Posted on Tinggalkan komentar

Karunia Kehilangan

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering diperhadapkan dengan kisah kehidupan yang tragis. Seperti di negara-negara yang masih mengalami konflik perang, di mana anak-anak sering kali menjadi korban. Saat melihat hal itu, timbul pertanyaan: seberapa besar harapan kita untuk memercayai kasih Allah?

Mark Yaconelli dalam buku Karunia Penderitaan: Menemukan Allah dalam Situasi Sulit dan Mencekam, menjelaskan bahwa kita menjadi penuh pengharapan ketika kita berada dalam kegelapan dan menunggu cahaya. Kita dapat berharap ketika kita bersikap jujur satu sama lain tentang rasa sakit kita dan kemudian menunggu, bersama, agar Allah menunjukkan jalan kepada kita menuju penyembuhan.

Masing-masing dari kita ingin menghindari kesedihan, bukan hanya karena kita ingin menjaga diri kita aman dari rasa sakit karena kehilangan, tetapi juga karena kita tidak ingin jatuh ke dalam keputusasaan karena ketidakberartian. Namun, Elisabeth Kübler-Ross, seorang psikiater Amerika berkata, ”Kehilangan adalah guru yang hebat.” Tanpa kesediaan untuk menghadapi kehilangan, kita tidak akan belajar apa-apa.

Kita bersembunyi dari orang lain. Kita melakukan kesalahan yang sama berkali-kali. Kita menjadi mati rasa terhadap penderitaan. Kita kehilangan kapasitas untuk berbelaskasihan dan bersukacita. Kita membentengi hati kita terhadap kehadiran Allah—Tuhan Yesus, Allah yang menderita, Allah yang menangis, dan Allah yang tertawa.

Jika kita ingin membawa pengharapan bagi yang terluka dan sekarat di dunia ini, maka kita harus mau masuk ke dalam penderitaan, seperti teladan Tuhan Yesus. Kita harus jujur tentang penderitaan kita sendiri, luka kita sendiri, kesedihan kita sendiri, serta penderitaan yang ada di dunia.

Ketika jiwa kita sudah siap, kita akan merasakan tangan Sang Penahan Kepedihan, Sang Pemberi Hidup, Yang Penuh Belas Kasihan, datang untuk menolong kita, membantu kita menanggung beban itu.

Rycko Indrawan

Literatur Perkantas Nasional

Bagikan:

Tinggalkan Balasan