Posted on Tinggalkan komentar

Memelihara Hikmat Allah

(Ams. 3:1-2)

”Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.” Demikianlah nasihat penulis Kitab Amsal.

Menarik disimak bahwa penulis mengaitkan antara memelihara hikmat Allah dan umur panjang. Bahkan, menyatakan bahwa memelihara hikmat Allah menyebabkan hidup manusia menjadi lebih sejahtera. Bagaimana dia sampai pada kesimpulan macam begitu?

Mungkin penjelasannya bisa begini. Sejatinya manusia normal selalu ingin melakukan apa yang baik, yang benar, juga yang tepat. Ketika itu tidak dijalani, maka dalam hatinya akan muncul perasaan bersalah. Merasa bersalah karena menyadari sudah tak lagi berada dalam rel Ilahi.

Perasaan bersalah itu jelas membuatnya tak lagi sejahtera. Karena selalu dibayangi ketakutan—takut diketahui orang lain. Mungkin agak absurd juga pemikiran ini, kadang manusia merasa aman-aman saja—juga nyaman—ketika kejahatannya cuma diketahui Allah.

Rasa takut itu sering kali membuat manusia tak lagi mampu menikmati hidupnya. Ya, itu tadi, karena takut ketahuan. Sejatinya orang macam begini, meski masih hidup, sebenarnya tak lagi merasa hidup. Tak ubahnya seperti orang mati saja. Apa enaknya menjalani hidup macam begini.

Sebaliknya, ketika manusia hidup dalam rel Ilahi (seturut dengan kehendak Allah), dia akan merasa lebih relaks. Tak ada yang perlu ditutup-tutupi, baik di hadapan manusia, apalagi Allah. Dan kehidupan semacam ini tak hanya dia rasakan di bumi, juga di surga. Di sanalah dia merasakan umur yang sungguh-sungguh panjang.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan