Posted on Tinggalkan komentar

Menaati Atasan

(Pengkhotbah 6:10-12)

Sang pemikir dalam Pengkhotbah 6:10, Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, menyatakan: ”Kita tahu bahwa manusia tidak dapat membantah orang yang lebih kuat daripada dia. Semakin lama ia membantah, semakin tidak berarti kata-katanya, malahan ia tidak mendapat keuntungan apa-apa.”

Pernyataannya sungguh masuk akal. Yang paling aman adalah menaati atasan kita. Mengapa? Sebagai atasan tentu tanggung jawabnya lebih besar dari kita. Bahkan, pekerjaan kita pun menjadi tanggung jawabnya. Jika kita salah, maka atasan kita harus bertanggung jawab karena dia telah memercayai kita melaksanakan pekerjaan itu.

Akan tetapi, apakah kita tidak boleh mengutarakan pendapat kita? Tentu boleh. Namun, yang harus terus diperhatikan adalah atasanlah yang akan bertanggung jawab. Sehingga, kita tidak perlu memperlihatkan bahwa kita lebih hebat. Itu sungguh tidak perlu; dan memang tidak mungkin. Sebab, kalau memang kita lebih hebat, pastilah kita yang menjadi atasan bukan?

Pada titik ini ketulusan menjadi kunci. Perlihatkanlah bahwa kita mengutarakan pendapat karena hormat dan taat kepadanya. Kita ingin menjaga kehormatannya. Jadi bukan untuk membuktikan bahwa kita lebih pintar dari dirinya. Dan jangan lupa, aturkanlah dengan santun. Cara yang buruk sering menutupi pendapat yang baik.

Jika atasan kita tetap pada pendiriannya. Tak perlu gusar. Ingat aturan awal tadi, bagaimanapun, dialah yang menanggungjawabi semuanya, juga pekerjaan-pekerjaan kita. Namun, jika atasan setuju, tak perlu juga besar kepala. Sebab dia telah mengambil risiko memercayai dan menggunakan pendapat kita. Hanya dengan cara beginilah, kita akan bisa menjadi atasan suatu kali.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan