Posted on Tinggalkan komentar

Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin

(Luk. 16:19-31)

Perumpamaan Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin memperlihatkan kepada kita bahwa kehidupan dunia berpengaruh besar terhadap kehidupan pascadunia. Peribahasanya: ”Siapa yang menabur angin akan menuai badai”.

Lihatlah Orang kaya itu! Yang dilakukannya membawa akibat buruk di dalam kekekalan. Pemahaman semacam ini mengandaikan adanya kehidupan setelah kematian. Orang Jawa punya peribahasa _urip mung mampir ngombe_ ’hidup hanya mampir minum’. Hanya sebentar. Setelah kehidupan fana di dunia, ada masa yang lebih kekal sifatnya.

Namun, waktu yang dikaruniakan Allah—meski singkat—bukan tanpa konsekuensi. Perumpamaan itu memperlihatkan bahwa Allah menuntut tanggung jawab manusia. Allah mengaruniakan kehendak bebas dalam diri manusia dalam menggunakan waktu. Karena itulah, Allah menuntut pertanggungan jawab.

Mungkin Anda bertanya-tanya dalam hati, ”Apa salahnya jadi orang kaya?” Tentu tak ada salahnya menjadi kaya. Apalagi, jika kekayaan itu berasal dari kerja keras dan bukan korupsi.

Namun, perhatikan dengan cermat, Yesus memulai kisahnya dengan: ”Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.”

Dia memang kaya. Pakaiannya mahal dan hidupnya mewah. Bisa jadi kekayaannya itu merupakan warisan orang tuanya. Lalu, mengapa pula dia mesti masuk neraka? Apakah dia masuk neraka karena kekayaannya atau karena apa?

Sejatinya, bukan karena kekayaannya. Tak ada salahnya menjadi kaya. Persoalan orang kaya itu adalah tidak peka lingkungan. Lukas mencatat: ”Di depan pintu rumahnya diletakkan seorang miskin bernama Lazarus. Badannya penuh dengan borok. Ia ingin mengisi perutnya dengan remah-remah yang jatuh dari meja orang kaya itu. Anjing bahkan datang menjilat boroknya.”

Tampaknya, orang kaya itu dengan sengaja membiarkan si Miskin itu tetap dalam kemiskinannya. Pada masa itu, orang kaya biasa mengelap tangan mereka bukan dengan serbet, tetapi roti. Dan roti bekas lap tangan itulah yang dimakan Lazarus! Orang kaya itu memang tidak peka.

Bahkan, di akhirat orang kaya itu tak peka terhadap lingkungannya. Ia meminta Abraham agar menyuruh Lazarus menolong dia. Baginya Lazarus hanya pantas menjadi pesuruh. Meski nasibnya terbalik, si Kaya itu tetap mau meninggikan diri.

Ketika masih hidup dan berkedudukan tinggi, orang kaya itu tak butuh apa-apa—juga Tuhan! Ia tak peduli ada orang yang kelaparan dan sakit di dekat pintu rumahnya. Sebetulnya ia bisa berbuat baik kepada Lazarus. Sedikit kebaikan takkan mengurangi miliknya. Malah ia akan beruntung karena kebaikannya nanti akan diingat di akhirat. Boleh jadi ia juga tak percaya ada kelanjutan hidup di akhirat.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hukum Taurat

(Luk. 16:18)

”Setiap orang yang menceraikan istrinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berzina; dan siapa saja yang kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berzina.” Bagaimanakah membaca dan memahami perintah Yesus ini?

Yang tidak boleh kita lupakan, pada masa itu perempuan dianggap sebagai benda yang bisa diperlakukan sesuka-suka suaminya. Seorang perempuan hanya dapat menceraikan suaminya apabila suami itu sakit kusta, murtad atau memperkosa seorang gadis. Sebaliknya, seorang laki-laki Yahudi lebih leluasa dalam menceraikan istrinya, bahkan dengan alasan yang remeh sekalipun, seperti: ketika sang istri merusakkan sepiring nasi, memintal di jalan, berbicara dengan laki-laki yang tidak dikenal atau berbicara tidak sopan tentang suaminya.

Yesus Orang Nazaret menjunjung tinggi kehidupan perkawinan. Serentak dengan itu Dia juga menolak perceraian semena-mena yang dilakukan para suami. Baik pula jika kita membaca ayat ini dalam satu napas. Artinya, suami itu menceraikan istrinya karena akan menikah dengan perempuan lain. Dan Sang Guru menyatakan itu adalah zina. Dengan demikian melanggar perintah ke-7 dari Sepuluh Firman.

Dan tindakan perceraian macam begini tidak hanya berkait dengan dirinya sendiri. Suami macam begini akan menyebabkan laki-laki lain berzina karena menikah dengan istri yang ditelah diceraikannya. Dengan kata lain, tindakan perceraiannya membuat laki-laki lain berzina. Bayangkan sang suami membuat laki-laki berbuat salah melanggar Sepuluh Firman. Oleh karena itu, ini perintah Yesus Orang Nazaret: Jangan bercerai!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hukum Taurat

(Luk. 16:16-17)

”Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai zaman Yohanes; dan sejak itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang memasukinya dengan paksa. Lebih mudah langit dan bumi lenyap daripada satu titik dari hukum Taurat batal.”

Tak terlalu mudah memahami ucapan Sang Guru. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Hukum-hukum agama yang diberikan oleh Musa dan nasihat-nasihat para nabi tetap diajarkan sampai pada saat Yohanes Pembaptis muncul di tengah-tengah masyarakat. Sejak saat itu Kabar Baik dari Allah mulai diberitakan terus, yaitu kabar mengenai bagaimana Allah memerintah sebagai Raja. Dan orang-orang berusaha keras untuk bisa menjadi umat yang diperintah oleh Allah. Meskipun demikian, peraturan-peraturan Allah tetap berlaku dan tidak akan dihapus. Langit dan bumi bisa lenyap, tetapi peraturan Allah sama sekali tidak bisa lenyap, biarpun hanya satu huruf.”

Jelaslah, penerapan Hukum Taurat pada zaman Yesus sesungguhnya masalah penafsiran. Penafsiran yang legalistik hanya akan membuat orang merasa terbeban dan akhirnya malah menyerah untuk melakukannya. Itulah yang dikritik Yesus Orang Nazaret. Bagi Dia kemanusiaan lebih signifikan ketimbang aturan. Jika aturan malah membuat kehidupan menjadi tidak manusiawi, aturan itulah yang perlu diperbarui. Bagaimanapun aturan memang dibuat agar kehidupan menjadi lebih manusiawi.

Sehingga, mudah dipahami, jika Yesus Orang Nazaret sendiri tak ingin membatalkan Hukum Taurat. Persoalannya bukanlah pada hukum itu sendiri, namun pada penafsirannya. Dan Yesus, Sang Guru, mencoba membarui penafsiran orang-orang sezamannya. Dengan cara begitu, banyak orang berusaha keras menjadi umat Allah. Sebab mereka menjadi lebih sadar bahwa Hukum Taurat adalah untuk manusia dan bukan sebaliknya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hamba Uang

(Luk. 16:14-15)

”Orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, mendengar semua ini, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka, ’Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.’”
Orang-orang Farisi itu menertawakan Yesus. Bisa jadi mereka mengejek Yesus karena manusia memang tidak bisa dipisahkan sepenuhnya dari uang. Manusia pada kenyataannya memang butuh uang untuk menjalani hidupnya.

Jika itu pemahaman mereka, sejatinya mereka tak begitu memahami ajaran Yesus. Sang Guru tidak mengatakan bahwa manusia tidak butuh uang. Namun, Yesus mengingatkan bahwa uang adalah sarana dan bukan tujuan hidup manusia. Manusia memang butuh uang, tetapi jangan menjadi hamba uang. Itulah memang persoalannya. Dan itu juga yang sering membuat manusia jatuh. Dia pikir dia menguasai uang, tetapi sering kali malah uang yang menguasainya.

Dan Yesus selanjutnya mengingatkan dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Kalianlah orang yang di hadapan orang lain kelihatan benar, tetapi Allah tahu isi hatimu. Sebab apa yang dianggap tinggi oleh manusia, dipandang rendah oleh Allah.”

Ya, Allah mengetahui hati manusia: apakah mereka menguasai atau dikuasai uang. Dan setiap orang yang merasa dirinya benar, tidak menghiraukan ajaran Yesus berkait dengan uang, akan dipandang rendah Allah. Sebab mereka tak lagi menjadi hamba Allah, tetapi hamba uang.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Allah atau Mamon?

(Luk. 16:13)

”Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Demikianlah nasihat Yesus. Mamon berasal dari bahasa Aram yang berarti harta benda. Dalam bukunya, Khotbah di Bukit, John Stott menyatakan ada saja orang yang tidak setuju dengan ucapan Yesus ini. Mereka menolak dihadapkan pada pemilihan yang begitu gamblang. Mereka mengakui bahwa itu hanyalah soal pengelolaan waktu belaka dan itu mereka buktikan dalam praktik. Mereka mengatakan bahwa mereka bisa mengabdi kepada Allah pada hari Minggu dan mengabdi pada mamon pada hari lainnya.

Namun, itu bukanlah yang dimaksud Yesus. Di sini Yesus tidak bicara soal dua majikan. McNeile pernah berkata: ”Manusia memang bisa bekerja untuk dua majikan, tetapi tidak ada satu orang hamba yang memiliki dua tuan. Sebab kemilikan tunggal dan kesiapsiagaan selama 24 jam adalah tuntutan mutlak perhambaan.”

Jadi, setiap orang yang membagi kesetiaannya antara Allah dan mamon, pada dasarnya telah memberikan keseluruh kesetiaannya kepada mamon. Sebab kepada Allah, orang hanya dapat mengabdi dengan kesetiaan yang utuh, menyeluruh, dan mantap.

Sedikit contoh, jika kita bekerja di perusahaan jasa, maka sejatinya majikan kita itu banyak, yakni pelanggan kita. Namun, kita sama-sama tahu bahwa mereka memilih kita karena di mata mereka kita dapat dipercaya. Nah, persoalannya ialah apakah kita memang sungguh-sungguh dapat dipercaya.

Kalau sudah begini, kita sungguh-sungguh tahu bahwa jika kita berfokus hanya pada keuntungan belaka, dan mulai mengurangi kualitas, maka pelanggan kita lambat laun akan pergi meninggalkan kita. Sejatinya, di tempat kerja pun pilihannya tetap apakah kita mengabdikan diri kepada Allah atau kepada mamon. Dan mengabdi kepada Allah sungguh perilaku logis.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Setia dalam Hal-hal Kecil

(Luk. 16:10-12)

”Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan siapa saja yang tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?”

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari nasihat Yesus Orang Nazaret. Pertama, baik pekerjaan besar maupun pekerjaan kecil memperlihatkan bahwa orang-orang yang melakukan pekerjaan itu merupakan orang kepercayaan. Dan kepercayaan itu mahal harganya. Mana yang hendak kita pilih: menjadi direktur utama sebuah bank yang tidak dipercaya nasabahnya atau menjadi pemilik bengkel sepeda motor yang dipercaya oleh pelanggannya?

Kedua, baik hal besar maupun hal kecil, dari keduanya dituntut sebuah pertanggungan jawab. Si pemilik modal akan meminta pertanggungan jawab. Tak seorang pun yang bisa lepas dari tanggung jawab ini. Artinya, kita tidak boleh suka-suka.

Ketiga, orang yang menangani hal besar dan hal kecil dituntut untuk setia. Setia berarti menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Tidak berhenti di tengah jalan. Setia berarti melaksanakan tugas hingga selesai. Kesetiaan memang bicara soal stamina. Jangan hanya semangat di awal, tetapi semangat pelayanan seharusnya terus menyala hingga akhir. Stamina berarti berkaitan erat dengan ketahanujian atau ketahanbantingan seseorang. Tidak cepat putus asa merupakan panggilan seorang pelayan.

Keempat, kita tidak hanya dituntut untuk setia, tetapi juga dituntut untuk bertindak benar. Benar berarti tidak salah. Benar berarti tidak main-main. Benar berarti serius. Benar berarti fokus. Bertindak benar merupakan masalah kualitas.

Kelima, kepercayaan itu akan bertambah seturut dengan respons kita dalam menanggungjawabi pekerjaan. Saat diberi pekerjaan kecil tidak bertanggung jawab, mungkinkah akan diberi pekerjaan besar? Kalau mungkin, maka yang salah adalah si Pemberi Kerja.

Setialah dalam hal kecil! Hanya dengan itulah kita akan mampu menanggung hal besar!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bendahara yang Tidak Jujur

(Luk. 16:1-9)

Apa yang hendak Tuhan Yesus ajarkan kepada para murid-Nya berkenaan perumpamaan ini? Sang Guru jelas tidak menyetujui ketidakjujuran sang Bendahara. Bagaimanapun, dia tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. Tak hanya lalai dalam perhitungan, dia sengaja menghamburkan harta majikan.

Lalu, mengapa Yesus memujinya? Sederhana saja, Yesus memuji kecerdikan sang Bendahara karena mampu menyadari keberadaan masa depannya dan cekatan mengambil tindakan-tindakan nyata.

Dalam perumpamaan itu, nasibnya sudah jelas. Dia telah dipecat. Tentang masa depannya, dia cukup tahu diri.
Perhatikan solilokuinya: ”Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.” Masa depannya gamblang di depan mata: _nggak_ mungkin bertani apalagi ngemis. Namun, penglihatan masa depan itu tidak membuatnya berdiam diri.

Dia ingin selamat. Itulah visinya sekarang. Agar tetap hidup, dia harus berbuat sesuatu. Demi mempertahankan hidupnya, dia mengambil jalan untuk mengambil hati orang-orang yang mempunyai utang terhadap tuannya. Dengan cara demikian, dia telah berupaya menyelamatkan nyawanya. Tindakannya itu membuat dia berpiutang budi.
Itulah visi. Namun, jangan berhenti pada visi. Visi yang kuat haruslah mendorong manusia bervisi melakukan aksi. Visi tanpa aksi hanyalah impian. Dan aksi tanpa visi hanya kegiatan tanpa arah. Visi bendahara tadi jelas: menyelamatkan nyawanya. Keinginan menyelamatkan nyawa tersebut membuatnya melakukan tindakan-tindakan nyata. Dan itulah misi.

Tak ada gunanya mengagungkan visi tanpa realitas. Tiada guna memuliakan visi tanpa karya nyata. Tak ada gunanya visi tanpa misi! Itu sama halnya dengan pepesan kosong. Dan dunia berubah karena visi dan dicapai dengan melakukan misi.

Perumpamaan Yesus memperlihatkan bahwa para murid-Nya seharusnya tidak hanya memikirkan masa depan, tetapi mereka dapat melakukan sesuatu yang baik di masa kini. Kita perlu belajar dari bendahara yang tidak jujur, yang mampu melihat ke depan, memperhitungkan realitas, dan mampu bertindak di masa kini secara tepat. Kita perlu bermisi!

Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi masa di depan. Tetapi, kita dapat mewarnai masa depan itu hari ini. Jika kita mewarnai dengan warna-warna suram, maka suramlah masa depan kita. Jika kita mewarnai dengan warna-warna cerah, maka cerahlah masa depan di tangan kita. Anda ingin masa depan cerah? Warnailah masa kini dengan warna-warna cerah!

Ya, bertindaklah! Tanpa misi, visi tak akan pernah menjadi kenyataan!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bapa yang Murah Hati

(Luk. 15:31-32)

Menanggapi kemarahan si Sulung, yang merasa diperlakukan tidak adil, Sang Bapa tetap menyapa Si Sulung dengan sebutan akrab: ”Anakku”. Dengan lembut Sang Bapa menjelaskan: ”Engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Jelaslah, si Sulung telah salah konsep. Sebagai hamba dia memang tidak akan dapat memiliki harta ayahnya. Namun, Sang Bapa menyatakan bahwa dia adalah anak. Dan sebagai anak, apa yang dimiliki Bapa sejatinya miliknya jua.
Sang Bapa juga berupaya mengubah konsep si Sulung dari ”anak Bapa” menjadi ”adikmu”. Dia memang anak Bapa, tetapi hubungan mereka adalah kakak-adik. Dan karena itu patut bergembira karena yang mati hidup kembali, yang hilang telah didapat kembali.

Dengan cara begini, sepertinya Sang Perawi hendak memperlihatkan bahwa keterbukaan Yesus terhadap pemungut pajak dan pendosa janganlah diartikan sebagai penolakan terhadap kaum Farisi dan ahli Taurat, yang diwakili si Sulung. Merekalah yang tinggal di rumah dan memelihara tanah pertanian. Mereka menjaga hukum. Mereka bertanggung jawab. Itu merupakan hal baik. Kadang sebagai Kristen kita lebih suka mendiskreditkan kaum Farisi dan ahli Taurat.

Menarik pula disimak, kenyataan bahwa Yesus Orang Nazaret membuat rawi-Nya berakhir terbuka bisa diartikan bahwa Dia ingin ahli Taurat dan orang Farisi menanggapi pesan-Nya dan menerima pemungut pajak dan pendosa masuk ke dalam kerajaan Allah.

Cerita Yesus memang tidak hendak dimaksudkan hanya mengajak para pendengar berpikir apakah dia si Bungsu atau si Sulung. Lebih jauh, perumpamaan ini hendak memperlihatkan bahwa Allah menerima keduanya. Allah Bapa mengasihi kedua tipe manusia ini.

Kelihatannya, kita juga perlu mengubah judul perumpamaan ini dari ”Anak yang Hilang” menjadi—mengutip cerita anak H.A. Oppusunggu—”Bapa yang Murah Hati”. Sesungguhnya, kedua anak tersebut dalam kondisi sama-sama menghilangkan diri mereka. Keduanya—baik yang keluar rumah maupun yang di dalam rumah—sama-sama anak hilang. Dan ”Bapa yang Murah Hati” menerima keduanya tanpa syarat.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Curhat Si Sulung

(Luk. 15:29-30)

”Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani Bapa dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak Bapa yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka Bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia.”

Demikianlah curhat si Sulung. Menurut Jirair Tashjian, yang mengutip Kenneth E. Bailey, si Sulung lebih menganggap dirinya sebagai budak yang bekerja pada Sang Bapa, ketimbang anak yang diberi kepercayaan memelihara harta ayahnya. Tampaknya dia lebih suka menjadikan dirinya budak ketimbang anak.

Alasan budak melayani tanpa syarat bukanlah kasih. Sebagai budak, hidupnya terus dibayangi rasa was-was, takut kalau-kalau pelayanannya tidak menyenangkan sang tuan. Sulitlah mengharap kreatifitas dalam dirinya karena dia selalu takut salah.

Si Sulung menyatakan bahwa ayahnya tak pernah memberikan seekor anak kambing kepada dirinya. Agaknya dia lupa, sebagai anak dia memiliki segala sesuatu. Dia ingin anak kambing yang dapat disembelih dan dijadikan modal pesta dengan sahabat-sahabatnya. Jelas dia menganggap orang-orang dalam rumahnya bukan sahabatnya. Jika dia menyelenggarakan pesta, maka dia hanya ingin menyelenggarakannya bersama dengan para sahabatnya.

Si Sulung menyebut saudaranya ”anak Bapa”. Dia tidak menyebut saudaranya ”adikku”. Itu berarti dia tidak menganggap Si Bungsu sebagai saudaranya. Absurd memang, bagaimana mungkin menyebut seseorang sebagai anak bapaknya, tetapi tidak menganggapnya sebagai adik? Sejatinya, ini hanya terjadi pada hubungan saudara tiri?

Kemudian si Sulung menyatakan bahwa saudaranya telah menghambur-hamburkan harta ayahnya. Ini jelas memperlihatkan bahwa ia lebih baik ketimbang adiknya. Si Sulung membuat cerita yang membuatnya adiknya tampak lebih buruk ketimbang dirinya.

Di atas semuanya itu, jelaslah si Sulung merasa diperlakukan tidak adil. Dan karena itu dia tidak mau masuk rumah, yang bagi dia telah menjadi sarang ketidakadilan.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sang Bapa Keluar Rumah

(Luk. 15:28b)

”Lalu ayahnya keluar dan membujuknya.” Demikianlah kisah Sang Perawi. Sang Bapa tak ingin anak sulungnya ada di luar rumah. Dalam logika Sang Bapa, baik si Bungsu maupun si Sulung tempatnya ada di dalam rumah. Sehingga ketika tahu bahwa anak sulungnya marah dan tak mau masuk rumah, Sang Bapa pun keluar rumah. Sang Bapa meninggalkan pesta itu untuk menemui anak sulungnya. Dalam pemahaman Sang Bapa tinggal di luar rumah berarti sama halnya dengan memutus hubungan dengan-Nya.

Pada titik ini kisah si Bungsu pun terulang—sama-sama di luar rumah—tentu saja dengan pelaku yang berbeda. Keduanya disengaja. Pada waktu sebelumnya si Bungsu sengaja keluar rumah dan menjauhi Sang Bapa dan kini si Sulung sengaja tidak mau masuk rumah dan enggan mendekati Sang Bapa.

Menarik disimak, Sang Perawi, Yesus Orang Nazaret, menyatakan ada perbedaan perlakuan Sang Bapa terhadap kedua anaknya. Jika kepada si Bungsu, Sang Bapak tidak mendekati dan membujuknya saat dia di luar rumah, kepada si Sulung Sang Bapak merasa perlu keluar rumah untuk mendekati dan membujuk si Sulung.

Bisa jadi Sang Perawi ingin memperlihatkan bahwa Sang Bapa sungguh mengasihi si Sulung. Sang Bapa merasa perlu bertindak lebih. Jelas juga bahwa si Sulunglah prioritas Sang Bapa saat itu. Dan karena itu, Sang Bapa merasa perlu membujuknya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional