Posted on Tinggalkan komentar

Aku Telah Bosan Hidup

(Ayb. 10:1-7)

”Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku. Aku akan berkata kepada Allah: Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau beperkara dengan aku. Apakah untungnya bagi-Mu mengadakan penindasan, membuang hasil jerih payah tangan-Mu, sedangkan Engkau mendukung rancangan orang fasik?” (Ayb. 10:1-3).

Demikianlah pengakuan Ayub. Dengan gamblang dia menyatakan bahwa dia telah bosan hidup. Ayub tidak menyembunyikan perasaannya. Dia sungguh bingung dengan apa yang terjadi padanya. Dan karena itu dia mengeluh. Ayub menggugat Allah. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Ya Allah, janganlah aku Kaupersalahkan; jelaskanlah mengapa aku Kaulawan. Apa untungnya jika Engkau menindas begini, dan membuang hasil karya-Mu sendiri? Apa untungnya jika Engkau mendukung pendapat dan rencana para penjahat?”

Ya, Ayub butuh penjelasan. Dia merasa ditindas dan dibuang Allah. Dan dia heran mengapa Allah menindas dan membuangnya. Ayub bertanya, ya apa untungnya bagi Allah menimpakan semua penderitaan itu kepadanya. Dan kalau memang enggak ada untungnya, mengapa Allah melakukannya? Bahkan dengan lugas dan berani Ayub berkata, dalam ayat 7 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Sebenarnya Engkau tahu dan sadar, bahwa aku tak salah, tetapi benar.”

Ayub sungguh berani. Di hadapan Allah, Sang Mahatahu, dia mengatakan bahwa Allah sejatinya tahu bahwa dia tidak bersalah. Ya, Ayub sungguh berani.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tidak Ada yang Bertahan di Hadapan Allah

(Ayb. 9:1-35)

Ayub mengamini pernyataan Bildad. Katanya, ”Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah? Jikalau ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat membantah-Nya. Allah itu bijak dan kuat, siapakah dapat berkeras melawan Dia, dan tetap selamat?”

Itulah yang diakui Ayub. Dengan kata lain, Ayub hendak mengatakan kepada para sahabatnya bahwa dia mengakui bahwa Allah memang benar—Allah tak pernah salah. Tak ada manusia yang benar di hadapan Allah, tak ada pula yang bisa membantah-Nya. Karena Dia memang Allah, Sang Pencipta.

Dalam Akitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Memang, aku tahu, kata-katamu itu tak salah. Tapi, mana mungkin manusia berperkara melawan Allah dan mengalahkan-Nya? Dari seribu pertanyaan yang diajukan Allah, satu pun tak dapat dijawab oleh manusia.” Bisa juga diterjemahkan: ”Manusia dapat menanyakan seribu pertanyaan kepada-Nya; Ia pun tak akan mau menjawabnya.”

Ayub memang memahami bahwa Allah berkuasa, juga berdaulat. Namun, yang sungguh tidak dipahami Ayub adalah mengapa Allah menimpakan semuanya itu kepada-Nya. Dalam ayat 15-18, Ayub mengakui: ”Walaupun aku benar, aku tidak mungkin membantah Dia, malah aku harus memohon belas kasihan kepada yang mendakwa aku. Bila aku berseru, Ia menjawab; aku tidak dapat percaya, bahwa Ia sudi mendengarkan suaraku; Dialah yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku dengan tidak semena-mena, yang tidak membiarkan aku bernafas, tetapi mengenyangkan aku dengan kepahitan.”

Jelas di sini Ayub kelihatannya sengaja menyatakan bahwa Allah sengaja membiarkannya hidup, namun untuk mengenyangkannya dengan kepahitan. Dan dia tidak dapat menggugat Allah. Bahkan Ayub pun menambahkan dalam ayat 33: ”Tidak ada wasit di antara kami, yang dapat memegang kami berdua!”

Pada titik ini sesungguhnya Ayub sedang menggugat Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tanggapan Bildad

(Ayb. 8:1-22)

Bildad orang Suah tak bisa menahan hati. Dia pun mulai menegur Ayub. ”Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu? Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka. Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu” (Ayb. 8:2-6).

Tak ada yang salah dari perkataan Bildad. Dia tampaknya gusar karena Ayub terus menganggap dirinya benar, dan secara tak langsung mulai menyalahkan Allah. Sehingga Bildad mulai mengajak Ayub untuk berefleksi dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Allah tidak pernah membengkokkan keadilan; tidak pernah gagal menegakkan kebenaran.”

Di mata Bildad Allah sungguh adil dan benar. Sehingga yang penting adalah pengakuan Ayub. Hanya itulah yang akan memulihkan keadaan Ayub—tentu dengan pemahaman bahwa Allah adalah Pribadi yang rahimi.

Bildad pun perlu menegaskan—lagi-lagi dengan gaya bahasa retorik—”Dapatkah pandan bertumbuh tinggi, kalau tidak di rawa, atau mensiang bertumbuh subur, kalau tidak di air? Sementara dalam pertumbuhan, sebelum waktunya disabit, layulah ia lebih dahulu dari pada rumput lain. Demikianlah pengalaman semua orang yang melupakan Allah; maka lenyaplah harapan orang fasik, yang andalannya seperti benang laba-laba, kepercayaannya seperti sarang laba-laba” (Ayb. 8:11-14).

Dengan demikian, Bildad gamblang menyatakan bahwa Ayub tak beda dengan orang fasik. Penderitaan Ayub kemungkinan besar karena ada dosa yang belum diakuinya. Dan karena itu, mengaku dosa adalah jalan terlogis.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Hidup Itu Berat

(Ayb. 7:1-21)

Dalam ayat 1-3, Ayub menegaskan: ”Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.”

Nada bicaranya seperti keluhan. Semua serba tidak menyenangkan. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Manusia itu seperti dipaksa berjuang; hidupnya berat seperti hidup seorang upahan; seperti budak yang merindukan naungan; seperti buruh yang menantikan imbalan. Bulan demi bulan hidupku tanpa tujuan; malam demi malam hatiku penuh kesedihan.”

Itulah yang dirasakan Ayub. Penderitaannya, juga kecaman sahabatnya, membuat Ayub jatuh ke dalam lubang ”mengasihani diri sendiri”. Seakan memang tidak ada baiknya hidup itu. Bahkan, dalam ayat 16 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini Ayub mengakui: ”Aku lelah dan jemu hidup; aku ingin mati! Biarkan aku, sebab hidupku tidak berarti.” Ayub merasa semua serbasia-sia, dan lebih baik mati saja.

Menarik disimak, Ayub pun merasa perlu bertanya kepada Allah: ”Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku?” (Ayb. 7:20). Ayub memang tak mengerti mengapa Allah yang disembahnya dengan tekun itu membiarkannya dalam penderitaan.

Apa pun penilaian kita terhadap keluh kesah Ayub ini, yang bisa kita pelajari adalah Ayub jujur. Dia tidak sok kuat. Dia sungguh-sungguh menyatakan rasa kecewanya kepada Allah. Dan sepertinya Ayub tahu, hanya Allah yang sanggup menjawab semua pertanyaannya itu.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Sahabat Sejati

(Ayb. 6:14-30)

”Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa. Saudara-saudaraku tidak dapat dipercaya seperti sungai, seperti dasar dari pada sungai yang mengalir lenyap, yang keruh karena air beku, yang di dalamnya salju menjadi cair, yang surut pada musim kemarau, dan menjadi kering di tempatnya apabila kena panas; berkeluk-keluk jalan arusnya, mengalir ke padang tandus, lalu lenyap.” (Ayb. 6:14-18).

Demikianlah sindiran Ayub terhadap para sahabatnya. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ayat 14-15, lebih gamblang: ”Dalam derita seperti ini, kudambakan sahabat sejati. Entah aku masih tetap setia atau sudah melalaikan Yang Mahakuasa. Tetapi kamu, hai kawan-kawan, tak dapat dipercaya dan diandalkan. Kamu seperti kali yang habis airnya, di kala hujan tak kunjung tiba.”

Ya, Ayub merindukan sahabat sejati. Ayub mengakui, dia bisa saja salah dan tak lagi setia kepada Allah. Namun, dia tetap merindukan sahabat yang sungguh-sungguh dapat dipercaya dan diandalkan. Sahabat yang tidak seperti sungai tanpa air kala kemarau. Ayub berharap persahabatan itu tetap ada dan tak terpengaruh situasi dan kondisi imannya.

Pada titik ini Ayub merasa tak lagi dipercaya. Ayub memohon, ”Ajarilah aku, maka aku akan diam; dan tunjukkan kepadaku dalam hal apa aku tersesat. Alangkah kokohnya kata-kata yang jujur! Tetapi apakah maksud celaan dari pihakmu itu? Apakah kamu bermaksud mencela perkataan? Apakah perkataan orang yang putus asa dianggap angin?” (Ayb. 6:24-26).

Sebenarnya Ayub memang hanya ingin didengar dan tak berharap komentar. Namun, perkataan Elifas membuat dia meradang karena merasa enggak dipercaya. Sekali lagi Ayub memohon dalam ayat 28-30 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Coba, perhatikanlah aku; masakan aku ini berdusta kepadamu? Jangan bertindak tak adil, sadarlah! Jangan mencela aku, aku sungguh tak salah. Apakah pada sangkamu aku berdusta, tak bisa membedakan yang baik dan yang tercela?”

Ya, Ayub hanya ingin dipercaya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Kata-kata

(Ayb. 6:1-13)

”Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang, dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca! Maka beratnya akan melebihi pasir di laut; oleh sebab itu tergesa-gesalah perkataanku. Karena anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku, dan racunnya diisap oleh jiwaku; kedahsyatan Allah seperti pasukan melawan aku” (Ayb. 6:2-4).

Demikianlah pengakuan Ayub. Dia menyadari kekesalan hatinya membuat dia cepat berkata-kata. Dan ketika kata-kata itu keluar dari mulut, tak ada seorang pun yang bisa menariknya kembali. Yang bisa dilakukan hanyalah permintaan maaf dan mohon pemakluman dari pendengarnya.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Andaikata duka nestapaku ditimbang beratnya, pasti lebih berat daripada pasir samudra. Jadi, jangan heran jika kata-kataku kurang hati-hati serta terburu-buru. Panah dari Yang Mahakuasa menembus tubuhku; racunnya menyebar ke seluruh jiwa ragaku. Kedahsyatan Allah sangat mengerikan, dan menyerang aku bagai pasukan lawan.”

Sebenarnya Ayub cuma curhat. Namun, Elifas menganggapnya lebih dari curhat. Mungkin karena Elifas sungguh mengasihi Ayub, sehingga tak rela jika tidak menegur Ayub. Bisa saja Elifas, sebagai sahabat tentunya, merasa dipanggil untuk menegur Ayub. Bukankah seorang sahabat harus berani menegur? Membiarkan Ayub sesat pikir bukanlah kebijakan.

Akan tetapi, teguran terhadap orang yang tidak siap ditegur hanyalah membuat yang ditegur makin merana. Itu pulalah yang terjadi pada diri Ayub. Tindakan Elifas hanya membuat skala penderitaan Ayub bertambah. Jika awalnya Ayub mengutuki hari kelahirannya, sekarang dia malah berkata, ”Ah, kiranya terkabul permintaanku dan Allah memberi apa yang kuharapkan! Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!” (Ayb. 6:8-9).

Ayub berharap Allah membunuhnya karena dia merasa tak ada lagi pertolongan baginya. Dan kesimpulan itu keluar dari mulut karena merasa sahabatnya tak lagi peduli dengannya. Kata-kata Elifas membuat Ayub merasa lebih suka mati saja.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Tanggapan Elifas

(Ayb. 4–5)

Kemungkinan besar keluh kesah Ayub mengagetkan para sahabat Ayub. Bagaimanapun Ayub dikenal sebagai pribadi saleh dan jujur, juga takut akan Allah. Tindakan Ayub mengutuki hari kelahirannya tak bisa dibenarkan. Itu sama saja marah kepada Allah. Bukankah kelahiran ada dalam kuasa Allah?

Tak bisa menahan diri, Elifas pun menegur Ayub, ”Ayub, kesalkah engkau bila aku bicara? Tak sanggup aku berdiam diri lebih lama. Banyak orang telah kauberi pelajaran, dan mereka yang lemah telah kaukuatkan. Kata-katamu yang memberi semangat, membangunkan orang yang tersandung, lemas dan penat. Tetapi kini engkau sendiri ditimpa duka; kau terkejut, dan menjadi putus asa. Bukankah engkau setia kepada Allah; bukankah hidupmu tiada cela? Jika begitu, sepantasnyalah engkau yakin dan tak putus asa” (Ayb. 4:2-6, Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini).

Elifas tampaknya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jika itu dikatakan oleh orang biasa itu terasa wajar. Namun, ketika itu keluar dari mulut Ayub—orang yang sering menguatkan hati orang dalam penderitaan—terasa sangat janggal. Dalam pemahaman Elifas, Ayub berbuat demikian karena putus asa.

Sebagai sahabat, sampai di sini kata-kata Elifas sungguh baik. Hanya, di sinilah persoalannya, keluh kesah Ayub membuat Elifas berpikir bahwa Ayub memang punya persoalan dengan Allah. Berbeda dengan istri Ayub yang sungguh mengenal suaminya, Elifas malah curiga terhadap kesalehan Ayub selama ini. Dan kata-katanya kemudian menjadi penghakiman: ”Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga. Mereka binasa oleh nafas Allah, dan lenyap oleh hembusan hidung-Nya.” (Ayb. 4:7-9).

Jika kalimat Elifas berhenti pada ayat 6, Ayub kemungkinan besar akan berterima kasih karena diingatkan. Namun, kalimat berikutnya yang bernada vonis, pastilah menyakitkan hati Ayub. Seakan-akan Elifas berkata, ”Mbok kamu sadar, Yub! Sepertinya ada kejahatan yang kamu sembunyikan. Akuilah dan bertobatlah!”

Selanjutnya Elifas berkata, ”Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula” (Ayb. 5:17-18). Kalimat-kalimat Elifas ini terkesan menguatkan, namun sejatinya Elifas hendak mengatakan bahwa semua itu teguran Allah. Dan itu berarti Ayub memang bersalah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Keluh Kesah Ayub

(Ayb. 3:1-26)

”Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan. Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya. Biarlah kegelapan dan kekelaman menuntut hari itu, awan-gemawan menudunginya, dan gerhana matahari mengejutkannya” (Ayb. 3:3-5).

Demikianlah Ayub memulai keluh kesahnya. Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa pula Ayub mengeluh? Bukankah dia pribadi tegar yang tahan banting? Bukankah dia yang bilang: ”Masak kita mau menerima yang baik, namun tidak mau menerima yang buruk?” Lalu mengapa pula dia mengutuki hari kelahirannya?

Bisa jadi Ayub menunggu pemulihan dari Allah. Mungkin juga dia berharap para sahabatnya membuat Allah luluh. Namun, seminggu telah berlalu dan ternyata keadaan tak berubah. Ayub pun banyak bertanya ”mengapa”? Mengapa dia lahir? Mengapa ada orang tua yang merawatnya? Mengapa dia tidak mati saja setelah lahir?

Bagaimanapun Ayub memang manusia. Dia bukan superman. Sehingga dia bertanya, mengapa pula dia mesti lahir kalau harus merasakan semuanya itu. Sehingga dia mengeluh dalam ayat 20-21 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Mengapa manusia dibiarkan terus hidup sengsara? Mengapa terang diberi kepada yang duka? Mereka lebih suka kuburan daripada harta, menanti maut, tapi tak kunjung tiba.”

Kelihatannya Ayub memang lebih suka mati ketimbang hidup. Tak heran dalam kalimat terakhir dia berkeluh dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Bagiku tiada ketentraman, aku menderita tanpa kesudahan.”

Ya, Ayub menderita tanpa kesudahan. Namun, menarik disimak pula, Ayub tak berniat bunuh diri. Sebab dia tahu kelahiran dan kematian adalah wewenang Allah sendiri. Dan dia masih menghargai Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Para Sahabat

(Ayb. 2:11-13)

”Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Téman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.”

Catatan penulis tentang ketiga sahabat Ayub menarik dicermati. Mereka datang dari tempatnya masing-masing untuk menghibur dia. Tampaknya mereka tak perlu menunggu waktu lama untuk bertemu dengan Ayub.

Penulis mencatat, mereka bertiga tidak mengenal Ayub lagi. Tampaknya barah busuk yang menimpa di sekujur tubuh Ayub membuat mereka tak mampu mengenali sahabatnya lagi. Kenyataan itulah yang membuat mereka mengoyakkan jubahnya dan menaburkan debu di kepala saking sedihnya. Tindakan mereka tak beda dengan Ayub kala semua harta, juga anaknya, musnah. Dan ini menariknya, mereka duduk bersama selama seminggu dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Bisa jadi selama seminggu itu mereka melayani Ayub berkait dengan makanan dan minumannya. Namun, semuanya itu dilakukan tanpa kata. Mereka juga tidak bertanya agar mendapatkan jawaban Ayub. Mereka hanya diam. Mungkin mereka tahu Ayub pun pasti sulit menjawab pertanyaan mereka. Ya, tanpa kata. Dan itulah penghiburan sejati.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on 1 Komentar

Belajar dari Istri Ayub

(Ayb. 2:7-10)

Segala harta, juga anak-anak, Ayub telah musnah. Kehidupan Ayub jatuh ke titik nadir. Barah busuk pun ada di sekujur tubuhnya, dari telapak kaki hingga kepala. Saking gatalnya, Ayub merasa perlu mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya. Sudah jatuh, ketimpa tangga. Harta tiada, tubuh pun menderita.

Namun, derita Ayub belum selesai. Sang istri yang sangat mengerti tabiat Ayub tak bisa menahan diri. Dengan lugas dia berkata, ”Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ayb. 2:9). Sudah jatuh, ketimpa tangga, lalu koma.

Meski demikian, janganlah kita terlalu menyalahkan istri Ayub. Ia sangat mengenal Ayub. Dalam konsep zaman itu—juga masih banyak dianut hingga kini, saleh diberkati, jahat dikutuk. Ia sangat mengenal suaminya. Dia tahu Ayub saleh. Jadi, dalam kasus ini yang patut dipersalahkan bukan Ayub, tetapi Allah. Sehingga ia meminta Ayub untuk mengutuki Allah, yang telah bertindak tidak adil, dan bunuh diri.

Istri Ayub tak mampu memahami dan menerima apa yang terjadi pada suaminya. Ia agaknya merasakan penderitaan Ayub. Ketika kehilangan harta dan anak, istri Ayub masih bisa bertahan. Tidak terdengar satu kata pun dari bibirnya. Usulan sang istri agar Ayub bunuh diri, sejatinya bukanlah karena dia tidak sayang lagi dengan suaminya. Kemungkinan besar karena dia sangat menyayangi Ayub.

Ayub tak sepakat dengan istrinya. Ia malah memarahi istrinya. Ayub berkata, ”Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayb. 2:10). Dan perempuan itu pun diam.

Kita bisa belajar dari sepasang suami-istri ini. Mereka tetap bertahan dalam penderitaan. Mereka tetap menjadi suami-istri. Alkitab mencatat bahwa sang istri tidak pernah meninggalkan suaminya. Dia memang tidak dapat menerima apa yang terjadi pada suaminya. Dia juga tidak bisa memahami pola pikir dan pola iman suaminya. Namun, ia tetap setia mendampingi suaminya. Dia tidak meninggalkan Ayub.

Bahkan, ketika Ayub menghardiknya sebagai perempuan gila, perempuan itu tidak menjawab apa-apa. Agaknya, ia sadar telah berbuat salah. Diam adalah jawaban terbaik saat itu. Itulah yang bisa kita pelajari darinya. Silence is gold.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional