Posted on Tinggalkan komentar

Mulutku Tidak Terlanjur

”Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku” (Mzm. 17:6). Syair Daud ini sungguh masuk akal. Dia berseru karena tahu Allah akan menjawabnya.

Ya, buat apa bicara dengan seseorang kalau kita ragu apakah dia akan menanggapi atau tidak. Tindakan itu—menurut Kitab Pengkhotbah—bagai menjaring angin saja. Sia-sia. Kepercayaan seperti itulah yang membuat Daud percaya diri meminta kepada Allah untuk memperhatikan kata-kata-Nya.

Mengapa Daud sampai pada pemahaman seperti itu? Menarik dicermati dalam ayat 3, Daud dengan berani menyatakan: ”Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur.” Di hadapan Allah—Sang Mahatahu—anak Isai itu yakin bahwa Allah tidak akan menemui satu kesalahan pun. Hatinya tulus ikhlas. Perkataan Daud selaras dengan pikirannya.

Mungkin mentalitas macam beginilah yang perlu kita kembangkan dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini. Bersih hati, bersih pikiran, bersih perkataan. Artinya, tidak ada kata terlontar dari mulut—juga jari dalam era digital ini—yang tak dipikirkan masak-masak. Semua serbabersih.

Berkait dengan Covid-19 ini, kita bisa menyaksikan begitu banyak hoaks yang mampir di gawai kita. Dan tak jarang terjadi, kita pun ikut berkomentar tanpa pikir panjang. Yang akhirnya membuat hubungan antarinsan menjadi berantakan.

Kelihatannya dampak baik dari Covid-19 ini adalah tersedianya cukup banyak waktu bagi kita untuk mencuci hati dan pikiran agar mampu mengeluarkan kata-kata yang bersih baik melalui mulut maupun jari.

Sehingga, bersama dengan Daud kita bisa percaya diri memohon, ”Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” (Mzm. 17:8). Percayalah!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:

Tinggalkan Balasan