Posted on Tinggalkan komentar

Rumah Duka

(Pengkhotbah 7:2-4)

Berkait dengan suka atau duka, sang pemikir menyimpulkan: ”Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria.”

Sang pemikir—jika disuruh memilih—ternyata lebih suka pergi ke rumah duka. Alasannya, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini lebih jelas, ”Sebab kita harus selalu mengenang bahwa maut menunggu setiap orang.” Dan kita bisa lebih mengingatnya ketika berada di rumah duka.

Mengapa ingatan setiap manusia pasti mati—kita pun tak tahu waktunya—itu begitu penting? Sebab, itu akan membuat kita lebih serius mengisi hidup ini. Pengalaman di rumah duka sering membuat orang ingin menjalani hidup dengan lebih baik lagi.

Sehingga sang pemikir, dalam ayat 8 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, menegaskan: ”Kesedihan lebih baik daripada tawa. Biar wajah murung, asal hati lega.” Pada titik ini sang pemikir lebih mengutamakan kelegaan diri daripada apa pun. Tak perlu mengejar kesenangan karena itu hanya akan membuat kita terus merasa kurang. Ujung-ujungnya malah tidak tenang. Padahal bukankah itu dambaan kita semua?

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan