Posted on Tinggalkan komentar

Fakta atau Hoaks?

(Ayb. 22:1-10)

”Apakah manusia berguna bagi Allah? Tidak, orang yang berakal budi hanya berguna bagi dirinya sendiri. Apakah ada manfaatnya bagi Yang Mahakuasa, kalau engkau benar, atau keuntungannya, kalau engkau hidup saleh?” (Ayb. 22:2-3).

Pertanyaan Elifas kepada Ayub ini memperlihatkan betapa berbedanya antara Allah dan manusia. Yang satu pencipta, yang lain ciptaan. Yang satu mahakuasa, yang lain terbatas. Sebenarnya, kalau mau ditimbang dalam-dalam, manusia tiada gunanya bagi Allah. Apalagi, dengan bermodal kehendak bebas yang dikaruniakan Allah, manusia malah sering memberontak dan mengambil jalannya sendiri. Sehingga jika ditilik dari sudut pandang manusia hampir tak ada faedahnya Allah menciptakan manusia.

Bahkan, Elifas pun menyatakan, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, ”Apakah ada faedahnya bagi Allah, jika engkau melakukan kehendak-Nya? Apakah ada untung bagi-Nya, jika hidupmu sempurna?” Berbuat baik saja tak ada manfaatnya bagi Allah, lebih-lebih jika manusia berbuat jahat.

Dari pembukaan itu, Elifas langsung menyatakan kejahatan Ayub dalam ayat 6-9: ”Karena dengan sewenang-wenang engkau menerima gadai dari saudara-saudaramu, dan merampas pakaian orang-orang yang melarat; orang yang kehausan tidak kauberi minum air, dan orang yang kelaparan tidak kauberi makan, tetapi orang yang kuat, dialah yang memiliki tanah, dan orang yang disegani, dialah yang mendudukinya. Janda-janda kausuruh pergi dengan tangan hampa, dan lengan yatim piatu kauremukkan.”

Pertanyaan yang layak kita, pembaca abad XXI, ajukan: pernyataan Elifas ini fakta atau hoaks? Jika fakta, tentu saja bertolak belakang dengan catatan penulis mengenai Ayub dalam pembukaan kitabnya: ”Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”

Jika hoaks, ngeri sekali tindakan Elifas ini. Demi membela pendapatnya sendiri—mengenai keadilan Allah bahwa orang baik diberkati dan orang jahat dihukum—ia tega membuat berita bohong tentang sahabatnya. Dan semoga kita tidak berada di jalan yang sama dengan Elifas.

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.