Posted on Tinggalkan komentar

Mengapa, ya Allah…?

”Mengapa, ya Allah, Kaubuang kami untuk seterusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-Mu?” Demikianlah Asaf memulai Nyanyian Pengajarannya dalam Mazmur 74.

Mengapa? Itulah pertanyaan Asaf. Kata ”mengapa” menuntut sebuah penjelasan. Ketika kesulitan hidup tak kunjung selesai, pemazmur pun bertanya mengapa. Ya, mengapa Allah murka dengan membawa bangsa pilihan-Nya dalam kesulitan hidup? Orang Israel percaya bahwa jika mereka kalah dalam pertempuran itu berarti Allah yang mengizinkan mereka merasakan kekalahan. Dan persoalannya adalah kok, ya kalah terus!

Pada ayat 2 Asaf memohon, ”Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala, yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami.” Asaf mengingatkan Allah bahwa Israel adalah umat tebusan-Nya.

Dan Asaf juga mengingatkan Allah bahwa musuh mereka sejatinya adalah musuh Allah sendiri. ”Musuh-musuh-Mu berteriak-teriak di Rumah-Mu, dan mendirikan panji-panji kemenangan di situ. Mereka seperti penebang kayu yang mengayunkan kapaknya, untuk menebang pohon-pohon di hutan. Semua ukiran kayu mereka hancurkan dengan kapak dan palu. Mereka membakar Rumah-Mu sampai musnah; dan menajiskan tempat Engkau disembah” (Mzm. 74:4-8, BIMK). Dan karena itulah, Asaf, memohon dalam ayat 10: ” Berapa lama lagi, ya Allah, lawan itu mencela, dan musuh menista nama-Mu terus-menerus?”

Selanjutnya, dalam ayat 22, Asaf berkata, ”Bangunlah, ya Allah, lakukanlah perjuangan-Mu!” Asaf menjadikan perjuangannya sebagai perjuangan Allah. Dan karena itu adalah perjuangan Allah, maka tak salah Asaf terus memohon kepada Allah.

Bagaimana dengan kita? Jangan berjuang sendirian. Ubahlah perjuangan kita menjadi perjuangan Allah juga. Dan tetaplah berharap pada rahmat-Nya, juga di tengah pandemi COVID-19 ini.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan