Posted on Tinggalkan komentar

Mengejar Hikmat

(Pengkhotbah 7:23–8:1)

Berkait dengan pencarian hikmat, dalam Pengkhotbah 7:23, sang pemikir mengakui: ”’Aku hendak memperoleh hikmat,’ tetapi hikmat itu jauh dari padaku.” Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Namun semakin kucari hikmat itu, semakin jauh ia daripadaku.” Kesimpulan sang pemikir logis. Itu pulalah yang terjadi dalam dunia manusia.

Sejatinya semua pencarian yang berorientasi pada apa yang dicari—dan berdasarkan kemanusiaan belaka—akan berujung pada rasa kecewa. Mengapa? Sebab kemanusiaan sering membuat manusia tak pernah merasa cukup. Rasa tak akan pernah berhenti untuk mencari lebih. Dan akhirnya manusia menjadi capek sendiri.

Padahal, inilah kesimpulan sang pemikir pada ayat 29 dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Allah membuat kita sederhana dan biasa. Tetapi kita sendirilah yang membuat diri kita rumit dan berbelit-belit.” Memang di sinilah persoalan terbesar manusia. Yang sederhana malah dibuat rumit. Mungkin ini disebabkan natur manusia yang hendak memberi kesan bahwa dia memang lebih hebat dari segala.

Karena itu, pentinglah kita pun mendasarkan semua pencarian itu pada Yang Ilahi. Yang membuat kita pada akhirnya bisa berkata sebagaimana sang pemikir pada akhir perikop ini: ”Hikmat manusia menjadikan wajahnya bercahaya dan berubahlah kekerasan wajahnya.”

Ya, pencarian hikmat yang berdasarkan Allah akan membuat wajah manusia menjadi cerah. Sebab manusia telah belajar mencukupi dirinya dengan anugerah Allah sendiri. Itulah hal terpenting dalam hidup manusia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan