Posted on Tinggalkan komentar

Beperkara dengan Allah

(Ayb. 13:7-16)

”Sudikah kamu berbohong untuk Allah, sudikah kamu mengucapkan dusta untuk Dia? Apakah kamu mau memihak Allah, berbantah untuk membela Dia? Apakah baik, kalau Ia memeriksa kamu? Dapatkah kamu menipu Dia seperti menipu manusia? Kamu akan dihukum-Nya dengan keras, jikalau kamu diam-diam memihak.” (Ayb. 13:7-10).

Demikianlah tantangan sekaligus peringatan keras Ayub kepada para sahabatnya. Ayub tampaknya tahu bahwa di dalam hati kecil para sahabatnya ada keyakinan bahwa Ayub memang tak bersalah. Namun, mereka juga tak paham mengapa Allah tidak menolong Ayub. Allah seakan membiarkan Ayub menanggung semuanya itu. Sehingga timbul kecurigaan dalam hati mereka, jangan-jangan pengenalan mereka terhadap Ayub selama ini semu belaka. Bisa jadi ada sisi buruk Ayub yang selama ini sengaja disembunyikan, sehingga Allah menghukum dia.

Sekali lagi Ayub memperingatkan para sahabatnya untuk jujur. Jangan sampai demi membela Allah, mereka malah berdusta di hadapan Allah. Dengan kata lain, Ayub hendak menegaskan bahwa Allah tak perlu dibela. Aneh rasanya membela Sang Maha Kuasa. Dengan berani Ayub menegur para sahabatnya dalam ayat 12 Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini: ”Segala nasihatmu seperti debu yang tak berfaedah; pembelaanmu seperti tanah lempung yang mudah pecah.”

Untuk dirinya sendiri Ayub meneguhkan hatinya: ”Sebab itu diamlah, biarlah aku bicara! Aku tak peduli bagaimana pun akibatnya! Aku siap mempertaruhkan nyawa! Aku nekad sebab sudah putus asa! Jika Allah hendak membunuhku, aku berserah saja, namun akan kubela kelakuanku di hadapan-Nya. Mungkin karena keberanianku itu aku selamat, sebab orang jahat tak akan berani menghadap Allah!” (Ayb. 13:13-16, BIMK).

Ayub tak lagi peduli akan nasibnya. Bisa jadi karena dalam ukuran manusia dia memang dalam keadaan yang paling buruk. Tidak ada keadaan yang lebih buruk dari itu. Dia siap mempertaruhkan nyawanya. Tak ada harapan lagi karena dia merasa Allah memang tak lagi peduli dengannya.

Namun, Ayub merasa perlu untuk beperkara dengan Allah. Dia ingin membela kelakuannya di hadapan Allah. Mungkin saja keberanian itu malah menyelamatkannya karena tak ada orang jahat yang membela dirinya terus terang di hadapan Allah.

Ayub siap beperkara dengan Allah. Bagaimana dengan kita?

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *