Posted on Tinggalkan komentar

Keteladanan

(Pengkhotbah 5:7-8)

”Kalau engkau melihat dalam suatu daerah orang miskin ditindas dan hukum serta keadilan diperkosa, janganlah heran akan perkara itu, karena pejabat tinggi yang satu mengawasi yang lain, begitu pula pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka. Suatu keuntungan bagi negara dalam keadaan demikian ialah, kalau rajanya dihormati di daerah itu.”

Kesimpulan sang pemikir menarik disimak. Awalnya dia mengatakan bahwa penindasan merupakan hal yang lumrah terjadi. Pelanggaran aturan juga perkara biasa. Tak hanya di Israel, juga di Indonesia pada masa kini. Bahkan ada anggapan: aturan ada untuk dilanggar. Tak sedikit penasihat hukum yang mencari celah hukum untuk melindungi kesalahan kliennya.

Namun, harapan selalu ada. Sang pemikir mengatakan bahwa semua kejahatan relatif akan hilang jika rajanya dihormati. Kenyataan itu akan membuat orang sungkan untuk melakukan kejahatan. Pada titik ini keteladanan sang pemimpin tertinggi merupakan harga mati.

Pemimpin yang tidak menjadi teladan akan menyebabkan kehancuran bangsa yang dipimpinnya. ”Sebagaimana ikan,” mengutip Cicero, ”pembusukan mulai dari kepala.” Sebaliknya, keadaan suatu bangsa yang sungguh buruk akan cepat menjadi baik ketika terpilih pemimpin yang layak diteladan.

Nah, berkait kepemimpinan, setiap keluarga Indonesia dipanggil menjadi pemasok para pemimpin yang layak diteladan. Dan itu hanya mungkin tatkala setiap orang tua berupaya sungguh-sungguh menjadi teladan bagi anak-anaknya.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan