Posted on Tinggalkan komentar

Celakalah Para Gembala….

”Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!” (Yer. 23:1). Demikianlah kecaman Allah kepada para pemimpin Israel karena mereka membiarkan umat-Nya hilang dan terserak. Mengapa? Sebab mereka hanya menggembalakan diri sendiri. Mereka cuma mengutamakan kepentingan sendiri.

Pada masa itu, menurut Derek Kidner, walau raja memiliki kuasa yang besar, penanganan urusan-urusan kecil biasa diserahkan kepada bawahannya. Dengan kata lain: tergantung pada kejujuran dan ketekunan atau keculasan dan kemalasan para bawahanlah kesejahteraan atau kesengsaraan warga negara. Dalam Perjanjian Lama, para bawahan ini lazim disebut gembala-gembala. Sejarah menunjukkan betapa hebat godaan terhadap para penguasa—baik di tingkat tinggi maupun rendah—untuk menyalahgunakan jabatan. Dan itulah yang dikritik Allah dalam nubuat Yeremia!

Di mata Allah, para pemimpin Israel itu telah lupa hakikat selaku gembala. Mereka melihat para pengikutnya hanya sebagai objek. Objek yang dapat diperlakukan sekehendak hati mereka. Mereka hanya menikmati susunya, bulunya, dagingnya, tetapi lupa tugas sebagai gembala.

”Gembala” adalah kata dasar; kata kerjanya ”menggembalakan”. Kata kerja itu mengandaikan ada yang digembalakan. Tetapi apa mau dikata, mereka tidak memelihara domba-domba itu. ”Gembala” hanyalah jabatan tanpa tindakan. Mereka adalah gembala-gembala palsu. Kalaupun bertindak, jauh melebihi wewenangnya. Meski hanya ”gembala”, mereka bertingkah laku seperti pemilik. Mereka lupa, mereka hanyalah orang  yang dipercaya Sang Pemilik Domba sebagai gembala. Jelaslah, mereka telah menyia-nyiakan kepercayaan itu.

Allah tak hanya menuntut pertanggungjawaban, tetapi juga menjatuhkan vonis: ”Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan yang jahat, demikianlah firman TUHAN. Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekor pun” (Yer. 23:2, 4).

Ketika para gembala tak lagi melaksanakan mandat, Allah mengambil tugas itu. Allah mengambil domba-domba yang pernah dipercayakan kepada para gembala itu dan mengangkat gembala-gembala lain. Tindakan logis. Tak ada gunanya memberikan kepercayaan kepada orang yang tak layak dipercaya.

Dalam dunia kerja, atasan adalah gembala dari para bawahannya; manajer adalah gembala dari para karyawannya; pemimpin adalah gembala dari para pengikutnya. Dan jabatan merupakan anugerah Allah. Pada titik ini hidup kudus dari para gembala itu menjadi keniscayaan sekaligus panggilan.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Karya Terbaik dengan Cara Baik

”Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Ams. 22:29).

Dalam Alkitab BIMK: ”Pernahkah engkau melihat orang yang cakap melakukan pekerjaannya? Orang itu akan dipekerjakan di istana raja-raja, bukan di rumah orang biasa.”

Ada kaitan erat antara kualitas dan lokasi kerja. Tempat orang yang cakap bekerja bukanlah di rumah orang biasa, tetapi di istana raja.

Tanggung jawab besar hanya diperuntukkan bagi orang-orang berkualitas. Ini sungguh lumrah. Kita pun sering melakukannya. Misalnya: Jika televisi kita rusak, apakah kita akan memercayakannya kepada sembarang orang? Tentu tidak. Itu namanya bunuh diri. Televisi kita bukannya makin baik, malah tambah rusak. Pastilah kita mempercayakannya kepada ahlinya. Bahkan kita berani bayar mahal untuk itu. Jelas, kepercayaan kita terhadap seseorang berkait erat dengan kualitas pekerjaannya. Kepercayaan berbanding lurus dengan kualitas kerja. Dunia membutuhkan kualitas kerja. Jadi, jangan sekali-kali meremehkannya.

Kerja berkait pula dengan hati. Kualitas kerja, bagaimanapun baiknya, tetap menjadi cela jika tidak berdasarkan ketulusan. Dan lambat laun, gaya macam begini akan membuat diri kita tidak berkualitas lagi. Dengan kata lain, kita dipanggil untuk menghasilkan karya terbaik melalui cara yang baik. Tujuan yang baik, karya yang baik, memang harus dilakukan dengan cara yang baik. Dan hanya orang-orang seperti inilah yang akan mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar. Sekali lagi karena dia mampu berkarya baik dengan cara baik.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional