Posted on Tinggalkan komentar

Devosi Keluarga

Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !”
(Yosua 24:15)

Pada umumnya dalam berbagai keadaan kita memulai hari dengan Firman dan doa. Ini adalah kebiasaan yang begitu baik. Namun, ada hal yang lebih indah. Jika Firman dan doa dilakukan bersama di dalam keluarga.

Keluarga yang beribadah, adalah satu kerinduan dari banyak rancangan suami dan istri di dalam memulai kehidupan berumah tangga. Rumah baru sudah didapat, mungkin saja baru mengontrak. Segala macam perabotan sudah menunjukkan rupa, walau banyak juga yang masih tertahan di toko menunggu untuk ditebus dengan segera. Keuangan sudah mulai diatur bersama walau tidak banyak harta yang tersisa. Semua terlihat berjalan sesuai rencana, rumah tangga mulai memperlihatkan aktivitasnya. Namun, membangun devosi keluarga masih saja menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung beres.

Kita membayangkan devosi keluarga sebagai persekutuan kecil yang indah. Di dalamnya terkandung doa, pujian, dan firman Tuhan. Devosi keluarga diharapkan menjadi waktu berharga yang ditetapkan setiap hari di mana tiap pribadi  akan berkumpul sebagai sebuah keluarga untuk menikmati Tuhan bersama-sama. Setiap anggota berkumpul di ruang tamu, bersama menyanyikan pujian, menyelami keindahan firman Tuhan, terlarut ke dalam percakapan yang menguatkan, lalu ditutup dengan doa bersama. Lebih beruntung jika salah satu pasangan bisa menyanyikan mazmur atau himne dengan suara yang merdu. Segalanya terdengar begitu indah dan sempurna.

Photo by Josh Willink from Pexels

Namun, kenyataannya begitu berbeda.

Kehidupan awal pernikahan menjadi waktu yang sempurna untuk memulainya. Keceriaan dan kebahagiaan masih menjadi warna yang dominan dalam keseharian. Sehari-dua hari dijalani tanpa hambatan berarti. Devosi bersama istri begitu dinanti oleh suami. Begitu juga sebaliknya. Namun, tak lama waktu berselang ketika kesibukan semakin menumpuk, devosi keluarga menjadi tak terurus. Apalagi ketika anak hadir dan mengubah total ritme kehidupan. Devosi keluarga semakin ditinggalkan.

Devosi keluarga, seperti banyak disiplin rohani lainnya memerlukan ketekunan dan kepatuhan untuk setia mengerjakan. Sesuatu yang begitu sederhana, namun begitu banyak orang menganggapnya begitu sulit. Kita sendiri yang membuat kesederhanaan devosi keluarga jauh lebih rumit daripada yang seharusnya. Tidak ada cara terbaik untuk mengukur keberhasilan devosi keluarga kecuali dengan pertanyaan sederhana ini: Apakah kita melakukannya?

Photo by freestocks.org from Pexels

Kita harus melihat ketekunan membangun devosi keluarga adalah pekerjaan membangun jangka panjang. Hari demi hari yang begitu sibuk dan padat, terasa begitu sulit untuk menyediakan waktu untuk berdoa bersama. Kita sering melihat devosi keluarga sebagai kegiatan yang menyita waktu.

Namun, untuk sanggup cinta kita musti memaksa lebih sering berjumpa dengan Dia sang pencipta. Jika kita mengusahakannya dengan tekun, maka ratusan kesempatan yang tersebar secara acak selama belasan atau bahkan puluhan tahun berkeluarga kita akan takjub melihat karya Allah di dalam hati kita sebagai orang tua juga kepada kehidupan anak-anak. Bagian kita adalah terus tekun dan berkeyakinan bawa Allah terus bekerja melalui komitmen yang kita perjuangkan untuk tradisi yang sederhana namun luar biasa: Devosi Keluarga.

Dari Redaksi:
Jika sahabat rindu untuk lebih dalam mempelengkapi kebutuhan rohani keluarga, berikut beberapa buku yang bisa menjadi referensi bagi sahabat:
1. “Bijak Menjadi Orang Tua” ditulis oleh Paul Tripp. Buku ini berisikan 14 prinsip dasar pengasuhan yang berpusatkan Injil.
2. “Anakku Karunia Tuhan” ditulis oleh Daniel Puspo Wardojo. Buku ini memuat kisah-kisah yang menyentuh di dalam belajar bersama di dalam mengasuh anak di dalam kesadaran bahwa anak adalah karunia Tuhan.
3. “Growing Together: Membangun dan Memperkaya Keluarga dalam Tuhan”. Bahan PA ini menolong para orang tua untuk merefleksikan kehidupan keluarga di dalam perenungan akan firman Allah.

Sahabat, kami rindu kita bisa terus bertumbuh bersama di dalam kedewasaan sebagai orang tua melalui koleksi-koleksi literatur yang kami miliki. Kiranya kita bisa mengalami keindahan ini: Keindahan keluarga dialami ketika setiap anggota di dalam keluarga saling mengasihi bukan menuntut untuk dikasihi; memberi, bukan diberi; melayani bukan dilayani.

Salam kasih,

Literatur Perkantas Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *