Posted on Tinggalkan komentar

Mengapa Kau Tinggalkan Aku?

Dalam Mazmur 22—tanpa basa-basi—Daud langsung berseru di awal syairnya: ”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.”

Sepertinya Daud tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Dia merasa seruannya tak diindahkan Allah. Dia merasa ditinggalkan. Daud percaya Allah pasti mendengarkan keluhannya. Hanya persoalannya, Daud merasa Allah tetap jauh dan tidak memberikan pertolongan. Allah tetap menjaga jarak dan tak segara menolong-Nya.

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam diri Daud. Namun, perasaan ditinggalkan memang menyesakkan. Apalagi ditinggalkan oleh Pribadi yang sungguh kita harapkan dan andalkan. Dan kita tahu kalimat yang sama pernah diteriakkan oleh Yesus Orang Nazaret dari atas kayu salib.

Bisa jadi sekarang ini ada di antara kita juga merasakan hal yang sama. Atau, kita menjadi saksi mata ada orang-orang yang kita kenal merasa ditinggalkan Allah karena telah menjadi korban pandemi Covid-19. Jika memang demikian, baiklah bersama dengan Daud kita berseru sekali lagi, ”Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!” (Mzm. 22:20).

Mengapa? Sebab kita tahu hanya Allahlah sumber pertolongan kita. Kalau enggak kepada Dia, mau minta tolong siapa lagi? Atau, kita bisa lirih berkata, sebagaimana pamungkas puisi ”Doa” Chairil Anwar, ”Tuhanku, di pintu-Mu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling.”

Meski Allah terasa jauh, janganlah berhenti berseru. Sebab kita tahu, Dialah Satu-satunya Andalan kita. Satu-satunya Penyelamat kita. Tetaplah percaya!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:

Tinggalkan Balasan