Diposting pada

Kuasa Kata

Berhati-hatilah dengan kata! Sekali terlontar dari mulut, kita tidak dapat menariknya kembali. Lagipula, kata memiliki kuasa. Kata-kata yang keluar dari mulut kita memiliki pengaruh besar bagi pendengarnya.

Photo by Ricardo Mancía on Unsplash

Pujian akan membuat orang merasa tersanjung dan terhibur. Namun, makian menyakitkan hati. Kalau sudah begini, perang tanding pun tak akan terhindarkan lagi. Dan itulah yang tampak dalam kisah Daud, Nabal, dan Abigail (1Sam. 25:2-42).

Nabal seorang kaya. Dia punya tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing. Namun, orang kaya ini agaknya tidak memiliki kemampuan dalam menggunakan kata. Dalam hal ini, Nabal telah bertindak ceroboh.

Di hadapan anak buah Daud, Nabal berkata, ”Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini banyak hamba yang lari dari tuannya. Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?”

Perkataan Nabal tidak banyak. Hanya tiga kalimat! Namun, tiga kalimat itu yang membuat Daud berang setengah mati. Sebab, Nabal mempertanyakan eksistensi Daud. Perkataannya itu membuat Daud tersinggung. Harga diri sebagai laki-laki terusik.

Hati Daud pun mendidih dan mengambil sebuah kata kerja, sebagai sikapnya terhadap Nabal, yaitu: ”Bunuh!” Tak hanya Nabal, tetapi seluruh laki-laki yang menjadi pengikut Nabal. Daud pun sudah tak mampu lagi menahan kata-katanya.

Saat kritis itulah Abigail muncul! Dengan lembut Abigail membujuk Daud untuk menarik kata-katanya. Berbeda dengan Nabal dan Daud, sebagai perempuan, Abigail sanggup menggunakan kata-katanya secara bijak. Yang pada akhirnya mampu menyelamatkan banyak orang dari kematian sia-sia.

Kata memang berkuasa. Karena itu, gunakanlah secara bijak! Tak hanya yang keluar dari mulut, tetapi juga yang tertulis di gawai kita.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Satu pemikiran pada “Kuasa Kata

  1. Mungkin di paragraf/alinea terakhir sebagai inti bisa lebih konkrit lagi utk aplikasi keseharian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *