Posted on Tinggalkan komentar

Mujur dan Malang

(Pengkhotbah 7:10-14)

”Janganlah mengatakan: ’Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?’” Demikianlah nasihat sang pemikir dalam ayat 10. Itu jugalah yang sering dikatakan banyak orang kala membandingkan masa lalu dan masa kini. Dan konten viral gambar Pak Harto yang sedang tersenyum bertuliskan ”Isih penak jamanku to?” seakan ikut menegaskan pendapat umum tadi.

Masa lalu biasanya memang terlihat lebih menyenangkan ketimbang masa kini. Mungkin karena kesulitan masa lalu sudah tak lagi kita rasakan. Kenangan sepahit apa pun memang tak lagi kita rasakan. Yang tinggal hanya romantisnya. Dan menurut sang pemikir, manusia perlu hikmat berkait dengan menilai zaman.

Selanjutnya, sang pemikir memberikan nasihat praktis dalam ayat 14 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Jadi, bergembiralah jika engkau sedang mujur. Tetapi kalau engkau ditimpa bencana, jangan lupa bahwa Allah memberikan kedua-duanya. Kita tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.”

Sang pemikir mengajak kita untuk bergembira ketika mujur, tetapi jangan terlalu gembira karena kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ketika ditimpa bencana boleh bersedih, tetapi juga jangan terlalu sedih karena kemungkinan kesenangan tiba sebentar lagi.

Intinya adalah hidup seimbang, moderat, jangan ekstrem! Sebab Allah senantiasa menyertai baik dalam saat mujur, apalagi malang.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan