Posted on Tinggalkan komentar

Dipegang Allah

Di awal Mazmur 139, Daud mengakui: ”TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.”

Daud memahami bahwa Allah itu Mahatahu. Dan yang juga penting adalah—dalam ayat 5 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini—”Engkau mengelilingi aku dari segala penjuru, dan Kaulindungi aku dengan kuasa-Mu.” Allah adalah Pribadi yang menjaga dan melindungi. Sehingga, dalam akhir bait pertama Daud mengaku: ”Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.”

Selanjutnya Daud menyatakan bahwa Allah itu Mahahadir. ”Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.” Tak sekadar hadir, yang sungguh penting Allah menuntun dan memegangnya.

Dipegang Allah tentu berbeda dengan memegang Allah. Kenyataannya tangan kita sering tak terlalu kuat untuk memegang-Nya. Apalagi jika situasi dan kondisi dunia berubah. Namun, dipegang Allah menyiratkan kepastian dan keamanan. Sehingga bersama Daud kita pun boleh berujar, ”Jika aku berkata: ’Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,’ maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.”

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Jackson David

Bagikan:

Tinggalkan Balasan