Posted on Tinggalkan komentar

Anomali

(Pengkhotbah 9:11-12)

Berdasarkan pengamatan yang teliti, dalam ayat 11, sang pemikir menyatakan: ”Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.”

Sang pemikir memperlihatkan beberapa anomali bahwa, dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini tertera, ”perlombaan tidak selalu dimenangkan oleh pelari cepat, pertempuran tidak selalu dimenangkan oleh orang yang kuat. Orang bijaksana tidak selalu mendapat mata pencaharian. Dan orang cerdas tidak selalu memperoleh kekayaan. Juga para ahli tidak selalu menjadi terkenal. Sebab siapa saja bisa ditimpa nasib sial.”

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini, sang pemikir memperhitungkan nasib sial dalam pernyataannya. Itu berarti ada pula yang bernasib mujur. Dengan kata lain ada faktor untung-untungan dalam hidup ini. Benarkah pernyataan sang pemikir ini?

Jawabannya, tentu ada benarnya. Akan tetapi, tidak seluruhnya benar. Kita bisa menyebutnya sebagai anomali, yang menurut KBBI artinya adalah tidak seperti yang pernah ada atau penyimpangan dari yang sudah ada.

Dan karena itu, manusia tak perlu terlalu berharap adanya anomali. Seorang atlet lari ya harus latihan. Yang latihan keras saja belum tentu menang, apalagi yang enggak pernah latihan. Dan masuk gelanggang tanpa latihan sama saja dengan bunuh diri.

Yang paling bijak bagi seorang atlet adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, mengikuti pertandingan seturut aturan, dan menyerahkan hasil pertandingan pada rahmat Allah belaka. Yang macam begini tidak akan pernah sia-sia.

SMaNGaT,

Yoel M. Indrasmoro
Literatur Perkantas Nasional

Foto: Istimewa

Bagikan:

Tinggalkan Balasan