Posted on Tinggalkan komentar

Karunia Memahami

(Luk. 8:9-10)

”Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, ’Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.’”

Para murid mengaku tak tahu maksud perumpamaan Sang Guru. Dan karena itu mereka bertanya. Ini hal logis. Kalau enggak tahu, ya sebaiknya bertanya. Daripada salah tafsir, semestinya bertanya kepada sumber pertama.

Menariknya, Sang Guru sendiri mengemukakan bahwa Dia sengaja mengajar dengan perempumaan agar tak semua orang memahami. Yesus Orang Nazaret ternyata selektif dalam pengajaran-Nya. Jelas pula di sini bahwa pemahaman pun merupakan karunia. Sang Guru sendirilah yang memberikan karunia pemahaman, sehingga para murid-Nya dapat mengerti.

Lalu, apakah makna praktis dari penjelasan Sang Guru bagi kita pembaca masa kini? Pertama, bersyukurlah kalau kita mampu memahami ajaran Yesus. Itu berarti kita dianggap layak untuk memahaminya. Namun, tak perlu kita sombong, sebab itu bukan melulu karena kepandaian dan kebijaksanaan kita. Itu hanya karunia.

Kedua, tak perlu kita bingung atau sakit hati, jika ada orang yang masih tak mengerti berkait dengan iman Kristen kita. Mengapa? Karena mereka belum mendapatkan karunia pemahaman itu. Namun demikian, kita juga jangan bosan dan akhirnya berhenti mengajar. Sebab kita juga tidak tahu kapan tepatnya Allah memberi karunia pemahaman itu.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Penabur dan Jenis Tanahnya

(Luk. 8:4-8; 11-15)

”Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.” Demikianlah Sang Guru memulai ajaran-Nya. Di awal pengajaran, Yesus berbicara mengenai hakikat penabur. Seorang penabur memang harus keluar rumah dan menabur. Jika dia hanya tinggal dalam rumah dan berpangku tangan saja, dia bukanlah penabur, lebih tepat disebut penganggur.

Sebagai penabur profesional, tentunya dia telah menyiapkan benih bermutu. Benihnya bukanlah sembarang benih. Tidak asal benih, tetapi sungguh berkualitas. Benih bermutu menjadi penting karena sebagus apa pun tanahnya, jika benihnya sembarangan maka tidak akan pernah mencapai hasil maksimal.

Prof. Sjamsoeoed Sadjad, pakar benih, berulang kali menegaskan pentingnya benih berkualitas unggulan. Apa pun jenis tanahnya, benih bermutu tetap penting. Sebab, sebaik apa pun jenis tanah, tidak akan mengubah benih yang berkualitas rendah menghasilkan produk unggulan. Dan itu jugalah inti kisah Yesus. Meski benih sama mutunya, namun hasilnya berbeda karena jenis tanah berbeda.

Jenis tanah pertama menggambarkan orang yang tidak mengerti akan firman Allah itu. Ini disebabkan bukan karena kebodohan, tetapi mereka sendiri memang tidak begitu peduli terhadap firman Allah. Mereka tidak mau mengerti. Cuek.

Jenis tanah kedua menggambarkan orang yang hanya mengutamakan emosi. Cepat menerima firman, bersemangat, tetapi akhirnya hilang percuma karena penganiayaan.

Jenis tanah ketiga menggambarkan orang yang hanya mengutamakan rasio. Orang semacam ini, mudah terjebak dalam bahaya kompromi hingga tidak berbuah sama sekali, karena dipusingkan oleh hal-hal yang belum tentu terjadi.

Jenis tanah keempat ialah orang yang mengutamakan hati dan akal budi dalam mendengarkan firman Allah. Ada keseimbangan di sini. Ketika penganiayaan datang, tidak lekas tumbang imannya karena memahami bahwa itulah panggilan kristiani. Akan tetapi, tidak dikhawatirkan oleh krisis-krisis di masa datang, karena tahu bahwa Allah jauh di luar logika manusia.

Nah, pertanyaannya sekarang: Kita jenis tanah yang mana? Jika Saudara ingin menjadi jenis tanah keempat, kita perlu memohon sebelum mendengarkan firman Allah: ”Berikanlah kepada kami hati bersih dan pikiran jernih!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perempuan-perempuan yang Melayani Yesus

(Luk. 8:1-3)

”Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka” (Luk. 8:3). Mereka bukan laki-laki. Mereka perempuan—golongan yang kurang mendapat tempat dalam budaya Yahudi. Namun, Yesus mengizinkan mereka terlibat dalam pelayanan-Nya. Mereka beroleh kesempatan melayani. Jelaslah, dari awalnya, pelayanan bukanlah monopoli kaum laki-laki.

Catatan Lukas itu agaknya menyiratkan suatu penghormatan khusus. Kelihatannya, mereka bukan tipe ibu rumah tangga, yang sibuk mengurus konsumsi. Lukas menyatakan, mereka melayani rombongan Yesus itu dengan kekayaan mereka. Mereka mendukung pelayanan Yesus dengan kocek mereka.

Beberapa hal perlu kita renungkan dengan cermat. Pertama, pelayanan butuh modal. Dan modal terbesar bukanlah uang. Modal terbesar adalah manusia. Uang penting. Namun, uang hanya alat. Bagaimanapun, manusialah yang punya uang.

Kedua, pelayanan bukan untuk mencari kekayaan. Mereka tidak menjadikan pelayanan menjadi ajang untuk mengumpulkan uang, tetapi mereka malah mengeluarkan uang. Semua itu dilakukan dengan rela.

Dalam catatan Lukas terdapat beberapa nama: Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan banyak perempuan lain. Teofilus, pembaca pertama Kitab Lukas, tentu mengenal nama-nama itu. Kemungkinan, mereka memang orang berpengaruh di jemaat mula-mula.

Misalnya, Yohana. Dia istri dari Khuza, bendahara Herodes. Tentunya, dia seorang terpandang. Kemungkinan besar dia seorang bangsawan. Yang pasti, dia orang kaya.

Dia agaknya paham, kekayaannya hanya alat. Sehingga dengan mudah dia menggunakannya untuk mendukung pelayanan Yesus. Bisa jadi, dia juga memahami apa yang dimilikinya itu berasal dari Allah. Karena merasa diberi, tak sulit baginya untuk memberi.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Perempuan Berdosa

(Luk. 7:36-50)

”Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.”

Demikianlah Lukas mengurai kisahnya. Entah mengapa Lukas tidak menyebut nama perempuan itu kepada Teofilus, juga kita yang sekarang ini membaca kisahnya, hanya menyatakan bahwa orang mengenalnya sebagai perempuan berdosa. Bisa jadi Lukas tak sampai hati. Mungkin saja perempuan itu sudah menjadi tokoh terkenal dalam jemaat mula-mula. Namun, Lukas tak mau sedikit melewatkan kisah ini dalam Injil yang ditulisnya.

Kisahnya sederhana. Yesus diundang makan oleh seorang Farisi bernama Simon. Nah, perempuan itu tiba-tiba datang, membasahi kaki Yesus dengan minyak wangi dan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya.

Simon tak terima dengan tindakannya. Bisa jadi, dia merasa tindakan itu kekanak-kanakan sifatnya. Masak iya, minyak wangi yang mahal itu dibuang percuma. Buat basuh kaki lagi. Tak hanya itu, Simon merasa perempuan itu tak layak melakukannya bagi Sang Guru.

Pada titik ini Sang Guru turun tangan. Dia mengingatkan Simon bahwa perempuan itu hanya hendak menyatakan kasihnya kepada Yesus. Kita tidak tahu apakah perempuan itu sudah pernah bertemu Yesus sebelumnya. Jika tidak, tindakannya itu sebenarnya merupakan tindakan iman semata. Dia berani memperlihatkan kasihnya meski tahu ada kemungkinan ditolak.

Dengan kata lain, Yesus hendak menyatakan bahwa siapa pun boleh menyatakan kasih. Simon, juga kita pembaca masa kini, tak boleh menghalang-halanginya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dablek

(Luk. 7:31-35)

”Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis” (Luk. 7:31-32).

Demikianlah keluhan, bahkan kecaman, Yesus kepada masyarakat Yahudi yang tidak mau bertobat. Istilah Jawa yang dapat dikenakan bagi orang macam begini adalah dablek. Bagaimana tidak dablek? Masyarakat Yahudi tidak ambil pusing meskipun dinasihati, bahkan dimaki-maki, oleh Yohanes Pembaptis. Mereka tebal telinga. Mereka tidak bercermin. Bahkan diam saja ketika Herodes memenjara Putra Zakharia itu. Mereka, ya, itu tadi, dablek!

Mereka tetap diam. Bergeming. Tidak ada perubahan. Kalau menggunakan isitlah anak muda zaman sekarang, mereka sudah ”cuek bebek”! Atau, kalau mau bereaksi mereka kemungkinan besar akan berseru, ”Emangnya, gue pikirin!”

Sang Guru sendiri heran akan kondisi masyarakat Yahudi pada waktu itu. Mereka menolak Yohanes dengan alasan dia terlalu nyentrik. Bagaimana nggak nyentrik? Pakaiannya terbuat dari bulu unta, berikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan, dan tinggalnya di gurun, jauh dari manusia.

Dan mereka menolak Yesus, dengan alasan orang Nazaret itu pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Padahal, baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis, yang memang memiliki gaya hidup berbeda, menyuarakan hal yang sama, yaitu pertobatan.

Sekali lagi, mereka tidak melihat esensi pemberitaan kedua sepupu itu, namun mereka lebih melihat kenyentrikan Yohanes Pembaptis dan Yesus. Mereka lebih melihat orangnya ketimbang apa yang dikatakannya. Mereka lebih melihat penyanyinya, dan bukannya lagunya. Dan kalau mereka tidak suka dengan orangnya, bagaimanapun baiknya mereka bernyanyi, lagu tersebut tetap dianggap tidak ada artinya sedikit pun.

Lalu, apa artinya catatan Lukas bagi kita, orang percaya, di abad XXI ini? Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, masihkah kita menyebut diri sendiri Kristen? Sebutan ini bukan sebutan biasa. Artinya: pengikut Kristus. Pengikut Kristus berarti mengikuti Kristus. Tentunya, bukan tanpa konsekuensi. Ada tantangan dan hambatan dalam mengikuti Kristus. Masih setiakah kita mengikuti Kristus? Mengikuti Kristus berarti hidup sebagaimana Kristus hidup. Standarnya adalah Kristus sendiri! Standar hidup kita adalah Kristus!

Hidup menurut standar Kristus bukan perkara ringan. Kadang kita menyimpang. Jika kita menyimpang, ya akui kesalahan kita. Jangan merasa benar! Jangan dablek!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Lebih Daripada Nabi

(Luk. 7:24-30)

”Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi.”

Ya, lebih daripada nabi. Demikianlah kesaksian Yesus tentang sepupunya. Dia bukanlah rumput yang tertiup angin. Prinsip hidupnya jelas, juga tegas. Kenyataan bahwa Yohanes Pembaptis tidak berpakaian halus dan tinggal di gurun—makanannya pun belalang dan madu hutan—membuat dia tidak perlu menjilat siapa pun. Kesederhanaan membuatnya mampu hidup merdeka.

Yohanes Pembaptis bukan sekadar nabi karena dia adalah Sang Perintis—yang menyiapkan jalan bagi Yesus Orang Nazaret. Dia memang bukan pribadi sembarangan. Mengingat beberapa murid terbaik Yohanes Pembaptis, misalnya Andreas, menjadi murid Yesus Orang Nazaret memperlihatkan bahwa Yohanes Pembaptis menjalankan perannya sebagai pembuka jalan. Yohanes Pembaptis boleh dibilang sebagai pribadi yang menyiapkan sekelompok orang Israel untuk menjadi pengikut Yesus nantinya. Itulah yang membuatnya lebih daripada nabi.

Namun, ini menariknya, agaknya Sang Guru mengajak para murid-Nya tidak terpaku pada kebesaran Yohanes Pembaptis. Dalam perspektif Kerajaan Allah, yang terbesar adalah dia yang memilih menjadi yang terkecil dan melayani semua.

Nah, menariknya pula, Yohanes Pembaptis semasa hidup pernah berkata tentang Yesus Orang Nazaret, ”Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30). Jelaslah, Yohanes Pembaptis memang orang besar.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Harapan Yohanes Pembaptis

(Luk. 7:18-23)

Yohanes Pembaptis di penjara. Dia, yang pernah begitu menggetarkan hati banyak orang, tak lagi bisa bertemu dan menegur orang sesukanya. Penjara telah membatasi tubuh dan suaranya.

Bisa jadi, pada awal-awal pemenjaraannya Yohanes tak begitu mempersoalkan nasibnya. Sebab, dia ditangkap bukan karena tindak kriminal, tetapi kritikannya. Dan yang menjadi sasaran kritiknya kali ini Herodes—sang penguasa negeri—yang telah menjadikan Herodias, istri saudaranya, sebagai istrinya.

Herodes ternyata tak suka dikritik. Sebagai penguasa, Herodes merasa bisa berbuat apa saja. Dan itulah yang dilakukannya dengan menangkap Yohanes Pembaptis dan menjebloskannya ke dalam penjara.

Nah, di penjara itu Yohanes Pembaptis mendengar tentang pekerjaan Yesus. Sepupunya itu ternyata telah menjadi terkenal. Yesus, orang Nazaret, yang pernah dibaptis olehnya itu, telah melakukan serangkaian mukjizat. Cuma, persoalannya, mengapa Yesus tidak memedulikannya? Tak heran, jika Yohanes Pembaptis mengutus para muridnya untuk bertanya, ”Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?”

Putra Zakharia itu tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya, juga keragu-raguannya. Mengapa Yesus membiarkannya merana dalam penjara? Jika Yesus adalah Mesias, mengapa dia tidak membebaskannya dari penjara? Mengapa Yesus tidak membelanya? Bukankah dia punya kuasa untuk itu?

Atas pertanyaan itu, Yesus dengan lugas dan tegas menyatakan kepada para murid Yohanes untuk mengatakan kepada Yohanes: ”Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”

Namun, lanjut Yesus, ”Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku.” Yesus tampaknya hendak menyatakan bahwa Dia tetap Mesias. Memang, Sang Guru dari Nazaret itu belum mengunjungi sanaknya yang di penjara. Namun, Dia tetap Mesias. Dan Mesias akan melakukan apa yang dipandang-Nya baik.

Dengan kata lain, Yesus adalah Mesias, meskipun tidak melakukan apa yang diharapkan Yohanes Pembaptis. Dan penulis Alkitab mencatat, hingga akhir hidup Yohanes Pembaptis, dua bersaudara itu tak pernah bertemu lagi di dunia. Yesus tetap berharap Yohanes Pembaptis tidak patah arang.

Mengapa Yesus tidak mengabulkan permintaan Yohanes Pembaptis? Pertama, sebab Yesus sungguh Tuhan. Jika Yesus mengabulkan semua permintaan manusia, lalu siapakah yang sesungguhnya menjadi Tuhan?

Kedua, Yesus tahu kekuatan iman Yohanes Pembaptis. Yesus tahu bahwa tanpa kunjungan-Nya pun Yohanes Pembaptis tetap setia kepada Allah. Dan itulah yang memang terjadi. Yohanes Pembaptis mati dalam kesetiaannya kepada Allah.

Tak hanya kepada Yohanes Pembaptis, kepada kita pun Yesus berkata: ”Berbahagialah orang yang tidak menolak Aku.”

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dua Rombongan

(Luk. 7:11-17)

Dua rombongan bertemu. Rombongan yang satu penuh sukacita karena baru saja menyaksikan kisah penyembuhan hamba seorang perwira, rombongan yang lain penuh dukacita karena mengantar mayat seorang anak laki-laki untuk dikuburkan. Bukan anak laki-laki biasa, dia adalah anak tunggal dari seorang janda. Kehilangan anak tunggal berarti juga kehilangan topangan hidup. Dan jangan lupa, dalam budaya Yahudi berarti garis keturunannya sudah putus. Tak ada lagi anak.

Yesus, yang menyaksikan semuanya itu, tergerak hatinya oleh belas kasihan. Berkait hal ini catatan Stefan Leks menarik disimak: ”Kata Yunani yang dipakai di sini, yaitu splankhnizesthai, sesungguhnya mengacu kepada emosi yang begitu kuat sehingga mengguncangkan manusia secara fisik, terutama di bagian usus-ususnya. Namun, selain emosi autentik, iba Yesus ini menunjukkan pula kesadaran-Nya akan peranan-Nya sebagai Mesias: Ia datang kepada manusia untuk menyatakan kasih Allah yang sering ditampilkan dalam Perjanjian Lama.

Yesus sungguh memahami apa artinya kematian dan dampak yang ditimbulkannya. Berkait janda itu, jelaslah dia tak lagi punya pegangan hidup. Dan tak berhenti di situ, Yesus melakukan sesuatu. Alhasil: anak itu bangkit dari kematian.

Pada titik ini Yesus sedang memperlihatkan wajah Allah kepada janda tersebut. Yesus membangkitkan anak tersebut. Yesus memberikan kehidupan. Kedua rombongan itu menjadi takut dan mulai memuji Allah. Mereka pun berkata satu sama lain: ”Seorang Nabi besar sudah muncul di tengah-tengah kita. Allah telah datang dan menolong umat-Nya.” Kedua rombongan itu pun larut dalam sukacita.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Iman Sang Perwira

(Luk. 7:1-10)

Kita tak pernah tahu nama perwira di Kapernaum itu. Lukas melukiskan perwira itu sebagai seorang yang sangat mengasihi hambanya. Agaknya, itulah yang menarik perhatian Lukas. Bisa jadi sikap Sang Perwira berbeda dari kebanyakan perwira pada masa itu. Dia begitu mengasihi, sehingga berusaha melakukan apa saja agar hambanya sembuh. Bahkan, Sang Perwira merasa perlu minta tolong kepada beberapa tua-tua Yahudi agar menemui Yesus untuk memohon pertolongan-Nya.

Mulanya dia berharap Yesus mau datang ke rumahnya. Namun kemudian, dia merasa tak layak menerima Yesus di rumahnya. Dia menyuruh utusan menyampaikan pesan kepada Yesus: ”Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk. 7:6-7).

Kemungkinan besar, Sang Perwira itu sadar ada batasan bagi orang Yahudi pada masa itu untuk masuk ke rumah orang non-Yahudi. Kelihatannya, dia juga tak merasa perlu merepotkan Yesus.

Dia juga merasa tidak layak datang kepada Yesus atau menerima Yesus di rumah-Nya. Meski para tua-tua mengganggap dia layak ditolong, Sang Perwira memahami ketidaklayakkannya. Oleh karena itu, dia juga tidak merasa perlu menyaksikan bagaimana Yesus menyembuhkan hambanya dengan mata kepalanya sendiri. Dia percaya bahwa Yesus sanggup melakukannya, kalau Dia mau. Inilah iman.

Sikap Sang Perwira sungguh unik. Ketika banyak orang merasa layak ditolong Allah, dia malah menganggap dirinya tidak layak sama sekali. Tuhan Yesus pun heran dengan kenyataan ini, hingga berkata: ”Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” (Luk. 7:9).

Sejatinya, kisah ini bukan hanya kisah penyembuhan, tetapi lebih tepat kisah iman. Dan sesungguhnya, tak seorang di dunia ini yang dapat merasa diri layak ditolong Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mendengarkan dan Melakukan

(Luk. 6:46-49)

Kekuatan sebuah rumah sangat ditentukan oleh fondasinya. Meski dinding-dinding bangunan tersebut terbuat dari batu bata pilihan, tidak akan banyak manfaatnya, manakala fondasinya rapuh.

Demikianlah Sang Guru berkisah: ada dua orang yang membangun rumahnya di atas dasar berbeda. Yang pertama membangun rumahnya di atas batu, sedangkan yang kedua membangun rumahnya di atas tanah tanpa dasar. Jika tidak ada hujan dan banjir, serta angin melanda, tentulah kedua rumah itu masih tegak berdiri. Namun tatkala bencana alam menerpa, hancurlah rumah yang didirikan di atas tanah tanpa dasar.

Kita dapat membayangkan bahwa membangun rumah tanpa dasar tentulah lebih cepat dan mudah. Namun, apalah artinya jika tidak ada kepastian sampai kapan kita dapat berlindung di dalamnya.

Rumah menyimbolkan kehidupan. Yang untuknya diperlukan juga sebuah fondasi yang kokoh. Kita tidak mungkin mengharapkan jalan kehidupan kita di dunia ini akan berlangsung dengan aman-aman saja. Kita juga tidak pernah tahu, kapan prahara kehidupan itu muncul. Meski demikian, semuanya itu dapat diantisipasi dengan fondasi kokoh yang kita miliki. Dan fondasi kokoh itu adalah melakukan firman Allah.

Melakukan firman Allah itu logis. Sebab Allah, Sang Pencipta, tak hanya ingin didengar. Dia berfirman agar kita melakukan titah-Nya. Sebenarnya, aneh juga sih, jika kita hanya mendengarkan, namun tidak melakukannya. Itu sama saja dengan tidak menghargai-Nya.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional