aku

”Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku, dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu; jantungku berdebar-debar, kekuatanku hilang, dan cahaya mataku pun lenyap dari padaku” (Mzm. 38:10-11). Untuk Mazmur 38 ini, Lembaga Alkitab Indonesia memberikan judul ”Doa Pada Waktu Sakit”.

Dalam mazmur ini dinyatakan bahwa Allah sungguh mengetahui segala keinginan pemazmur. Dan orang sakit normalnya memang ingin sembuh. Mudah dipahami, betapa ketika sakit orang mengupayakan banyak cara. Tujuannya cuma satu: sembuh dari penyakit.

Pemazmur juga mengeluh di hadapan Allah. Dan dia pun tampaknya tak mau menyembunyikan keluhannya di hadapan Allah. Dia tidak berusaha terlihat kuat dalam penyakitnya. Tidak. Pemazmur mencurahkan isi hatinya kepada Allah.

Bisa jadi, pemazmur pada waktu itu terkena penyakit, yang membuat dia harus diisolasi. Perhatikan, ayat 12, ”Handai-taulanku menghindar karena penyakitku, bahkan kaum kerabatku menjauhi aku.”

Suasana hati pemazmur mungkin tak beda dengan suasana hati para ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) di Indonesia sekarang ini. Di beberapa daerah mereka memang dijauhi. Orang takut tertular. Dan itulah yang membuat para ODP dan PDP—seperti halnya pemazmur—merasa sendirian.

Sendirian memang tidak menyenangkan. Dalam masa pandemi ini, bagi kita yang sehat, kita bisa menyatakan empati kita melalui sapaan-sapaan yang menyejukkan kepada rekan kita yang berstatus ODP dan PDP. Tak perlu banyak kata, apalagi mempertanyakan riwayat penyakitnya—tertular dari siapa atau di mana atau kapan? Pertanyaan-pertanyaan itu hanya akan membuat mereka makin capek, dan tambah sendirian. Yang penting, mereka tahu bahwa mereka memang tidak sendirian.

Bagi yang berstatus ODP dan PDP dapat berseru sebagaimana pemazmur di akhir Mazmur 38 ini: ”Jangan tinggalkan aku, ya TUHAN, Allahku, janganlah jauh dari padaku! Segeralah menolong aku, ya Tuhan, keselamatanku!” Jangan patah arang, apalagi patah iman.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bergembiralah Karena Tuhan

Daud memulai Mazmur 37 dengan sebuah nasihat: ”Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang.” Mungkin kita pernah mengalaminya. Namun, kelihatannya kita perlu sungguh-sungguh bertanya dalam diri—mengapa kita marah dan iri?

Jangan-jangan kita marah karena kelihatannya hidup mereka—yang berbuat jahat dan curang itu—sepertinya baik-baik saja. Dan kita menjadi kecewa akan hal itu. Atau, bisa jadi kita marah karena merasa Allah telah bertindak tidak adil karena membiarkan semua kejahatan dan kecurangan itu terjadi.

Pada titik ini, sejatinya kita tidak marah kepada orang itu, tetapi sedang marah kepada Allah sendiri. Kalau sudah begini, kita mesti hati-hati karena bisa jadi kemarahan kepada Allah membuat kita ikut-ikutan berlaku curang.

Ketimbang marah dan iri—yang hanya akan menyakiti hati sendiri—dalam ayat 3 dan 4, Daud berseru: ”Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”

Percaya berarti memercayakan diri kepada Allah. Dan itu seharusnya maujud dalam perilaku sehari-hari. Melakukan yang baik bukan karena takut dihukum, tetapi karena menyadari bahwa kita memang umat Allah. Dan kita perlu mengembangkan sikap untuk senantiasa bergembira. Bergembira bukan karena semua serbabaik, tetapi karena Allah pasti menganugerahkan yang terbaik, juga di masa pandemi ini.

Padanan frasa ”bergembira karena TUHAN” dalam Alkitab BIMK adalah ”carilah kebahagiaanmu pada TUHAN”. Mencari merupakan kata kerja aktif. Dan siapa yang mencari, kata Tuhan Yesus, pasti akan mendapat. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dalam Terang-Mu Kami Melihat Terang

”Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu” (Mzm. 36:8). Demikianlah pengakuan iman Daud. Anak Isai itu percaya bahwa kasih Allah sungguh berharga. Berharga karena kasih itu—sebagaimana Allah— bersifat kekal. Karena Allah kekal, kasih-Nya pun kekal.

Mungkin, itu jugalah alasan penerjemah mengaitkan kasih dengan setia. Jika tidak setia, bukan kasih namanya. Tak heran, jika anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap Allah. Mengapa? Karena mereka merasa aman. Dan perasaan itu bukan temporer, namun selamanya.

Daud pun tak hanya bicara soal perasaan. Pada ayat 9 Daud bermadah: ”Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu.” Ya, Daud juga bicara soal berkat jasmani. Orang-orang yang berlindung kepada Allah akan merasakan kecukupan makanan dan minuman.

Allah adalah sumber hidup. Tak hanya hidup jasmani, tetapi juga hidup rohani. Daud pun mengakui, dalam ayat 10, ”Di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Terang Allah bukanlah terang yang menyilaukan dan menyakitkan. Terang Allah, yang menyejukkan itu, memampukan anak-anak-Nya untuk memilih jalan terbaik.

Situasi dan kondisi selama pagebluk Covid-19 ini memang serbagelap. Tak mudah diprediksi, yang membuat diri rada kecut. Namun, inilah penghiburan kita, ”Di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Dan ini pulalah yang akan membuat kita melangkah dengan pasti.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Allah Ingin Keselamatan Hamba-Nya

”Biarlah bersorak-sorai dan bersukacita orang-orang yang ingin melihat aku dibenarkan! Biarlah mereka tetap berkata: ’TUHAN itu besar, Dia menginginkan keselamatan hamba-Nya!’” (Mzm. 35:27). Demikianlah harapan Daud.

Menarik diperhatikan bahwa harapan Daud tak hanya bertumpu pada kelepasan dia dari masalah yang mengurungnya. Tidak hanya itu. Daud melihat bahwa kelepasannya itu bisa menjadi penguat bagi orang percaya lainnya.

Situasi atau kadar iman setiap orang memang tidak sama. Nah, kesaksian macam begini—bahwa Allah menginginkan keselamatan hamba-Nya—akan membuat orang yang kadar imannya rendah merasa diteguhkan, dan yang kadar imannya tinggi semakin teguh.

Karena itulah, agaknya panggilan kita ketika sedang menghadapi masalah—juga di tengah pandemi Covid-19—adalah jangan sampai patah. Kita mesti bertahan, tak hanya dalam harapan dan iman, juga dalam kasih kita.

Sebab, pertama, karena kita percaya bahwa Allah hanya ingin keselamatan hamba-Nya. Kedua, karena pengalaman kita mungkin akan menguatkan iman saudara seiman lainnya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dalam Lindungan Allah

”Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi” (Mzm. 34:16-17). Ini bukanlah omong kosong. Daud pernah merasakannya.

Ada pengantar redaksi di awal Mazmur 34: ”Dari Daud, pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi.” Sesungguhnya dalam Kitab 1 dan 2 Samuel tidak ada orang yang bernama Abimelekh. Namun, ada kisah bagaimana Daud berpura-pura gila di hadapan Akhis, raja kota Gat, salah satu dari lima kota utama orang Filistin (lih. 1Sam. 21:10-15).

Kondisi Daud waktu itu memang serbasusah—maju kena mundur kena. Untuk menghindari kejaran Saul, Daud mengungsi ke negeri orang Filistin. Dan di negeri orang Filistin itulah para tentara Filistin mengenali dia sebagai pembunuh Goliat, pahlawan kebanggaan Filistin. Dalam situasi macam demikian Daud mengambil langkah jitu: pura-pura gila. Langkah itulah yang menyelamatkannya dari Akhis, raja kota Gat.

Pada titik ini, jelaslah bahwa Daud tidak hanya menyerahkan semua masalah yang dihadapi kepada Allah, tetapi melakukan tindakan praktis dan nyata. Di sini Daud mengerjakan bagiannya dan menyerahkan sisanya—yang pasti lebih besar—kepada Allah. Jika Daud selamat, tentu dia tidak bisa mengklaim bahwa itu hanya karyanya.

Bisa dipahami pula mengapa Daud berseru, juga dalam mazmur ini, ”Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” (Mzm. 34:9). Ya, berbahagialah setiap orang yang berlindung pada Allah karena Dia pasti akan turun tangan.

Daud pernah merasakan perlindungan Allah. Kita juga pernah dan akan terus merasakannya, juga di tengah pandemi Covid-19 ini. Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pujian kepada Allah Israel

”Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN!” Demikianlah Daud memulai Mazmur 33. Dia mengajak Israel untuk bersorak-sorai di dalam Allah. Dan ada beberapa alasan Daud dalam Mazmur ini.

Pertama, ”Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur” (Mzm. 33:1). Orang jujur patut memuji Allah. Dengan lain perkataan, pujian itu juga memperlihatkan kejujuran seseorang. Mengapa? Karena semua yang terjadi dalam diri kita sesungguhnya adalah anugerah Allah semata. Dan pujian menyatakan hal itu.

Kedua, ”Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan” (Mzm. 33:4). Alasan memuji Allah adalah karena segala perkataan-Nya itu dapat dipercaya. Itu berarti memuji Allah karena Dia memang tidak pernah ingkar janji. Kesetiaan Allah sesungguhnya juga modal utama kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Ketiga, ”Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada” (Mzm. 33:9). Kita memuji Allah karena dialah Pencipta segala sesuatu. Tak ada yang terjadi di luar sepengetahuan dan izin Allah. Itu berarti, pandemi Covid-19 ini pun tidak diluar izin dan kendali Allah.

Keempat, ”Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (Mzm. 33:18-19). Allah tidak pernah meninggalkan kita. Mata-Allah tertuju kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap kepada-Nya. Dengan kata lain, dalam keadaan apa pun kita adalah fokus anugerah Allah.

Kelima, Anda bisa menambahkan sendiri mengapa Anda mau memuliakan Allah. Terutama di tengah pandemi ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro 
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Diampuni Pelanggarannya

”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Demikianlah Daud memulai Nyanyian Pengajaran yang terekam dalam Mazmur 32.

Daud memang pernah mengalami apa artinya diampuni. Bayangkan jika Tuhan membuang Daud! Gelar Anak Daud untuk Yesus Orang Nazaret mungkin tak pernah ada. Namun, inilah Injil itu: Allah tidak membuang Daud.

Dosa Daud tidak kecil. Perzinaan dengan Betsyeba, membuat dia mengingini milik sesamanya, berdusta, membunuh, dan mencuri istri orang lain. Daud semestinya mati. Akan tetapi—inilah anugerah itu—dia hidup.

Sejatinya kehidupan Daud inilah yang memungkinkan kita berani mengakui dosa kita di hadapan Allah. Mengapa? Karena kita punya contohnya: Daud, leluhur Tuhan kita Yesus Kristus.

Akan tetapi, pengampunan dosa tidaklah terjadi secara otomatis. Pengampunan hanya dialamatkan kepada orang yang menyatakan kesalahannya kepada Allah. Daud mengakui: ”Selama aku tidak mengakui dosaku, aku merana karena mengaduh sepanjang hari” (Mzm. 32:3, BIMK).

Selama menyembunyikan dosanya—meski semuanya tampak baik-baik saja—toh Daud senantiasa gelisah. Ia takut ketahuan. Dan karena itu, ia berusaha menutupi kesalahannya. Caranya: dengan berbuat dosa lagi, dan lagi, dan lagi. Dosa pun makin beranak pinak.

Untuk menghentikan semuanya itu, Daud menetapkan hati: ”Lalu aku mengakui dosaku kepada-Mu, kesalahanku tak ada yang kusembunyikan. Aku memutuskan untuk mengakuinya kepada-Mu, dan Engkau mengampuni semua dosaku” (Mzm. 32:5, BIMK). Itulah yang dilakukan Daud. Ia tidak menyangkal ketika Nabi Natan menyatakan kesalahannya.

Namun demikian, pengampunan dosa tidak membuat kita steril dari kecenderungan berbuat dosa. Dan ketika ada godaan menerpa—juga dalam pandemi ini—kita bisa berkata dalam diri, ”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi.” Keinginan untuk tetap bahagia mungkin akan menolong kita untuk tidak menjatuhkan diri dalam pencobaan.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kuatkanlah dan Teguhkanlah Hatimu

Daud mengakhiri Mazmur 31 dengan sebuah ajakan: ”Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!” Agaknya Daud paham bahwa dalam berharap pun orang-orang pilihan Allah bisa lemah dan goyah. Apalagi jika terlalu lama menantinya.

Itu jugalah pengalaman Daud. Dia mengakui pada ayat 23: ”Aku menyangka dalam kebingunganku: ’Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.’ Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong.”

Memang inilah pengalaman nyata manusia. Mungkin kita pun pernah merasakannya. Ketika menanti terlalu lama, kadang kita merasa Allah membiarkan kita tinggal merana, bahkan membuang. Padahal, sebagaimana pengakuan Daud, Allah mendengarkan seruan umat-Nya.

Di tengah pandemi Covid-19 mungkin ada di antara kita yang berada dalam fase—sekali lagi karena kebingungan—mempertanyakan kasih Allah. Yang sakit enggak sembuh-sembuh, yang sedang menanti hasil swab, yang kehilangan mata pencarian akibat pandemi ini.

Pada titik ini marilah kita berseru seperti Daud, ”Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia!” (Mzm. 31:6). Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ke dalam tangan-Mu kuserahkan diriku”.

Sejatinya diri kita seutuhnya memang milik Allah. Jika Allah memberikan hidup kepada kita hingga hari ini, Dia pasti memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Orang Jawa bilang, ana dina ana upa ’ada hari ada nasi’. Dalam perspektif kristiani: ada hari ada berkat Allah. Percayalah.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mazmur bagi Tuhan

”Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!” (Mzm. 30:4). Demikianlah ajakan Daud kepada orang-orang yang merasa dikasihi Allah.

Harus diakui, kasih memang berkait dengan perasaan. Bukan seberapa banyak kita menerima kasih, tetapi apakah kita merasa dikasihi? Jika kita merasa dikasihi Allah, maka menyanyikan mazmur bagi-Nya merupakan tindakan wajar. Yang tak wajar, merasa dikasihi, namun enggan meresponsnya dalam syukur. Itu namanya enggak tahu diri.

Menarik pula diperhatikan, Daud mengajak umat menjadikan syukur sebagai persembahan. Di sini Allah memang tidak bicara soal harta. Persembahan tidak melulu soal uang. Kata dasar ”persembahan” adalah ”sembah”. Apalah artinya persembahan tanpa sikap hati menyembah? Karena itu, ucapan syukur pun sejatinya mesti tulus, tanpa basa-basi.

Daud punya alasan untuk itu. Dalam Mazmur 30:5 Daud menyatakan: ”Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.” Daud agaknya sengaja membandingkan antara kata ”sesaat” dan frasa ”seumur hidup”. Itu berarti jika dibandingkan dengan kemurahhatian Allah, maka kesengsaraan kita boleh dibilang tak berarti, hanya sebentar.

Dan semua penderitaan pasti akan berakhir. Meski sepanjang malam ada tangisan, waktu tetap bergulir dan akhirnya malam pun berganti pagi. Dengan kata lain, meminjam judul lagu Eros Jarot, badai pasti berlalu.

Karena itu, di tengah pandemi Covid-19, marilah kita bersyukur! Bersyukur bahwa kita masih diberi nafas hidup. Kehidupan, apa pun keadaannya, berarti masih ada kesempatan bagi kita untuk melakukan sesuatu.

Mungkin baik, sebagai ucapan syukur, kita berikhtiar dengan menyanyikan lagu ini: ”Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan b’ri. Hidup ini harus jadi berkat.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Berhiaskan Kekudusan

”Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!” Demikianlah Daud memulai Mazmur 29. Daud mengajak semua makhluk surgawi untuk hanya memuji dan memuliakan TUHAN. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Pujilah TUHAN, hai makhluk-makhluk surgawi, pujilah keagungan dan kuasa-Nya.”

Pujian mensyaratkan pengakuan bahwa Allah adalah pencipta dan yang lain adalah ciptaan-Nya. Pengakuan ini menjadi penting karena—mengutip Lord Acton—”kekuasaan cenderung menyimpang, dan kuasa mutlak pasti korup”. Makhluk surgawi pun tak steril dari kecenderungan ini. Karena itu, Daud mengajak mereka semua untuk memuji keagungan dan kuasa Allah.

Menarik disimak, keagungan dan kuasa Allah, dalam ayat-ayat berikutnya, diuraikan bak refrein—suara TUHAN penuh kekuatan, penuh semarak, mematahkan pohon, menyemburkan nyala api, membuat padang gurun gemetar. Dan karena itu—ini ajakan Daud kepada semua makhluk—”Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!” (Mzm. 29:2).

Berhiaskan kekudusan merupakan panggilan umat percaya. Mengapa? Karena kita milik Allah. Allah itu kudus, masak kita kagak? Lagipula, bukankah kita senang disebut anak Allah. Kalau Bapa kita kudus, dan kita tidak hidup kudus, lalu kita anak siapa?

Berkait kekudusan, mungkin lebih gampang dilakukan ketika kita bertemu banyak orang. Dan ketika tidak ada orang yang melihat, kadang kita merasa aman bertindak semaunya. Toh tidak ada orang yang melihat.

Nah, masa pandemi Covid-19—yang membuat kita di rumah saja—bisa menjadi ajang latihan yang baik untuk tetap mengupayakan kekudusan hidup—baik dalam kata, juga karya. Bagaimanapun, anggota keluarga kita semestinya menjadi orang-orang pertama yang merasakan status kita sebagai anak-anak Allah.

Sekali lagi, mari kita menghidupi panggilan kita, yaitu berhiaskan kekudusan!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional