Posted on Tinggalkan komentar

Melelahkan Badan

(Pengkhotbah 12:12)

Meski pada bagian sebelumnya penulis menekankan pentingnya penerbitan, namun dalam ayat 12, pernyataannya bernada minor: ”Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.”

Kelihatannya, sama seperti sebelumnya, sang pemikir selalu mengajak pembacanya memikirkan kemungkinan negatif dari semua hal yang tampak serbapositif. Yang kadang membuat kita—orang percaya abad XXI—bingung. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera: ”Anakku, tentang satu hal engkau harus waspada. Penulisan buku tak ada akhirnya, dan terlalu banyak belajar melelahkan jiwa dan raga.”

Sepertinya sang pemikir hendak mengingatkan hakikat ilmu pengetahuan—ilmu tak hanya untuk ilmu itu sendiri. Ilmu itu harus bisa dipraktikkan dan berguna bagi masyarakat luas. Itu juga persoalan para cendekiawan yang getol mengembangkan ilmu pengetahuan, namun lupa memikirkan penerapannya dalam masyarakat. Kalau memang demikian, bagi sang pemikir itu memang tak ada artinya, dan hanya melelahkan badan saja.

Dengan kata lain, seorang ilmuwan tak boleh menjadi pecandu riset. Atau, seorang penulis harus sungguh-sungguh signifikan (penting dan bermakna) bagi diri dan kehidupan pembaca. Jadi, bukan sekadar unjuk kebolehan, apalagi uang.

Pada titik ini sang pemikir agaknya juga mengingatkan pentingnya hidup seimbang. Hidup tak hanya diisi oleh belajar, namun juga perlu diselingi dengan bermain. Bagaimanapun kita juga homo ludens ’manusia bermain’. Itu berarti kita tahu, kapan waktu belajar dan kapan waktu bermain! Hidup memang harus seimbang!

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Debby Hudson

Bagikan:

Tinggalkan Balasan