Posted on Tinggalkan komentar

Kualitas Utusan

(Luk. 10:3-12)

”Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Demikianlah perintah Yesus kepada 70 murid, juga kita sekarang ini. Kita harus ingat bahwa kita tidak sedang mengutus diri sendiri. Kita diutus oleh Tuhan sendiri. Sumber pengutusan itu semestinya membuat kita percaya diri karena kita diutus oleh Tuhan sendiri. Tuhan memercayai kita. Kita membawa wibawa pengutus kita.

Nah, dari ucapan Tuhan Yesus tadi, jelaslah bahwa ladang pengutusan kita bukanlah sesuatu yang gampang. Pelayanan bukanlah sesuatu yang mudah. Tekanan dan persoalan seharusnya membuat kita tak terlalu kaget karena kita memang diutus ke tengah-tengah serigala. Persoalannya mungkin sering di sini, banyak orang kaget ketika mendapatkan tekanan dan hambatan dalam pelayanan, dan akhirnya mutung!

Ketika tekanan dan hambatan menghimpit kita, baiklah kita ingat bahwa kita adalah utusan Tuhan sendiri. Kita membawa perbawa Tuhan sendiri. Kita enggak sendirian. Tempatnya memang tak selalu mudah. Karena tak selalu mudah, Allah mengutus kita.

Selanjutnya, ”Janganlah membawa pundi-pundi atau kantong perbekalan atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.” Itu berarti kita tidak boleh menggantungkan diri kepada siapa pun juga kecuali kepada Allah. Allah yang akan membekali kita.

Kemudian, ”Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.” Seorang utusan harus mengusahakan damai sejahtera dalam diri orang-orang yang kepadanya dia diutus. Bukan damai sejahtera utusan, tetapi damai sejahtera orang-orang di ladang pengutusan itu. Pertanyaannya adalah sudahkah kita mengusahakan damai sejahtera di ladang pengutusan kita?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pekerja Sedikit

(Luk. 10:1-2)

”Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka, ’Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan pemilik tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.’”

Kisah pengutusan 70 murid tidak kita temukan di Injil lain. Hanya Lukas yang mencatatnya. Apa maksudnya? Tentu hanya Lukas yang tahu!

Kisah pengutusan ini mirip dengan pengutusan kedua belas murid (Luk. 9:1-6). Kelihatannya Lukas hendak memperlihatkan bahwa yang disebut rasul—artinya orang yang diutus—tak hanya terbatas pada kedua belas murid Yesus.

Angka 70 bermakna simbolik. Angka 70 merupakan kelipatan terbesar (angka 10) dari suatu kelompok yang utuh (angka 7). Itu berarti semua murid diutus Sang Guru. Tak hanya kedua belas murid, tetapi semua murid.

Sebelum pengutusan Yesus menegaskan: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Luk. 10:2). Terdengar seperti keluhan. Pertanyaannya: apakah pekerja memang sedikit?

Bisa jadi ada pekerja, mungkin banyak, tetapi pekerja berkulitas banyakkah? Guru banyak, guru berkualitas banyakkah? Dokter banyak, dokter yang baik? Karyawan pasti banyak, karyawan yang sungguh-sungguh memahami pekerjaan sebagai panggilan hidup? Jawaban kita mungkin seragam: sedikit!

Pekerja itu adalah kata benda! Kata kerjanya bekerja! Aneh rasanya ada pekerja yang tidak bekerja. Pekerja yang tidak bekerja bukanlah pekerja, tetapi pengangguran. Persoalannya banyak pekerja yang maunya tidak bekerja.

Pekerja memang sedikit. Dan karena itulah kita perlu meminta Allah untuk mengirimkan pekerja lagi. Apakah itu berarti bahwa pekerja yang bagus memang harus berasal dari luar? Kita harus berani mengatakan tidak! Ketimbang meminta Allah mengirimkan pekerja dari luar, baiklah kita meningkatkan kualitas kerja kita!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Standar Ketat

(Luk. 9:57-62)

Berkait hal mengikut Yesus, Sang Guru menerapkan standar ketat. Pertama, mengikut Yesus bukanlah perkara mudah. Dan Yesus memang tidak menjanjikan jalan mudah. Ketika ada orang yang dengan bersemangat berkata, ”Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”; Sang Guru berkata kepadanya, ”Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Artinya: janganlah mengharapkan kenikmatan duniawi dalam mengikut Yesus. Jika itu yang menjadi tujuan utama, kita akan kecewa.

Kedua, Sang Guru menghendaki agar keinginan mengikut Dia menjadi hal utama. Kalau mau ikut, ya sekarang, jangan tunda! Jangan menunggu orang tua mati dahulu, baru mengikut Yesus. Undangan Yesus memang terbuka, dan waktunya tak terbatas, tetapi kita tidak pernah mengetahui kapan waktu kita di dunia. Sekali lagi, jangan tunda.

Ketiga, kalau ingin mengikut Yesus, ya fokus! Mengikut Yesus berarti Yesus di depan dan kita mengikuti-Nya dari belakang. Pandangan mata kita harus tertuju ke arah Dia. Jangan menoleh ke belakang! Sama dengan orang yang membajak, dia harus memfokuskan diri ke depan. Jika tidak, alur bajaknya tidak akan lurus.

Jangan menoleh ke belakang! Artinya: jangan lagi terikat pada hal-hal lain. Ingatlah kisah istri Lot! Dia menoleh ke belakang, masih terikat dengan hartanya, dan akhirnya menjadi tiang garam.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Ditolak

(Luk. 9:50-56)

”Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.” Demikianlah catatan Lukas perihal dengan perjalanan Yesus ke Yerusalem.

Di balik kisah penolakan itu, terkandung fakta bahwa orang-orang Samaria itu berkesempatan menerima Yesus. Guru dari Nazaret itu telah mengutus beberapa murid untuk mempersiapkan persinggahan bagi-Nya.

Jelas di sini, desa Samaria itu merupakan tempat yang penting di hati Yesus. Itu juga berarti Yesus membuka diri. Dia hadir untuk semua orang. Sang Guru dari Nazaret tidak bersikap membedakan. Dia menerima orang Samaria sebagaimana Dia menerima orang Yahudi.

Tak mudah memahami alasan di balik penolakan itu. Namun, banyak penafsir menduga bahwa penduduk desa tersebut agaknya tak menyukai semua hal yang berbau Yerusalem.

Sungguh gampang dimaklumi. Pada masa itu orang Yahudi tidak mengakui keberadaan orang Samaria. Di mata orang Yahudi, orang Samaria merupakan kelompok manusia sesat. Itu jugalah yang menyebabkan orang Samaria tak lagi menghormati orang Yahudi.

Penolakan itu tentu saja membuat berang para murid. Di mata mereka orang Samaria itu tak tahu diri. Sudah bagus Yesus menganggap mereka berharga, lalu mengapa mereka meremehkan-Nya? Yakobus dan Yohanes lalu berkata, ”Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Namun, Yesus langsung menolaknya dan menegur mereka.

Yesus menegaskan bahwa orang yang mau mengabarkan kehadiran-Nya tidak boleh mengancamkan hukuman, apalagi mengutuk orang atas nama-Nya. Yesus mengundang semua orang. Tetapi Yesus sendiri tidak mau memaksakan kehendak-Nya atas orang-orang yang diundang tersebut. Yesus menghargai kehendak bebas mereka. Ketika ditolak, Yesus mengambil langkah logis. Dia pergi ke desa lain.

Gereja masa kini perlu belajar dari Sang Guru dalam hal ini. Gereja ada memang untuk dunia. Namun, ketika ada sekelompok orang yang menolak kehadiran gereja, menolak hal baik yang hendak dilakukan, gereja masa kini tak perlu marah, bahkan mengutuk. Langkah sederhana ialah pergilah ke tempat lain. Lain kali, baru kembali lagi ke tempat tersebut. Gereja harus siap ditolak!

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Bukan Pengikut Kita

(Luk. 9:49-50)

”Yohanes berkata, ’Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.’ Yesus berkata kepadanya, ’Jangan kamu cegah, sebab siapa saja yang tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.’”

Demikianlah laporan Yohanes kepada Yesus. Entah apa motivasinya. Mungkin Yohanes, juga para murid yang lain, enggak terima ada orang yang menggunakan nama guru mereka untuk mengusir setan. Bisa jadi mereka iri. Sebab, dalam peristiwa sebelumnya mereka pun tidak mampu melakukannya. Atau, kemungkinan besar mereka memang ingin memiliki Yesus secara eksklusif. Lebih parah lagi kalau mereka malah ingin menguasai Yesus sendirian. Apa pun motivasi mereka, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa tidak melawan berarti sekutu.

Dengan cara begini, sebenarnya Yesus sedang mengajukan logika sederhana. Pertama, ketika seseorang menggunakan formula ”dalam nama Yesus” sebenarnya dia sedang menumpukan dirinya pada Yesus Orang Nazaret. Sedikit banyak dia memercayai bahwa nama itu memang memiliki kuasa. Bukankah ini yang kurang dimiliki para murid? Yang tak boleh dilupakan, jika setan terusir, maka yang mengusir setan itu bukanlah dirinya sendiri, melainkan Yesus Orang Nazaret.

Kedua, tidak ada wilayah abu-abu; tidak melawan Yesus berarti sekutu Yesus. Ini juga memperlihatkan bahwa Yesus memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk mengikuti-Nya nya secara terang-terangan atau tidak. Bagaimanapun, Yesus pastilah mengetahui hati setiap orang. Dan itu sudah cukup bagi Dia. Pada titik ini, Yusuf dari Arimatea merupakan teladan nyata.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Pemimpin Itu Menyambut

(Luk. 9:47-48)

”Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan siapa saja yang menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Menjadi pemimpin dalam pemahaman Yesus bukanlah untuk menguasai, tetapi untuk melayani orang lain. Pemimpin yang melayani. Dengan sengaja Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya.

Yesus mengambil anak tersebut. Tentunya, cara pengambilannya bukanlah dengan paksa. Kalau memang demikian, anak tersebut pasti sudah meronta-ronta. Tak ada paksaan terhadap si anak. Dan saya duga si anak sendiri tidak merasa dipaksa. Bahkan, dia senang saat Yesus mengambilnya.

Marilah kita bayangkan bagaimana paras wajah Yesus waktu itu. Senyumkah? Atau malah cemberut? Kita bisa menduga, Yesus tersenyum. Mana ada anak kecil yang suka dengan orang dewasa yang cemberut? Kita juga bisa menduga bahwa anak itu merasa diterima Yesus. Sehingga, dia tidak keberatan diajak Yesus untuk berdiri di sampingnya.

Berdiri di samping melambangkan kesetaraan. Pemimpin harus bersikap setara terhadap orang yang dipimpinnya. Bahkan, menganggap yang dipimpin lebih tinggi kedudukannya. Dan itulah yang dinyatakan Sang Guru ketika mendorong para murid untuk menyambut anak tersebut. Pemimpin memang mesti bersikap senantiasa menyambut orang yang dipimpinnya. Tak sekadar menyambut, tetapi menyambut dalam nama Yesus. Kepemimpinan seharusnya dilakukan dalam nama Kristus.

Kepemimpinan yang tidak dilakukan dalam nama Kristus akan mudah berubah menjadi menguasai. Sang Pemimpin akan menjadi penguasa. Dan itulah yang tidak pernah dilakukan Kristus. Sebab Dia datang untuk melayani.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Yang Terbesar

(Luk. 9:46)

”Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.”
Kita tidak pernah tahu motivasi di balik pertikaian itu. Bisa diduga, mereka hendak bersiap diri seandainya Yesus tiada lagi bersama mereka. Bukankah pertengkaran ini terjadi setelah pemberitahuan kedua mengenai penderitaan Yesus?

Dengan kata lain, mereka bertengkar tentang pemimpin berikutnya. Sepertinya Yesus tidak pernah secara lugas dan tegas mengatakan siapa yang akan menggantikan-Nya. Yesus tidak mempersiapkan putra mahkota. Karena itu, pertikaian itu menjadi sungguh beralasan. Dan kelihatannya, beberapa murid, mungkin semuanya, ingin menjadi pemimpin.

Motivasi itu tidak sepenuhnya salah. Ya, apa salahnya mencari seorang pemimpin. Apa salahnya menyiapkan pemimpin baru? Apa jadinya organisasi tanpa pemimpin? Namun, yang juga perlu ditanyakan, apakah para murid memahami arti kepemimpinan?

Pemimpin tentulah orang yang memimpin. Pemimpin itu kata benda, kata kerjanya memimpin. Pemimpin haruslah menjadi seorang yang memimpin diri sendiri dan orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Jika demikian, mengapa banyak orang berlomba menjadi pemimpin? Kemungkinan besar, banyak orang telah mengubah predikat pemimpin, dari memimpin menjadi menguasai. Pemimpin akhirnya dipahami sebagai figur yang menguasai orang-orang yang dipimpinnya. Akhirnya, banyak pula yang menganggap pemimpin itu sama dengan penguasa.

Banyak orang ingin jadi pemimpin karena dalam benaknya pemimpin itu adalah seorang yang memiliki kuasa. Dan bicara soal kuasa pastilah ada embel-embel fasilitas di belakangnya. Agaknya inilah yang membuat orang berlomba-lomba, bahkan sikut sana sini, untuk menjadi pemimpin. Sekali lagi, ada fasilitas di belakangnya.

Enggak susah jauh-jauh cari contoh, ketua panitia apa pun pastilah lebih sering difoto ketimbang anggota panitianya. Itu baru ketua panitia, bagaimana dengan jabatan lainnya? Dan jika sudah menyinggung fasilitas, kemungkinan besar orang menjadi lupa tujuan organisasi.

Sejatinya fasilitas itu diadakan bukan untuk memuaskan ego pemimpin, tetapi agar kepemimpinan dapat menjadi lebih berdaya dan berhasil guna. Jika malah menghambat seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya, fasilitas itu seharusnya ditiadakan.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Keluhan Yesus

(Luk. 9:37-43a)

”Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!” Demikianlah tanggapan Yesus kepada para murid-Nya berkait dengan permohonan seorang Bapak.

Bapak itu mempunyai seorang anak laki-laki, anaknya satu-satunya, yang sering diserang roh jahat. Menurut sang bapak, anak itu tiba-tiba menjerit dan badannya kejang, lalu keluar buih dari mulutnya. Mungkin semacam penyakit ayan pada masa sekarang.

Sang bapak telah mencoba membawa anak itu kepada para murid. Mungkin di benaknya terdapat pemikiran bahwa kemampuan seorang murid pastilah tak beda jauh dengan gurunya. Namun, dia mesti menelan kekecewaan karena kesembilan murid itu tak mampu berbuat apa-apa. Rasa kecewa itulah yang disampaikannya kepada Yesus.

Dan karena itulah, Yesus mengeluh. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: ”Kalian sungguh keliru! Kalian sama sekali tidak percaya kepada Allah! Sampai kapan Aku harus tinggal bersama kalian dan sabar terhadap kalian.”

Di mata Yesus para murid belum sungguh-sungguh memercayakan persoalan kesembuhan itu kepada Allah. Bisa jadi praktik penyembuhan yang mereka lakukan masih diwarnai ego. Sehingga praktik penyembuhan itu tak beda dengan orang lain yang hanya mengandalkan diri sendiri dan berharap adanya pujian jika berhasil. Kelihatannya para murid belum sungguh menyerap pelajaran dari Sang Guru, yang senantiasa bergantung kepada Bapa-Nya, dan memang tidak pernah berharap pujian dari orang banyak.

Belum mampu menyerap pelajaran itulah yang dikritik Yesus. Bagaimanapun waktu Yesus di dunia ini semakin sempit. Dan itulah yang dikeluhkan Yesus.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Dengarkanlah Dia

(Luk. 9:28-36)

”Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Luk. 9:33). Petrus sungguh bahagia melihat bagaimana Sang Guru dalam kemuliaan-Nya bercakap-cakap dengan Musa dan Elia.

Bagaimanapun, baik Musa dan Elia merupakan para pemimpin Israel. Jika Musa dikenal sebagai pendiri dan penetap dasar hukum Israel dengan Tauratnya, maka Elia adalah pribadi yang mencoba menjaga kemurnian Israel dalam menaati hukum tersebut. Petrus pasti bangga menyaksikan Sang Guru berada pada level yang sama dengan Musa dan Elia.

Perhatikan, keinginan Petrus membuat kemah bisa diartikan bahwa dia tidak ingin kejadian itu cepat berlalu. Dia ingin berlama-lama berada di gunung itu. Dia tidak ingin meninggalkan gunung itu. Mengapa? Karena dia sudah turut merasakan kemuliaan itu.

Dan akhirnya terdengarlah suara dari dalam awan: ”Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk. 9:35). Kalimat-kalimat itu menjadi penting. Yang pertama adalah pernyataan dan yang kedua adalah perintah.

Pernyataan-Nya: Inilah Anak-Ku yang Kupilih. Dipilih untuk apa? Dan itulah sesungguhnya yang menjadi bahan percakapan antara Musa, Elia, dan Yesus, yaitu: kematian Yesus yang tidak lama lagi akan dijalankan-Nya di Yerusalem.

Sekali lagi, kemungkinan besar para murid tak paham dengan jalan yang akan ditempuh Sang Guru. Bagaimana mungkin Yesus mati dibunuh? Mungkinkah orang membunuh Yesus? Mungkinkah orang menangkap Yesus, setan-setan saja takut kepada-Nya?

Jawabnya: tentu tidak mungkin. Yang mungkin ialah Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dibunuh. Kalaupun Yesus dibunuh, pada hari ketiga Dia bangkit. Bagaimana mungkin itu terjadi? Kisah Yesus dimuliakan di atas gunung memperlihatkan bahwa kebangkitan Yesus bukan kemustahilan. Kisah itu merupakan bukti nyata—Yesus adalah Anak Allah. Pemuliaan Yesus di atas gunung seharusnya mendorong para murid untuk tetap percaya dalam keadaan apa pun juga. Mengapa? Sebab guru mereka mulia.

Perintah-Nya: Dengarkanlah Dia! Sebenarnya ini merupakan implikasi logis dari pernyataan tadi. Jika Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, maka menjalankan perintah-Nya merupakan hal yang wajar. Yang enggak wajar ialah ketika kita lebih suka mendengarkan suara kita sendiri.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Posted on Tinggalkan komentar

Mengikut Yesus

(Luk. 9:23-27)

”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23) Kalimat Yesus ini diucapkan terbatas dalam lingkungan para murid. Namun, Dia mengundang setiap orang.

Sang Guru agaknya dengan sengaja memakai frasa ”setiap orang”. Kalimat ini bersifat universal. Undangan diberikan kepada semua orang. Itu juga berarti setiap orang bisa mengikut Yesus. Ini anugerah. Pertanyaannya: maukah? Nah, ketika mereka mau, syarat-syarat pun meluncur di sini. Setiap murid diminta menempuh Via Dolorosa ’jalan sengsara’—menderita agar makin banyak orang merasakan kasih Allah.

Menyangkal diri berarti rela tidak menggunakan hak. Menyangkal diri bukanlah melupakan hak, tetapi secara sadar tidak menggunakan hak tersebut. Sebagaimana Yesus ”yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:6-7).

Memikul salib berarti siap menanggung sengsara meski bukan bagiannya. Kesengsaraan di sini bukanlah akibat kesalahan sendiri. Memikul salib berarti siap menanggung sengsara karena memahaminya sebagai kehendak Allah.

Mengikut Yesus berarti berjalan di belakang-Nya. Kristuslah yang di depan. Kehendak-Nyalah yang utama. Bukan sebaliknya. Itulah yang ditekankan Yesus kepada para murid-Nya. Mengikut Yesus berarti melakukan apa yang telah diniatkan!

Alasannya sederhana: ”Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 9:24). Jelaslah, mengikut Yesus, meski terkesan berat, tak membuat kita kehilangan apa pun. Juga nyawa kita. Karena Yesus adalah Allah.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional