Posted on Tinggalkan komentar

Menjadi Palungan

Pada Minggu Adven I Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk senantiasa siap menyambut kedatangan-Nya, yaitu: menjaga hati agar jangan disarati pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi (lih. Luk. 21:34). Dengan kata lain, kita harus menanti-Nya dalam suasana hidup penuh kasih dan kekudusan.

Jelasnya: tidak pasif menunggu, melainkan aktif menerapkan keadilan dan kebenaran (lih. Yer. 33:15). Sehingga makin banyak orang yang tertular untuk mempersiapkan diri pula.

Janggal rasanya, merindukan kehadiran kerajaan Tuhan, tetapi tidak hidup sebagai warga kerajaan itu. Kita perlu menyiapkan diri sebaik-baiknya agar tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.

Caranya? Mari bersikap sebagaimana palungan! Pada Kidung Jemaat 84:2, Carl Wilhelm Osterwald menulis: Hatiku biar Kaujadikan palungan-Mu yang mulia dan dalam aku Kaucerminkan terang sorgawi yang baka, sebab dengan kehadiran-Mu keluhan batinku lenyap. Kiranya lahir dalam aku dan tinggalah serta tetap.

Menjadi palungan berarti menjadi tempat. Menjadi palungan berarti menyediakan ruang dalam hati kita untuk Allah dan manusia.

Palungan merupakan tempat makanan. Palungan tak ubahnya piring dalam dunia manusia. Menjadi palungan berarti bersedia menjadi piring. Menjadi palungan berarti sedia menjadi penyalur berkat Tuhan.

Palungan pun tak bersikap diskriminatif. Tak ada tangan dalam palungan. Setiap binatang yang datang kepadanya bisa makan dari palungan tersebut. Palungan menerima semua binatang itu apa adanya. Dia tidak melakukan seleksi. Semua binatang diterimanya tanpa syarat.

Kita juga dipanggil untuk tidak bersikap diskriminatif. Menerima orang lain apa adanya. Inilah sikap yang tepat dalam menyambut kedatangan Yesus yang kedua.

Dan menjadi saluran berkat tanpa diskriminasi sewajarnya dimulai di tempat kerja kita masing-masing.

Selamat bekerja!

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *