Posted on Tinggalkan komentar

Pada TUHAN Aku Berlindung

”Pada TUHAN aku berlindung, bagaimana kamu berani berkata kepadaku: ”Terbanglah ke gunung seperti burung!’” (Mzm. 11:1). Inilah akta iman Daud. Seakan-akan dia berkata kepada orang yang tak menyukai dirinya, ”Kok berani-beraninya kamu mengusir saya!” Daud memahami bahwa Allah adalah tempat perlindungannya.

Selanjutnya Daud percaya: ”TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia” (Mzm. 11:4). Setiap peristiwa yang terjadi di dunia ini, Allah mengetahui dan mengizinkannya terjadi. Tak ada sesuatu yang diluar pengamatan-Nya. Dalam terminologi Jawa: Gusti mboten sare ’Allah tidak tidur’. Dan karena Allah tidak pernah tidur, biarlah kita menyerahkan diri hanya kepada-Nya.

Penyerahan diri secara total kepada Allah itu laksana syair lagu karya Jacqueline van der Waals ini: ”Dengan Bapa aku maju dalam malam yang kelam ke neg’ri yang tak kutahu dengan mata terpejam” (Kidung Jemaat 416:4). Tak hanya keberanian, perlu juga ketulusan di sini.

Tulus berarti tiada prasangka dan tetap percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Sehingga akhirnya, kita boleh membuktikan akta iman Daud di akhir mazmur ini: orang yang tulus akan memandang wajah Allah.

Agaknya, itu juga sikap yang perlu kita kembangkan dalam menjalani pandemi Covid-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:

Tinggalkan Balasan