Posted on Tinggalkan komentar

Debora, Barak, dan Yael

Pada suatu masa, orang Israel kembali melakukan kejahatan di mata Tuhan. Sebagai hukuman, Tuhan menyerahkan mereka dalam penjajahan Yabin, raja Kanaan. Tak ada yang berani melawannya karena dia memiliki panglima tiada tanding: Sisera.

Photo by rawpixel on Unsplash

Debora, selaku hakim waktu itu, menugasi Barak untuk mengalahkan Sisera. Namun, Barak tak terlalu antusias. Meski Debora menegaskan bahwa Tuhan yang menyuruh, Barak tetap kecut hati. Barak tak berani menghadapi Sisera. Dia memohon, ”Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju” (Hak. 4:8). Meski menyayangkan usul tersebut, Debora setuju dengan catatan: ”Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan… sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan” (Hak. 4:9).

Itulah yang terjadi. Meski Barak beserta pasukannya mengalahkan tentara Sisera, tetapi dia tidak berhasil membunuh Sisera. Panglima perang itu mati di tangan Yael, istri Heber orang Keni.

Dari sejarah Israel ini, ada beberapa pelajaran penting. Pertama, jika kita tidak mau menerima tanggung jawab, Tuhan akan memakai orang lain. Barak menolak, dan Tuhan memilih Yael. Kedua, kesempatan tak pernah datang dua kali. Sambutlah saat pertama kali muncul! Memang, kata orang, kesempatan tak berwajah—sehingga sulit dikenali; dan berekor licin—yang membuat kita sulit menangkapnya ketika kita menyadarinya.

Karena itu, ”Tunaikan tugas sekarang juga. Jangan tunda! Kemungkinan besar kita tidak bisa mengerjakannya esok hari.” Demikianlah, petuah almarhum ayah saya, yang masih membekas hingga kini. Ketiga, percaya. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita? Karena itu pula, mintalah berkat Tuhan atas setiap karya yang kita lakukan pada kesempatan pertama itu.

Selamat bekerja,

Yoel M. Indrasmoro
Direktur Literatur Perkantas Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *