Posted on Tinggalkan komentar

Mulut Serong

(Ams. 6:12-15)

”Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong, yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.”

Penulis Kitab Amsal menilai penipuan atau berita hoaks itu sia-sia, bahkan jahat. Presiden keempat Indonesia pernah mengalaminya. Dia dijatuhkan dari kursi kepresidenan karena dianggap terlibat dalam skandal kasus Buloggate. Namun, setelah Gus Dur tak lagi menjadi presiden skandal itu pun lenyap tanpa bekas.

Menariknya, Gus Dur legawa menerima semuanya itu. Tak ada pembelaan sama sekali. Bahkan, dia juga tidak mengerahkan para pengikutnya untuk membelanya. Kayaknya pribadi yang pernah melontarkan ungkapan ”Tuhan tak perlu dibela”; enggan minta dukungan. Dan sedikit banyak itulah yang menyelamatkan Indonesia dari konflik horizontal masa itu.

Tipuan, muslihat, hoaks, kongkalikong merupakan kejahatan semata. Dan upahnya adalah kebinasaan. Tak hanya di dunia nanti, juga kini. Kita punya peribahasa: ”sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya.” Artinya: sekali ketahuan berdusta, seumur hidup orang akan menganggap kita pendusta, meski kita sudah tidak berdusta lagi. Tak mudah memang mendapatkan kembali kepercayaan orang.

Pada Hari Reformasi ini kita diingatkan kembali untuk menjaga mulut kita.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Alexander K

Bagikan:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.